Solo, 14 Mei 1998 pukul 06.30 WIB
“Pagi itu adalah pagi yang cerah. Tapi entah kenapa hawanya muram. Seperti butuh kekuatan lebih hanya untuk sekadar menghirup oksigen. Pikiranku kalut, tak tahu harus bagaimana karena pertarungan dalam hatiku luar biasa berat. Aku harus berpisah dengan Mamah Papah dan Cik Cynthia. Mamah sudah nangis-nangis tak karuan saat aku memastikan tak akan ikut rombongan. Mamah memelukku lalu melepaskan, lalu memelukku lagi, melepaskan lagi, entah berapa kali.”
“Kenapa penting bagimu untuk memutuskan tinggal? Apa keluargamu tak berarti lagi?” tanya Amudra.
“Karena aku belum bertemu Rasri. Kamu mungkin belum pernah merasakan arti cinta sejati itu apa. Apapun nanti yang akan aku jalani, aku harus bertemu Rasri dulu. Di sisi lain, aku memahami alasan keluargaku. Waktu kami sepertinya tak banyak. Semalaman informasi berseliweran di lingkungan keluarga kami, bahwa akan terjadi kerusuhan. Telepon rumah tak berhenti berdering,” jawab Zhang lalu bercerita ...
Wanita itu memeluk anak laki-laki satu-satunya dengan airmata membanjiri kedua pipinya. Diciuminya sang anak, dengan banyak doa keluar dari bibirnya. Billy, anak lelaki itu, juga tak mampu menahan tangis. Tetapi dia berkeyakinan, semuanya akan baik-baik saja. Sang Papah giliran memeluk Billy.
“Kamu jangan pikirkan uang yang masih tersisa di bank. Jangan pikirkan harta. Habis ini segera kamu cari paspor kamu sampai ketemu, atau kalau memang tidak ada, segera cari cara untuk mendapatkan paspor baru. Bila itu tidak memungkinkan, bila waktumu tak sempat, kamu pergi keluar kota. Kota kecil akan lebih baik. Kamu bisa ke Klaten, atau menepi ke Karanganyar atau kota lain, jangan ke kota besar. Pergunakan uang yang Papah kasih dengan bijak. Billy paham kan apa yang Papah bilang? Billy harus ikuti saran Papah ini. Ya?” Laki-laki yang hampir seluruh rambutnya beruban itu memegang pundak Billy, menatap lekat-lekat wajah anaknya. Billy mengangguk, yang kemudian direspons Papahnya dengan ciuman di kening.
Pukul 07.00 WIB, Koh Bun sudah muncul dari gerbang. Mereka segera mengikuti Koh Bun dengan masing-masing membawa satu koper saja. Rombongan empat orang itu berjalan ke mulut gang di mana mobil Koh Bun sudah menunggu. Dalam hitungan tak sampai 10 menit, mobil siap bergerak menuju ke Bandara Adi Soemarmo Solo. Billy menatap dengan perasaan berkecamuk hebat.
Paspor itu tidak pernah hilang. Billy memang sengaja berbohong supaya dia bisa menunda keberangakatan. Balik ke rumah, Billy menyiapkan semua hal yang dianggap penting dan memasukkannya dalam satu koper dan satu backpack, meletakkannya di ruang tamu sehingga bila terjadi situasi genting, dia langsung bisa menyambarnya.
Kriiiiiing ... kriiiing ... kriiiing.
Billy beringsut cepat ke arah meja telepon di sudut ruang tengah, “Halo, selamat pagi.”
“Halo, dengan Billy ada?”
“Yah, aku Billy.”
“Billy ini Rasri, bisa antar aku nanti ke Pabelan?”
“Kamu ikut aksi di sana?”
“Iya. Kami akan berkumpul dulu di sekretariat aksi di kampus UMS. Aku minta tolong diantar bisa?”