Rahasia Rasri

Ariyanto
Chapter #9

Eksodus

Solo, 13 Mei 1998, pukul 19.30 WIB

Billy pulang dan mendapati Mamahnya tengah berkemas, memasukkan banyak barang ke dalam sebuah koper. Pemuda yang baru saja balik dari toko keluarganya di kawasan Honggowongso itu heran, karena tak pernah mendengar selentingan bahwa Mamahnya akan melakukan perjalanan dalam waktu dekat.

“Papah lagi di tempat Koh Bun, mempersiapkan apa yang dibutuhkan. Kamu mulai berkemas Bil,” kalimat Mamahnya menyambut Billy, yang membuat pemuda itu terkejut.

“Kita mau kemana, Mah? Nggak ada omongan apa-apa, tiba-tiba kok nyuruh berkemas?” Billy mengambil duduk di atas tempat tidur Mamahnya, di mana tergeletak koper. Mamahnya menghentikan aktivitasnya, memandang Billy dengan wajah seperti khawatir.

“Pertemuan keluarga tadi pagi menyepakati, kita akan segera meninggalkan Indonesia. Keluarga di Medan dan Jakarta sudah meninggalkan Indonesia menuju Singapura kemarin malam. Ini mereka meminta kita melakukan hal yang sama, Bil. Situasi tidak kondusif. Sudah ada kabar bahwa ini akan semakin memburuk,” ujar Mamah dengan bibir sedikit bergetar. Billy berdiri, memegang tangan Mamahnya.

“Kabar dari mana, Mah? Kondisi sekarang ini banyak kabar yang nggak bener. Yang penting Mamah dan Papah tenang dan tak keluar dulu. Biar Billy yang urus toko,” ujar Billy menenangkan.

Wanita itu meletakkan sejumlah uang di atas kasur, menatanya dengan rapi sesuai pecahan, lalu dimasukkan ke dalam semacam pouch. “Bank sudah membatasi penarikan uang. Menurutmu apa? Kamu pikir kondisi akan semakin baik? Hari ini Mamah cuma bisa ambil Rp10 juta. Papah juga ambil Rp10 juta. Kakakmu Cyntia sudah Mamah suruh ambil Rp10 juta juga. Maksimal hanya Rp10 juta per orang, Bil. Untung dua bulan lalu Papahmu sudah tarik semua uangnya dan dipindahkan. Sebagian sudah dibelikan emas juga. Surat-surat berharga sudah Mamah rapikan di amplop cokelat dan masukkan ke tas khusus itu,” terang wanita itu. Billy terdiam sesaat.

“Di rekening toko masih ada sekitar Rp50 juta, Mah. Di rekening Mamah Papah masih ada sisa uang?”

“Ada sekitar sisa Rp20 juta. Tapi sudah tidak bisa Mamah tarik atau transfer karena dibatasi. Ya sudah, Bil. Yang penting keselamatan kita,” jawab wanita itu dengan wajah cemas.

Kriiiing ... Kringgggg ... kriiing.

“Itu mungkin Papahmu. Kamu angkat sekarang!”

Billy beringsut cepat keluar dari kamar Mamahnya menuju ke ruang tengah. Tangannya cepat meraih gagang telepon.

“Halo, malem. Dengan Billy.”

“Ini Papah. Kita berangkat besok pagi jam delapan. Kabari Mamah untuk mempersiapkan semua. Papah malam ini pulang sekitar jam sepuluh dianter sopirnya Koh Bun. Kalian jaga diri baik-baik.”

Lihat selengkapnya