Pertigaan Pabelan, Kampus UMS, Solo, 14 Mei 1998
Pertigaan kampus UMS di Jalan Ahmad Yani telah ditutup oleh mahasiswa mulai sekitar pukul 09.00 WIB. Dari kelompok mahasiswa dalam jumlah kecil, hingga akhirnya sekitar pukul 10.00 WIB sudah mencapai ratusan. Mereka tak hanya dari kalangan mahasiswa UMS saja, tetapi juga dari kampus-kampus sekitar. Di titik tengah pertigaan itu digelarlah orasi secara pergantian dari perwakilan organisasi mahasiswa yang hadir.
Tragedi Trisakti yang menewaskan empat mahasiswa, telah memantik amarah. Empat orang mahasiswa tampak membawa foto para korban, yaitu Elang Mulia Lesmana, Herli Hertanto, Hafidin Royan, serta Hendrawan Sie. Orasi digelar, nyanyian-nyanyian kesedihan bergantian dilantunkan, monolog kemarahan diujarkan. Para mahasiswa menuntut penembakan atas kawan-kawan mereka di Trisakti diusut tuntas.
Kematian para mahasiswa Trisakti menjadi bahan bakar penyemangat para pengunjuk rasa. Tak sedikit yang terbawa emosi dan berteriak-teriak melontarkan makian. Airmata berurai tampak di wajah mereka seperti histeria. Sejumlah koordinator aksi tampak menarik paksa mahasiswa yang terlihat terlalu emosi untuk menghindari kejadian yang tak diinginkan. Sejumlah mahasiswa tampak berdiri sambil berteriak-teriak, memunculkan aksi serupa di sudut lain.
Rasri berdiri meminta megaphone kepada salah seorang orator. Mengambil posisi di tengah mimbar dari bangku seadanya, lalu mulai berteriak.
“Yang mau reformasi, ayo duduuuk!”
“Yang mau reformasi, ayo duduuuk!” teriak Rasri lantang dengan nada penyemangat.
“Satu komando! Satu perlawanan!” seru Rasri lagi, lalu menyerahkan megaphone ke salah satu koordinator.
Aksi itu kembali berjalan terkendali. Namun hingga siang, semakin banyak mahasiswa yang bergabung, serta mengundang perhatian berbagai elemen masyarakat, hingga warga sekitar. Massa berjubel dan mulai membuat kekhawatiran Rasri, karena bila sudah ada warga di luar mahasiswa, akan susah untuk dikendalikan.
“Tetap terus berorasi menenangkan massa,” kata Rasri kepada Wawan dari UMS. Aksi ini memang aksi gabungan dari berbagai kampus. Dari Paramasastra sendiri dibagi dua kelompok, sebagian mengikuti aksi di UNS, sebagian ke UMS seperti Rasri.
“Coba kau siapkan penampil dari mahasiswa seni. Mungkin dengan lagu-lagu, kita bisa sedikit menenangkan massa,” bisik Gigih dari UMS. Rasri ke belakang cepat, mencari mahasiswa seni yang sebelumnya sudah berkoordinasi dengan mereka.
Setelah sempat terkendali, sorak-sorai massa kembali membahana. Sekarang mulai tak jelas lagi yang mana mahasiswa dan yang mana masyarakat umum. Lebih menakutkan lagi, mungkin ada penyusup. Ini yang paling ditakutkan Rasri dan kawan-kawannya. Rasri mencoba menyibak kerumunan massa di bagian belakang untuk mencari mahasiswa seni. Baru beberapa langkah, sebuah tangan mencengkeram kuat lengan Rasri, yang membuat gadis itu terhuyung agak kebelakang dan menghentikan langkahnya. Rasri menoleh ke belakang, ada Bodot di sana.
Bodot mendekat ke arah Rasri, di tengah tatapan mata tajam dan tak suka dari gadis itu. Bodot mendekat ke arah Rasri, lalu berbisik, “Tarik mundur sebisa mungkin kawan-kawan kita. Ini sudah bahaya. Di Kartasura sudah terjadi pembakaran ban, entah dari mana. Cepat, jangan banyak berpikir,” bisik Bodot.
Rasri menatap tajam ke arah Bodot dan tidak mempercayai omongan cowok itu, “Kami tidak pernah mundur. Kami akan teruskan perlawanan!” bisik Rasri tajam dan tegas.