Kota Tajug, tahun 1500-an.
Klotak, klotak, klotak.
“Astungkara, Hyang Widhi... Akhirnya sampai juga di markas pasukan Demak.”
Roda pedati berpacu cepat ditarik kuda cokelat berotot trengginas. Membelah hutan dan melintasi beberapa kota hingga mencapai gerbang kota tujuan. Kota perdagangan di pesisir utara Jawa, penyangga ibu kota Demak Bintoro.
Sedari tadi pemuda pengendali pedati itu mengusap peluh di keningnya, ia mengamati sekeliling dengan mata berbinar sekaligus bangga bisa memasuki sebuah kota di mana pada setiap pekarangan rumah warganya berdiri kokoh bangunan setinggi dada orang dewasa, tersusun dari bata merah beratap limas. Aroma kemenyan dan melati merebak di sepanjang jalan kota. Bangunan itulah yang dinamakan Tajug. Demikian kota ini dinamai pula.
Sesekali pemuda itu meringis, meraba pelan lengan kirinya. Ngilu akibat sabetan pedang pasukan Demak, kenang-kenangan pahit dari pertempuran berdarah di ujung timur Jawa. Ditambah panas khas pesisir tak mampu dihindari, sehingga tanpa sadar pemuda itu mengibaskan ujung kerah surjannya. Namun, pada satu tarikan napas, kibasan kain itu terlalu lebar sehingga tanda Surya Majapahit di dada kanannya tampak sekilas. Menyadari kecerobohannya, jantung pemuda itu berdegup satu ketukan lebih cepat. Ia buru-buru merapatkan kembali kain surjan tersebut, lalu mengedarkan pandangan awas ke sekeliling, memastikan tak ada satu pun mata penduduk Tajug memergoki gelagatnya.
Rasa sakitnya seolah diredakan oleh rasa kagum melihat pemandangan kota yang berbeda dari daerah asalnya, Kedu, Temanggung. Tempat-tempat ibadah Hindu-Buddha masih lestari di sini, bersanding dengan merdu kidung-kidung puja pada Tuhan dalam bahasa asing, orang-orang pesisir sering menyebutnya bahasa Arab. Ukiran kayu di beberapa rumah joglo masih terlihat indah dipandang meski tak lagi ia temukan ornamen hewan dan manusia, tersisa ornamen sulur tanaman dan bunga-bunga.
Tak sampai di situ. Makin masuk ke pusat kota, terlihat suasana perniagaan begitu ramai. Beberapa kaum bermata sipit menjajakan kerajinan keramik dan porselen, sebagian menjual hasil ukiran kayu kualitas jempolan. Pedagang dengan kepala dililit dastar menjual rempah-rempah berkualitas tinggi. Tampak pula pedagang bersorban dan berjubah lebar menjajakan kurma, wewangian, dan permadani.
Tanpa terasa setelah beberapa langkah lambat kaki kuda menyusuri pasar, mata sang pemuda makin berbinar. Baru pertama kali dalam hidupnya ia mendengar langsung tabuh bedug menyusul kumandang azan dari atas menara berarsitektur seperti candi Hindu. Di belakang menaranya tampak bangunan kayu beratap limas, di dalamnya para penduduk sudah berkerumun memenuhi panggilan azan tadi.
Meski pemandangan tersebut sempat menumbuhkan decak kagum, batin sang pemuda itu masih merasakan luka amat dalam karena kekalahan bertubi-tubi tanah airnya. Jangan mudah tertipu, kisanak. Ini hanya taktik musuh untuk menundukkan penduduk lokal agar mau melawan Majapahit, gumamnya.
Pemuda itu menoleh ke belakang, menepuk pelan ratusan kilogram Daun Emas dari lereng Kedu di dalam pedatinya. Sekilas tak ada yang menaruh curiga padanya. Ia tersenyum miring. Kelak, daun-daun emas di pedatinya ini bukan sekadar menjadi kedok penyamaran, melainkan warisan yang akan mengubah nasib kota Tajug hingga ratusan tahun mendatang.
*****
Hari makin gelap dan ia belum menemukan tempat beristirahat. Setelah beberapa saat mengendarai pedati, sampailah ia di salah satu desa tak jauh dari pusat kota. Tak begitu ramai, namun sayup-sayup tilawah Kitab Suci memecah hening senja. Tak jauh dari pandang, ia melihat seorang paruh baya sedang memutar tasbih di pelataran joglo pencu berhalaman luas dan ditanami beberapa pohon belimbing dan tanaman pandan. Tampaknya dari kharismanya, seperti pemimpin desa.
“Kula nuwun, Kiai.” Pemuda itu turun dari pedati dan mendekat.
“Dalem, Ngger. Masyaallah.” Lelaki berjarik Laseman dan bersurjan kebiruan segera bangkit dari bangku kayu dan menyambut pemuda asing itu layaknya tamu agung.
“Kisanak dari mana? Sepertinya sedang kelelahan karena perjalanan panjang.”
“Kula Abdul Bashir, dari Kedu. Apakah panjenengan pemimpin desa ini?” Tangan kekarnya menghatur sedekap sembah tepat menempelkan kedua jempol dekat hidung dan jari lainnya menghadap sang sesepuh desa.
“Nggih, leres. Kula Wasihatno. Kanjeng Sunan memberi kula gelar Ki Ageng Gribig. Kebetulan kula juga nyantri ke Kanjeng Sunan. Lantas ada apa kisanak datang kemari, jauh-jauh dari Kedu?” tanya Ki Ageng Gribig beriring senyum lebar.