MI Kenar Antarangga, Gribig, Kudus. 2024.
Klik! Bunyi logam keris Sunan Kedu yang masuk ke dalam warangkanya mendadak berubah menjadi tepukan lembut di bahu. Mimpi epik abad keenam belas itu sirna seketika saat Bashir membuka mata dan tersisa sosok Bu Laras menggoyang-goyangkan pundak.
“Bashir… Bangun, Nak. Bangun.”
Sedari jam pertama, Bashir menyandarkan kepala di atas meja, diganjal sedekap dua tangan. Meski ia duduk di posisi paling kanan bagian tengah, ternyata tak luput dari pengawasan guru muda itu.
“Kamu ketiduran kenapa, Shir? Sebentar lagi kita mau ulangan harian, lho,”
Setelah beberapa menit usaha membangunkan Bashir, sedikit demi sedikit mata Bashir terbuka, berganti belalak menyadari kehadiran Bu Laras.
“Maaf, Bu. Bashir begadang buat persiapan ulangan harian ini.”
Hitam pelupuk matanya tak bisa ditutupi, wajahnya pucat, bahkan hampir saja mejanya ditetesi liurnya.
"Yasudah, ke kamar mandi sana. Jangan lama-lama, ya. Ini mau dimulai ulangan hariannya," titah Bu Laras pada Bashir.
Langkah gontainya dari bibir pintu kelas 5A menuju kamar mandi menyisakan keheranan, ternyata kisah Mbah Wasih di serambi Masjid Wali At-Taqwa kemarin sore membekas bahkan terbawa dalam mimpi. Kisah Mbah Wasih, sang marbot masjid sekaligus guru ngaji memang selalu dinanti anak-anak di desanya, termasuk Bashir sendiri.
Setelah wajah dan sebagian kerah seragamnya basah, Bashir kini bersiap menghadapi gelanggang pertarungan dalam kelas, melawan soal-soal Matematika. Kebetulan kali itu materi yang diujikan tentang Desimal. Ketika teman-teman Bashir terfokus pada papan tulis dan buku catatan matematika mereka masing-masing, justru Bashir menggerak-gerakkan penanya seperti memegang raket.
Sesekali Bashir memandang Jakfar di sebelah kirinya, seorang anak berperawakan kurus, pendek, namun tak pernah ia mendapatkan nilai selain seratus dalam pelajaran Matematika. Anak berkacamata tebal itu duduk tegak dengan napas teratur, seolah angka-angka desimal di papan tulis adalah teman akrabnya. Sedangkan Bashir berusaha mengatur napas dan posisi duduknya meski dirinya sudah mempersiapkan ulangan ini semalam suntuk.
Sepuluh soal terpampang di papan tulis. Jarum jam panjang bergerak makin ke kanan. Bashir yang beberapa menit digunakan untuk bersantai kini makin memicingkan pandang. Penanya semula menggores udara kini beralih ke atas buku catatan.
“Waktu tinggal 10 menit lagi ya, anak-anak,” pekik Bu Laras dari balik meja guru, tepat di samping kanan papan tulis dalam pandang para murid.
Bashir makin tajam menatap soal-soal terakhir, ditambah dirinya harus meredakan kibar buku tulisnya akibat tiupan kipas angin besar di langit-langit kelas. Sementara Jakfar sesekali membetulkan kacamatanya, memastikan apa yang ia lihat di papan tulis tak salah.
“Waktu habis, waktu habis… sudah, sudah.”
Bu Laras memberikan tanda berakhirnya ulangan harian dan bangkit dari tempat duduknya setelah beberapa lama ia duduk sambil memainkan gawainya, menunggu waktu berakhir.
“Sekarang, berikan buku tugasnya ke teman samping kanan. Pokoknya jangan sampai memegang buku catatannya sendiri.”
Instruksi yang diberikan Bu Laras serentak membangkitkan riuh para murid. Kini mata para murid terfokus pada penjelasan Bu Laras di papan tulis. Menyimak saksama penjelasan runtut perhitungan di tiap soalnya.
“Coba nomor tiga. Dua puluh tiga koma lima dikali tiga belas koma dua hasilnya berapa?” tanya Bu Larasati.
“Tiga ratus sepuluh koma dua, Bu,” sahut Jakfar sambil mengangkat tangan kanannya setinggi kepala.
“Nah, Jakfar. Coba tuliskan ke depan, bagaimana cara menyelesaikan soal ini?” pinta Bu Larasati sambil mengembangkan senyum bangga. Jakfar melangkah dengan pandangan fokus ke depan papan tulis tanpa hirau decak kagum seisi kelas.
“Jadi gini, Bu. Karena komanya ada dua, jadi kita amankan dua angka di belakang koma. Lalu kita susun angkanya seperti perkalian pada umumnya…”
Demikian Jakfar melenggak-lenggokkan spidol hitam itu di atas papan tulis sembari mengajarkan pada teman-temannya secara perlahan. Bu Laras tampak menajamkan, fokus pada gerakan tangan Jakfar meramu rumus-rumus menjadi jawaban cerdas.
“Nah, betul sekali, Jakfar. Tepuk tangan semuanya!”