Rahasia Rasri

Ariyanto
Chapter #15

Selembar Kertas Penguak Takdir

Solo, 1 Juni 2023

 Amudra menyeruput kopinya dengan perlahan, seperti ingin menikmati setiap tetesnya mengalir ke tenggorokan. Meskipun rasa capek menyergap, namun entah kenapa pemuda itu tak bisa memejamkan mata untuk tidur barang sejenak. Padahal semalaman di kereta dia juga tak bisa tidur, hanya sekali dua kali memejamkan mata tak lebih dari 15 menitan. Pikiran yang berkecamuk, berkelebatan tak jelas, sepertinya telah mampu menghentikan rasa kantuk yang menyerang.

Tiba di Solo dengan Kereta Api Manahan pukul 06.55 WIB, Amudra langsung menuju ke rumah berharap segera rebah. Tetapi alih-alih bergumul dengan kasur, dia menuju dapur dan membuat kopi. Kini dengan masih mengenakan sneaker-nya, pemuda itu duduk di depan teras rumah mungilnya, menikmati pagi sambil menunggu Danny yang katanya akan mampir.

Tak lama, suara khas motor Honda Astrea Prima berhenti di depan rumah. Siapa lagi kalau bukan Danny dan motor kunonya yang telah dimodifikasi. Amudra memandang dari arah teras, menunggu pemuda yang telah menjadi sahabat baiknya 10 tahun terakhir itu.

“Ada yang bisa dimakan buat sarapan nggak?”

Amudra terkikik. Bukan tanya kabar, tapi yang dicari adalah makanan. Danny tampak necis dengan kemeja pendek kotak-kotak biru gelap dan celana hitam. Harum tubuhnya tak pernah ketinggalan, seperti semboyan sahabatnya itu yaitu boleh tidak sarapan saat berangkat kerja, tapi jangan sampai tidak menggunakan parfum.

“Di meja deket dapur, ada roti enak yang kubeli semalem di Gambir. Baru kumakan dikit. Sekalian kamu bikin kopi, ada di atas kulkas. Kalau sudah kelar, bawa ke sini, aku mau ngobrol. Kamu masuk jam 9 kan? Masih banyak waktu,” ujar Amudra.

Danny adalah sahabatnya sejak SMP. Saat SMA, mereka tak lagi satu sekolah. Namun, persahabatan mereka tetap langgeng karena masih sering nongkrong bareng selepas sekolah. Kuliah pun meskipun sama-sama satu kampus, namun berbeda jurusan dan fakultas. Amudra merasa Danny sosok sahabat yang benar-benar mengerti dirinya, mengerti kesulitan-kesulitannya, tahu kondisi keluarganya, dan selalu ada buat dirinya. Amudra merasa beruntung memiliki sahabat seperti Danny.

Pemuda itu muncul dari pintu dengan tangan kiri memegang cangkir kopi, tangan kanan membawa dus roti, lalu mengambil duduk di kursi yang kosong.

"Eyang Putri kemana?"

"Ke pasar sama Mbak Puji. Nggak apa-apa, biar beraktivitas dan tidak pikun," kata Amudra.

“Jam berapa sampai?”

“Jam 06.55 pas ... tumben tepat waktu. Keretanya bagus, baru kali ini naik Manahan,” ujar Amudra.

“Kenapa tadi nggak minta dijemput? Aku habis Subuh sudah lari di stadion. Sejam doang, kan bisa kujemput,” kata Danny.

“Males koordinasinya,” sahut Amudra pendek.

“Hahahaha ... koordinasi kata dia, hahahaha ... kamu pikir acara penyambutan pejabat,” seloroh Danny. Pemuda ini tahu, Amudra memang paling malas kalau janjian dan ribet. Yang masih nunggu inilah, masih harus ke sana sini dulu, dan lain sebagainya.

“Lha iya, mending pakai ojol, kelar sudah. Kalau ngontak kamu, mana aku tahu kamu lagi lari? Jangan-jangan malah masih tidur. Males kan.”

“Jadi gimana hasilnya?”

Lihat selengkapnya