Guangzhou, 15 Februari 2023
Amudra menahan tangis sekuat tenaga. Namun isaknya pecah juga. Beberapa orang yang duduk di area itu tampak memandangnya heran, namun pemuda itu sudah tak peduli lagi. Zhang Bingwen berulang menyodorkan tisu, namun tak keluar kata-kata untuk menenangkan pemuda itu. Zhang berharap tangisan Amudra itu mampu melegakan hati pemuda itu.
Butuh sekitar 10 menit bagi Amudra untuk mampu mengontrol dirinya agar kembali tenang. Selama itu pula tak ada kata-kata yang keluar dari kedua laki-laki, hingga Amudra merasa dirinya sudah selesai meluapkan emosinya. Dipandanginya Zhang.
“Kenapa kamu ... tidak berusaha mencarinya setelah tahu kerusuhan pecah?”
Zhang terdiam. Dia tahu pertanyaan itu akan muncul. Pertanyaan itu pula yang dulu dia tanyakan kepada dirinya sendiri.
“Aku ... menyesal tidak mencarinya. Bertahun-tahun aku menyalahkan diriku untuk itu. Sebut aku pengecut, tetapi orang yang tak berada di situasiku, tak akan pernah bisa memahami tindakanku. Bagaimana sebuah kerusuhan pecah dan kami kaum minoritas menjadi sasaran kemarahan. Kami bahkan tidak tahu salah kami apa,” ujar Zhang lemah. Laki-laki itu mengeluarkan senjatanya untuk menenangkan diri. Dikeluarkannya sebatang rokok Gudang Garam Filter, lalu menyalakan api dan mulai menghisap rokok itu dalam-dalam. Itu adalah batang ketiga.
“Kamu tahu, butuh berapa lama aku mencapai batas Solo-Karanganyar yang hanya berjarak 5 kilometer dari rumahku itu? Hampir 2 jam. Semua jalan diblokade, semua jalan penuh perusuh. Bodot khawatir bila mereka mengenaliku, habis sudah. Kami tak bisa melewati kampus UNS lalu ke Jembatan Jurug sebagai akses utama menuju Karanganyar. Kampus UNS sudah berantakan sekali, parah. Situasi layaknya perang. Akhirnya Bodot cari cara, aku diturunkan di kampung Pucangsawit pinggir Sungai Bengawan Solo. Lalu dibantu seorang warga melintas sungai dengan rakit, sehingga aku bisa sampai di wilayah Karanganyar,” kisah Zhang.
Amudra melempar pandang ke arah lain.
“Aku sudah berpesan kepada Bodot untuk menjaga Rasri,” imbuh Zhang.
“Tapi bukankah itu percuma, karena Bodot dan Ibuku tak pernah akur,” sela Amudra.
“No ... no ... kami sepertinya salah menilai Bodot. Dia bukan orang jahat seperti yang kami pernah perkirakan. Dia bukan double agent seperti yang ditudingkan Rasri. Dia justru ... sebenarnya ... adalah penjaga Rasri. Bagi Bodot, Rasri itu pintar dan pemberani, tapi keras kepalanya minta ampun dan kerap tak terkontrol meskipun niatnya baik. Bodot mencoba menjadi rem penghambat bila Rasri dinilai sudah di luar kontrol. Bodot tahu, itu akan membahayakan diri Rasri.”
“Karena Bodot suka pada Ibuku?” tebak Amudra.