Distrik Taojin, Guangzhou, 15 Februari 2023
Cuaca mendadak tak bagus hari itu, suhu jatuh di angka 9 derajat Celcius dari sebelumnya kemarin di angka 18 derajat Celcius. Ini berlangsung sejak pagi, sebelum Amudra keluar dari Youth Space Hostel di kawasan Tian He, tempat dia menginap selama di Guangzhou. Amudra bertemu dengan Zhang Bingwen di distrik Taojin. Keduanya sepakat akan makan siang bersama.
Zhang menjajari langkah Amudra menyusuri trotoar yang cukup lebar di kawasan Taojin. Amudra diselimuti perasaan tak jelas, antara nyaman dan kikuk. Seumur hidup tak ada sosok orangtua laki-laki yang terlibat dalam hidup pemuda itu. Seperti momen sederhana berjalan bersama dengan sosok ayah yang dia rasakan kini, adalah momen yang berharga bagi Amudra. Andai saja dia mengenal sosok ayah sejak kecil, mungkin dia akan terbiasa berjalan bersama, diantar ke sekolah, atau sekadar menikmati sore di taman.
Keduanya terus berjalan. Amudra menoleh ke arah Zhang sesekali, kadang mencoba menyelami apa sebenarnya yang ada di benak laki-laki itu. Pandangan Amudra tertangkap mata Zhang. Sebuah senyuman diberikan Zhang kepada pemuda itu.
“What?”
“Ya?” tanya Amudra pura-pura bego, lalu melempar pandang ke arah lain.
“Nevermind. Uhmm ... itu, rumah makan kecil di sudut itu, milik seorang warga muslim. Nasi gorengnya enak. Kamu harus mencoba,” kata Zhang mencoba mengalihkan topik, sambil menunjuk ke sebuah rumah bercat kuning dengan genting merah sekitar 20 meter di depan mereka.
Keduanya masuk ke dalam rumah makan itu. Mereka disambut sepasang suami isteri dan seorang bocah laki-laki yang mungkin berumur sekitar 6 tahunan. Amudra menyapu pandangan ke sekeliling rumah makan itu. Sepi, hanya ada satu orang laki-laki setengah baya yang sedang asyik makan di salah satu meja. Zhang mengambil duduk di meja paling dekat dengan pintu, diikuti oleh Amudra yang duduk di depannya. Zhang lalu memesan makanan kepada laki-laki pemilik rumah makan. Mereka berkomunikasi dengan bahasa China.
“Aku minumnya teh saja,” Amudra membuka omongan. Zhang mengernyitkan dahi lalu tersenyum.
“Ah iya, lupa. Kita tidak memesan minum di rumah makan saat di China,” ralat Amudra. Zhang menunjukkan jempolnya, lalu mengeluarkan satu botol air mineral ukuran kecil dari jaketnya, menyodorkan kepada Amudra. Pemuda itu terdiam. Cara-cara Zhang seolah mengingatkan Amudra pada sosok orangtua laki-laki kepada anak lelakinya.
“Sepi pengunjung. Tapi enak kok. Kita justru nyaman ngobrol. Jadi gimana?” Zhang memecah jeda, seperti bingung mau ngobrol apa lagi.
“Sebelum ... kamu melanjutkan cerita panjang lebar. Aku ... uhmm, ingin bertanya. Aku tak punya banyak waktu, besok malam aku harus terbang ke Kuala Lumpur sebelum kembali ke Indonesia,” Amudra tercekat. Spontan mengambil botol air mineral dari Zhang lalu menenggaknya sedikit.
“Jadi ini hari terakhir kita ketemu?” Zhang terlihat agak kaget.
“Hmm ... semoga tidak. Karena masih banyak hal yang sepertinya akan menjadi urusan kita dan harus diselesaikan. Aku tidak tahu apakah kamu menganggap ini penting atau tidak. Tetapi iya, ini sangat penting bagi aku. Bolehkah sekarang jadi giliranku?"
“Please, go on,” kata Zhang.
“Aku ingin bertanya ... apakah kamu adalah ... ayahku?” Kata terakhir diucapkan Amudra dengan sangat tegas. Ditatapnya kedua mata Zhang lekat-lekat, entah mendapatkan keberanian dari mana.