Rahasia Rasri

Ariyanto
Chapter #13

Siang Jahanam

Solo, 14 Mei 1998

Pukul 12.30 WIB, Billy mondar-mandir di ruang tengah, memikirkan apakah ada yang tertinggal atau tidak. Sejak kabar kerusuhan merebak, Billy langsung menutup toko dan kembali ke rumah. Kabar cepat menyebar, Solo bagian barat mulai terjadi aksi pembakaran toko-toko. Seperti rencana semula, bila terjadi hal-hal yang tak diinginkan, maka dia akan pergi meninggalkan Solo menuju kota terdekat untuk menyelamatkan diri.

Sepertinya tak ada lagi yang tertinggal. Semua surat-surat penting keluarga sudah dibawa Mamahnya, sepertinya tak ada yang tertinggal lagi. Billy ingat pesan Papahnya untuk segera keluar dari Solo menuju ke kota lain. Tetapi di sisi lain, Billy masih ingin menemui Rasri dan mengkhawatirkan keselamatan gadis itu. Telepon rumah kembali berbunyi, Billy menyambar gagang telepon, “Halo, Billy di sini.”

“Billy, ini Papah. Seluruh keluarga sudah berada di Jakarta, sedang berada di bandara sebelum terbang ke Batam. Papah dengar dari teman Papah di Solo, kerusuhan sudah pecah. Billy segera pergi dari Solo. Kenapa kamu masih di rumah? Sudah tinggalkan semua, pergi cepat,” suara dari seberang telepon.

“Iya, Pah. Rusuh di Solo bagian barat. Ini Billy hanya mengambil tas. Billy mau ke Karanganyar. Salam buat Mamah. Billy janji, Billy akan jaga diri baik-baik,” jawab Billy cepat.

“Oke, Billy. Saling mendoakan. Papah mau siap-siap terbang.”

Telepon ditutup. Billy segera bangkit, menyambar ransel yang sudah dia siapkan, lalu menuju pintu keluar. Pemuda itu mengunci pintu rumah, kemudian mematikan meteran listrik yang terletak di sebelah kiri pintu. Mendadak terdengar suara pintu gerbangnya digedor-gedor. Billy terdiam sesaat.

“Siaaapa?” teriak Billy tanpa mau mendekat, khawatir sesuatu akan menimpanya. Pintu kembali digedor-gedor, disertai gerakan diguncang-guncang.

“Iya, siapaa?” teriak Billy lagi.

“Billy cepat bukaaa!” terdengar jawaban dari luar. Billy diam sejenak. Orang di luar gerbang itu pasti orang yang mengenalnya. Tapi siapa? Semua keluarga sudah pergi. Billy tak banyak punya teman dan biasanya hanya keluar dengan sepupu atau kenalan keluarganya. Billy mendekat ke arah gerbang, sebelum membuka kunci gerbang, dia bertanya lagi siapa yang ada di luar.

“Billy, ini Bodot. Buruan buka!”

Billy terkesiap. Bodot bukannya temannya Rasri? Batin Billy. Kok dia bisa tahu rumahku? Ada perlu apa? Jangan-jangan punya niat buruk, pikir Billy lagi.

“Oh, iya. Ada apa, Dot?”

“Billy, kamu harus segera pergi dari kota. Buka dulu, aku jelaskan!”

Billy dengan cepat meraih kunci di saku celananya, lalu membuka gembok gerbang dengan cepat. Digeser cepat gerbang besi berwarna merah itu, lalu tampaklah wajah Bodot. Benar, ini Budi Bodot temannya Rasri.

“Kok kamu ... “

“Kamu harus segera pergi. Kota sudah hancur. Massa terus bergerak. Mereka menghancurkan toko-toko dan merangsek masuk ke rumah orang-orang keturunan. Mungkin rumah ini aman karena masuk gang. Tapi tetap kamu harus segera pergi dulu. Jangan banyak tanya,” tegas Bodot.

Tanpa banyak bicara, Bodot membuka ranselnya, lalu meraih sesuatu. Dia mengeluarkan kacamata hitam, lalu berturut-turut topi dan buff penutup wajah. Dia meminta Billy memakai semuanya.

“Kamu akan bawa aku kemana?”

Lihat selengkapnya