Rahasia Tampah Terbang: Menghitung Takdir Bashir

Ahmed Zeyn Fedawani
Chapter #4

BAB III: BARA DI PEJATEN

Masjid Al-Aqsa/Masjid Menara, Tajug, Tahun 1500-an.

“Ndek wingi sampai ayat berapa ngajinya, Ngger? An-Nur Ayat 37, gih? Coba dibaca bersama-sama dulu. A’udzbillahi minasy syaithonirrojim. Bismillahirrahmanirrahim.”

Mentari makin tergelincir. Aroma dupa gaharu memenuhi seisi serambi masjid kayu dan bata merah beratap limas itu. Meski sayup-sayup keramaian selepas jemaah salat Ashar masih terdengar, namun lantunan ayat suci ini menambah kesyahduan senja di bawah bayang menara berarsitektur ala pura-pura Hindu.

Dengan rekah senyum amat teduh, seorang berjanggut tebal dan bersurban hijau perlahan menuntun puluhan santri cilik di hadapannya membaca Kitab Suci. 

"Rijaalun laa tulhiihim tijaaratuw wa laa bai'un 'an dzikrillah..."

Demikian ayat suci itu didaraskan serentak hingga pungkasan.

“Shodaqallahul ‘adziim.”

Sejenak Kanjeng Sunan Kudus memandangi wajah anak-anak santri. Kemudian mengambil sekeping pitis Demak yang tersimpan di sebuah kantong pundi-pundi dari kulit kerbau, tergantung di selendang batik berwarna kecokelatan. Pandangannya kini seteduh senja sembari menggurat senyum tipis.

“Ngger… kira-kira sak pitis ini sampeyan bisa buat beli apa?”

Seorang santri putra menyahut di bagian kanan barisan, mengangkat salah satu tangan.

“Kanjeng Sunan… Kula biasanya buat beli Garang Asem satu pitis.”

Senyum Sunan Kudus makin megembang, memandangi salah satu santri pemberaninya, mengenakan udheng-udheng hitam bercorak putih kecokelatan dengan baju takwa putih polos dan jarik batik Laseman. 

“Masyaallah, duit semono sudah dapat Garang Asem, ya. Luar biasa pancen.”

Santri lain menyusul, memberikan suara. Kali ini dari ujung depan kiri, dari santri putri. Suara cempreng nyaris seperti embikan anak kambing mulai mencuri perhatian seisi majelis termasuk Sunan Kudus sendiri.

“Kalau kula biasanya satu pitis bisa buat beli Nasi Jangkrik, Njeng Sunan.”

Jawaban itu sontak membuat matanya berbinar, senyumnya kian lebar memandangi santri putrinya yang mayoritas mengenakan kemben batik dan bagian atasnya hanya ditutupi rukuh putih tanpa motif, menjuntai hingga menutupi pinggulnya.

“Nasi Jangkrik? Wah, enak itu. Masyaallah. Nah, Ngger… Jadi kita bisa bayangkan, kalau uang satu pitis saja bisa buat beli makanan seenak itu, apalagi nek uang tersebut kita gunakan kanggo mengenyangkan fakir miskin. Kanggo membantu orang-orang yang terjerat utang. Satu pitis nek dikumpulkan lama-lama jadi banyak, lho. Nggih nopo mboten?”

“Nggih…”

Sambil menggoyang-goyangkan sekeping koin timah itu, Sunan Kudus makin bersemangat melanjutkan kajian tafsirnya. Tampak sebagian santri mulai memecah fokusnya ke arah pitis yang dipegang Kanjeng Sunan.

“Nah, maka dari itulah… Nek dapat uang sedikit ben berkah ya harus digunakan buat berbagi pada sesama. Pitis satu keping kalau tujuannya buat berderma, ikhlas kerono Gusti Kang Akarya Jagat, itu jauh lebih manfaat. Makanya kalau nanti nderek dagang sama orang tuanya, ya jangan lupa disisihkan pitisnya buat membantu fakir miskin, membantu anak yatim piatu. Ngoten, gih.”

Hampir saja Sunan Kudus mengakhiri ngaji Kitab Suci dan tafsirnya, justru fokusnya teralihkan dengan sayup-sayup suara tangis di belakang masjid. Suara mata cangkul menghujam tanah pun samar terdengar. Siapa yang sedang lelayu? Demikian batin sang sunan mendengung. Tak ada kerumunan pelayat, tak ada jamaah salat mayit.

“Ngger… Coba nanti dipahami lagi ya hukum tajwid ayat tersebut. Mangke maju satu satu, gih.”

Rasa penasarannya membuat pengajian berhenti sejenak dan bangkit dari duduk silanya. Memastikan ada orang yang dikubur secara layak. Awalnya sang sunan masih berpikir bahwa jangan-jangan ada mualaf meninggal tapi masyarakatnya belum tahu tata cara mengurusi jenazah dalam Islam, namun makin dekat dia pada sumber suara penasaran itu justru meledak jadi belalak mata dan raut muka memerah.

“Jaka! Siapa yang kamu kuburkan? Awakmu bar mateni sopo?”

Ternyata Raden Jaka baru saja tiba ke padepokan ramanya dan sedari tadi ia melubangi tanah dengan luas lubang setengah meter kali setengah meter. Rasanya sangat tidak mungkin untuk menguburkan orang di situ. Dengan suara parau dan serak ia menjawab pertanyaan Sunan Kudus.

“Ng… Nganu Rama… Wegig… Wegig mati.”

Jawaban terpatah-patah itu berhasil meningkatkan amarah sang sunan satu oktaf. Bahkan gelegar suaranya berhasil mengusik para santri yang sedari tadi fokus pada lembaran mushafnya.

Lihat selengkapnya