Rahasia Rasri

Ariyanto
Chapter #8

Kukuh

Dong Fang Hotel, Guangzhou, 15 Februari 2023

“Wajah kamu serupa dia. Terutama mata kamu. Sejak pertama kita bertemu, aku tahu kita membicarakan sosok wanita yang sama-sama kita cintai. Kemarin kita belum menyepakati sesuatu, apakah benar kamu anak Rasri?” tanya Zhang.

Amudra memandang Zhang, lalu mengangguk perlahan, “Ya, sepertinya dari awal aku sudah sempat sedikit bertanya apakah kamu akan bercerita tentang wanita yang merupakan Ibu kandungku? Tapi, waktu itu kamu melanjutkan dengan nyerocos bercerita tentang wanita yang kamu kagumi itu, seolah tak boleh dijeda. Sehingga aku tak tahu apakah Rasri dalam ceritamu adalah Rasri Ibuku,” sahut Amudra dengan nada sinis, karena bahkan Zhang tidak pernah bertanya apa tujuan Amudra datang ke Guangzhou.

“Maaf ... maaf kalau aku egois. Aku ... seperti tak mampu menahan diri untuk bercerita tentang Rasri. Maaf kalau itu terdengar egois, mengingat kamu jauh-jauh ke sini untuk mengetahui sejarahmu, sejarah Ibumu,” ujar Zhang dengan nada datar.

Amudra terdiam. Apa yang dikatakan Zhang tak spesifik ke arah “pencarian ayah”, apakah dia berupaya untuk menghindar? Jangan-jangan dia memang seegois itu, ingin mengetahui kabar Rasri, wanita yang pernah dicintainya, tetapi tak mau bertanggung jawab pada bayi yang merupakan darah dagingnya? Lalu setelah mengetahui kabar Rasri apa? Kelegaan yang dicari supaya dia bisa meneruskan hidup dengan lebih baik tanpa ada beban dan tanpa merasa berdosa? Batin Amudra.

“Kamu sudah kemana saja di Guangzhou?” Zhang memecah keheningan.

“Aku ke Guangzhou bukan untuk liburan. Itu bukan tujuanku,” jawab Amudra. Terdengar uncalan napas lirih dari Zhang. Laki-laki itu sudah meraba sikap Amudra sedikit agak berbeda, mulai ketus. Dia mengangguk-angguk, sambil memainkan putung rokok yang apinya mati. Tak terlihat keinginan untuk menyalakannya lagi.

“Jadi Billy itu adalah kamu?” selidik Amudra.

“Iya. Zhang Bingwen adalah nama Tionghoa-ku. Tetapi semua keluarga kami memiliki nama Indonesia. Papahku bernama Ming Hao Bingwen, dengan nama Jawa Hartono Sutandyo. Pada masanya, sekitar tahun 1965 saat jaman Orde Baru, keturunan Tionghoa mengganti namanya menjadi lebih Indonesia, bahkan kadang lebih Jawa dari orang Jawa,” tutur Zhang.

Zhang lalu mengisahkan kehidupan ayahnya yang relatif miskin saat tinggal di Lasem, sebuah kecamatan di Kabupaten Rembang, pesisir utara Jawa. Atas ajakan adik Papahnya, mereka pindah di sebuah kampung di Solo bernama Sudiroprajan untuk mengadu nasib. Meskipun memiliki jalur pelayaran, Lasem relatif kecil untuk dijadikan tempat berdagang dan berkembang.

“Di Solo inilah Papah sekeluarga dimasukkan dalam penduduk golongan C, dengan KTP ditandai, serta harus wajib lapor. Pada saat pecah pemberontakan G30S PKI tahun 1965, mereka yang dianggap mendukung Partai Komunis Indonesia dimasukkan ke berbagai golongan. Golongan C adalah golongan yang tidak terlibat secara langsung G30S PKI namun dinilai mendukung PKI. Label ini sangat menakutkan bagi kami dan membuat warga seperti kami mulai memikirkan bagaimana caranya supaya lebih membaur dengan masyarakat, salah satunya dengan tidak menggunakan nama Tionghoa. Generasi terakhir tidak se-Jawa itu namanya, seperti aku yang sudah mulai menggunakan nama Billy yang lebih moderen ... meskipun di belakangnya pakai nama Sutandyo. Sebenarnya keinginan kami hanya satu, hidup tenang tanpa rasa takut dan tanpa ada tekanan,” papar Zhang.

“Kenapa kamu berpacaran dengan gadis keturunan Jawa?” tanya Amudra.

“Hmmm ... kalau aku menggunakan bahasa yang di awang-awang, ya karena cinta tak memandang suku – ras – agama. Cinta melewati batas-batas itu. Klise. Tapi kami kan tumbuh di tahun 1990an, meskipun situasi politik masih tak menentu, tapi Indonesia sudah mulai berubah banyak. Demokrasi mulai berkembang, kampanye anti-SARA juga gencar, orang-orang keturunan Tionghoa bisa hidup berdampingan dengan orang Jawa atau suku apapun. Aku pikir tidak ada masalah itu. Ini semua sudah diatur Tuhan kenapa aku harus pindah ke SMA 2 dan bertemu Rasri, lalu kepincut dengan gadis itu,” Zhang berujar sambil menyunggingkan senyum di ujung kalimat.

“Kamu sangat mencintainya?”

Zhang menoleh ke Amudra, terdiam sesaat sebelum kemudian mengangguk, “Sangat ... aku sangat mencintainya.”

“Tetapi kamu meninggalkannya, hingga akhir hayatnya meninggal dalam kepedihan yang mendalam. Bagaimana mungkin kamu bilang kamu mencintainya? Atau kamu seorang laki-laki pengecut?” kalimat Amudra menohok Zhang.

“Aku akan menceritakan alasanku meninggalkannya kalau kamu mau memberiku kesempatan,” kata Zhang tersenyum kecut.

“Silakan ... “

Lihat selengkapnya