Amudra memandang lekat-lekat laki-laki itu, di setiap perubahan raut muka, gerakan bibirnya, pada semua bahasa tubuhnya saat bercerita. Entah kenapa Amudra seperti terbius dengan kisah yang dituturkan laki-laki itu. Dia seorang pencerita yang handal, yang mampu berkisah tanpa meninggalkan detil-detil yang diharapkan pendengarnya. Saat Amudra hendak menanyakan sesuatu, tak butuh lama dia sudah menceritakannya.
“Iya, dia memang sepemberani itu. Tidak, tidak ada orang yang melindungi dia atau menjaga dia. Itu murni keluar dari nurani dan dia murni lantang menyuarakannya. Kadang aku juga bertanya-tanya, dia mendapatkan energi dari mana,” kata Zhang, bahkan saat Amudra belum bertanya.
Zhang merogoh kantong jaketnya, lalu mengeluarkan sebungkus rokok, “Kalau kamu tidak keberatan, kita lanjutkan ngobrol di luar biar aku bisa merokok. This is so good,” kata Zhang menunjukkan sebatang rokok kretek Gudang Garamnya. Amudra mengangguk cepat, lalu keduanya beranjak dari lobi hotel, keluar menuju ke kursi-kursi di area samping Dong Fang Hotel yang tersedia untuk mereka yang ingin merokok.
Itu pertemuan kedua Amudra dengan Zhang Bingwen. Laki-laki itu berkisah seperti tengah menumpahkan ribuan kata yang diendapkannya bertahun-tahun menunggu orang yang tepat untuk mendengarkan. Amudra sepertinya adalah orang itu.
“Aku ingat sekali, hari itu tanggal 12 Mei 1998 ... aku menunggu kabarnya karena dia masih bertahan di kampus. Aku ingat aku menjemputnya sekitar jam delapan malam. Mood-nya berantakan sekali saat kujemput, sebelum kemudian dia cerita semua tentang apa yang terjadi di sekretariat Paramasastra,” ujar Zhang.
Solo, 12 Mei 1998
Hari menjelang Maghrib. Kampus mulai sepi dari mahasiswa. Lampu-lampu di kampus pun mulai menyala. Perkuliahan paling akhir biasanya sampai pukul 17.00 WIB. Tetapi aktivitas di kampus bisa sampai malam, meskipun tak banyak. Mereka yang masih bertahan di kampus sampai malam biasanya adalah mahasiswa-mahasiswa yang mengikuti unit kegiatan mahasiswa, seperti pecinta alam yang anggotanya nyaris selalu nongkrong di sekretariat sampai malam. Tak jarang ada yang menjadikan sekretariat sebagai pengganti kos-kosan mereka, termasuk tidur dan mandi di kampus.
Sore itu Rasri masih bertahan di kampus karena dia dan sebagian anggota Paramasastra sedang mempersiapkan aksi lanjutan untuk esok hari. Saiful dan Arini keluar untuk membeli logistik berupa air mineral untuk besok. Rasri baru saja selesai makan di luar kampus dengan Billy setelah sebelumnya memfotokopi selebaran untuk aksi besok. Setelah diantarkan Billy ke kampus, gadis itu berencana untuk kembali ke sekretariat Paramasastra untuk bertemu dengan kawan-kawannya sebelum pulang. Tapi pertemuannya dengan Billy membuat gadis itu punya kegundahan. Ini terkait pertemuan Bodot dengan Billy di toko besi milik pacarnya itu, serta obrolan-obrolan mereka. Sejujurnya hal itu membuat Rasri geram dan ingin segera mencari tahu apa sebenarnya tujuan Bodot ngomong macam-macam ke Billy.
Rasri membuka pintu sekretariat Paramasastra dengan dorongan agak keras. Seperti yang sudah dia duga, Bodot ada di sana. Dengan cepat Rasri merangsek masuk, menggebrak meja di depan Bodot. Cowok itu terkejut, namun tak berbuat banyak. Rasri menunjuk muka Bodot dengan telunjuk kanannya. Ujung jarinya hanya sekitar 6 cm tepat di depan hidung di antara kedua bola mata Bodot. Gigi Rasri bergemeretak.
“Kamu ... jangan pernah lagi datangi Billy dan mengeluarkan ancaman-ancamanmu. Kalau kamu jantan, hadapi aku, katakan semua di depanku. Atau kamu pecundang yang menyusup di gerakan ini? Kamukah itu?” Rasri menatap tajam. Mendadak diserang begitu Bodot terlihat kaget dan gelagepan.
“Dot, apa sih sebenarnya masalahmu? Kenapa aku selalu kamu recoki? Kamu merasa insecure dengan yuniormu ini? Atau kamu punya hidden agenda?” tuding Rasri dengan suara tidak tinggi tapi dengan tegas dan intonasi jelas. Mata Rasri tak berkedip menatap Bodot.
“Kamu ngomong apa, sih? Ngaco banget,” Bodot balik membentak Rasri. Tapi gadis itu bergeming. Telunjuknya masih di depan muka Bodot.
“Ngomong apa, ngomong apa? Kamu yang ngomong apa kemarin ke Billy? Kamu sengaja kan nyamperin Billy? Alasan pakai beli kuas. Kamu pengen aku mundur? Kamu pengen menggembosi perjuangan ini? Kamu penyusup itu? Kamu double agent itu? Ayo jujur sama aku, sebelum kawan-kawan tahu dan kamu bakal habis!”
Bodot menepis jari Rasri cepat, lalu berdiri. Rasri merangsek mengikuti arah Bodot. Meskipun tubuhnya tak sebesar Bodot, tapi nyali Rasri mungkin seratus kali lipat dari nyali cowok itu. Ditariknya kerah kemeja Bodot, sehingga cowok itu terhuyung ke depan.
“Mau kamu apa?” teriak Bodot. Cowok itu kikuk, karena tak mungkin melawan Rasri yang seorang cewek.
“Siapa yang bayar kamu? Siapaaa?” gertak Rasri.
Bodot akhirnya mendorong Rasri yang membuat gadis itu terhuyung ke belakang. Tangan Bodot sudah naik ke atas, namun tiba-tiba dari arah pintu muncul Arini dan Saiful. Saiful yang cepat membaca situasi langsung merangkul Bodot dan mengajak cowok itu menjauh dari Rasri. Sementara Arini langsung menarik Rasri ke arah pintu.
“Hei ... hei ... sudah. Cukup ya. Ini tidak produktif bagi perjuangan kita. Ada yang jauh lebih penting hari ini. Cukup, cukup! Ada kawan kita yang tewas di Jakarta,” kata Saiful keras. Kalimat terakhir Saiful terbukti mampu meredakan ketegangan antara Rasri dan Bodot. Ruangan senyap seketika. Rasri menatap lekat-lekat ke arah Saiful. Emosinya mulai turun, namun raut wajah syok terpancar.
“Kamu ... kamu serius?” Rasri seolah tak percaya dengan berita yang baru saja dia dengar. Rasri memandang ke arah Arini, yang disambut dengan anggukan gadis itu.
“Di televisi belum terkonfirmasi berita itu. Tapi tadi aku sudah mendapatkan berita dari kawan di Jakarta. Demo di Gedung Nusantara ricuh. Kawan-kawan kita dari Trisakti ada yang kena,” kata Saiful.