Rumah Bashir, Gribig, Kudus, 2024.
Tanpa ketuk pintu dan tanpa salam, langkah Bashir perlahan memasuki rumah, melangkah menuju pintu kamarnya yang masih tertutup. Suara engsel pintu berpadu tarikan gagang tak bisa diabaikan begitu saja oleh telinga ibunya, Bu Aslamah meski ia masih fokus pada keletak suara pisau memotong bawang merah di belakang.
“Bashir! Mbok ya dibiasakan masuk rumah, salam dulu!”
Bashir seketika menengok ke kiri, ke arah dapur dengan langkah masih mengendap-endap.
“Assalamu’alaikum, Mah.”
“Halah, malah baru salam. Yowes, wa’alaikum salam.”
Dirasa kondisi masih cukup aman belum diintai mata kepala Bu Aslamah, langsung saja ia berganti seragamnya dengan sarung batik Kawung kecokelatan dan koko putih polos yang biasa ia kenakan setiap tanggal dua tiga. Ia membuka perlahan tas ransel abu-abunya dan mengeluarkan buku Matematika agar bisa ia selinapkan ke tempat lebih aman. Setelah ia menengok sekeliling kamar, akhirnya ia menemukan tempat yang ia rasa strategis, diselipkan di bawah kasur dan untuk kali ini, ia bisa bernapas lega sejenak dan segera memasukkan raket ke tas raket beserta beberapa biji kok bekas latihan para atlet Manggeh Antishapala yang biasa ayahnya bawakan sebulan sekali.
Dengan tas raket menggantung di bahu kiri dan buku Yanbu’a jilid lima Bashir bergegas ke Masjid Wali At-Taqwa.
“Bashir ngaos riyen, gih sampai habis maghrib. Assalamu’alaikum.”
Bu Aslamah di belakang hanya bisa menggelengkan kepala dan menimpali ucapan pamit tiba-tiba itu.
“Wa’alaikum salam. Gak mandi dulu?” pekik Bu Aslamah.
“Habis ngaji aja, Mah,” timpal Bashir sambil mengenakan sandal jepit hitam di depan rumah.
“Hati-hati. Kalau sudah selesai maghriban pulang, ya,” pekik Bu Aslamah sekali lagi sambil menggelengkan kepala.
Tanpa timpalan, Bashir langsung menuntun cepat gagang sepedanya keluar gerbang dan ketika posisi sudah dirasa aman, ia naiki sadel sepeda dan mengayuh secepat mungkin menuju Masjid Wali At-Taqwa.
*****
Masjid Wali At-Taqwa, Gribig, Kudus, 2024.
“Assalamu’alaikum warahmatullah. Assalamu’alaikum warahmatullah.”
Tak seperti kebanyakan jemaat salat Ashar yang sibuk merapalkan zikir dan doa. Bashir dan beberapa kawannya membubarkan diri terlebih dahulu, berhamburan menuju halaman masjid dan salah satu anak meletakkan sandal mereka di sisi kanan dan kiri seolah membentuk net bayangan.
Bashir sudah siap dengan raket merah dengan corak hitamnya, sedangkan teman di seberangnya sudah siap dengan kuda-kuda servis pembuka.
Tok, Tok.
Meski tak mengenakan alas kaki sama sekali, gerakan tukar menukar servis kok tampak lincah. Bashir beberapa kali tersungkur menyelamatkan kok, kadang menyerang wilayah lawan mainnya dengan backhand smash meski belum sesempurna atlet idolanya, Taufik Hidayat. Bagi Bashir, bermain di atas paving halaman masjid tak kalah menegangkannya dibanding decit lantai stadion bulutangkis.
“Bashir, ayo smash’i terus! Sikat!”
Sorak kawan lainnya tak kalah heboh. Tangga masjid seperti tribun gratisan bagi para penonton. Lawan bermainnya, Dira tak kalah lihai meladeni permainan Bashir. Seringkali Dira mempertanyakan posisi jatuhnya kok apakah aman atau poin untuk lawan.
“Suf, piye? Aman, ora?”
Yusuf yang bertindak sebagai wasit berusaha menajamkan pandang ke arah jatuhnya kok, meski ia berada dalam posisi duduk di atas tangga masjid.
“Masuk, Dir. Bashir 15 poin.”
“Lha kok 15? Sing nggenah!” sahut Dira merasa ada keganjilan dalam perhitungan poin.
“Iya, koyok’e aku tadi 13, kok. Berarti ya sekarang 14,” tukas Bashir berusaha mempertegas posisi sembari mengoreksi kesalahan perhitungan poin.
Setelah Yusuf menyadari kesalahannya, barulah permainan dilanjutkan. Jual beli serangan dan kadang gelak tawa menghidupkan riuh permainan.