Rumah Bashir, Gribig, Kudus, 2024.
“BAWA SINI RAKETNYA!”
Pijakan pertama kaki Bashir memasuki rumah selepas jemaah magrib sudah membuat jantungnya berdegup tak karuan. Mata yang semula memandang lurus berubah tunduk dalam seketika setelah bentakan Bu Aslamah menyambut.
“A… Ada apa, Mah?”
Bashir tak memiliki kosakata lagi tuk membela. Sepertinya ibu sudah mengetahui nilai ulangan harian Matematikanya hari ini. Sudah barang tentu akan semarah apa ibunya nanti jika nilainya tak lebih dari 90.
“RA SAH KAKEHAN OMONG! MANA RAKETNYA?!”
Tangan kiri Bashir bergetar hebat, berusaha mencengkeram erat tas raket.
“BASHIR! Nek awakmu ndak memberikan raket itu, uang jajanmu mamah stop satu bulan penuh. MAU?!”
Ancaman itu makin mengusik batin Bashir, akhirnya gemetar itu ia paksakan tenang ketika mau tak mau menyerahkan barang kesayangannya jatuh ke tangan ibunya. Tanpa basa-basi, Bu Aslamah menyaut tas raket tersebut, menggeledah isinya dan mengeluarkan raket itu dari tasnya. Tiba-tiba ia mengambil gunting dari dapur, kembali ke hadapan Bashir dan memotong senar demi senar raket kesayangan anak semata wayangnya.
Tak, tak, tak.
Suara tiap senar yang putus seperti musik duka dalam batin Bashir. Nilai delapan puluh kali ini berhasil menciptakan lubang menganga di kepala raketnya.
“Makanya, belajar yang rajin! Jangan badminton terus pikirannya. Mamah gak mau tahu. Pokoknya besok Sabtu kamu harus mulai les di Jember! Mamah gak akan maafin sebelum kamu bisa jadi perwakilan sekolah dalam olimpiade Matematika!”
Tempo suara tinggi itu tak kunjung turun meski Bu Aslamah menyadari betul betapa kencang suara rengekan itu menguasai seisi rumah. Serakan raket itu digeletakkan begitu saja di depan pintu kamar Bashir. Langit kelam tak lagi mampu menenangkan rumah Bashir kali ini.
Di dalam kamar, Bashir tak henti-henti mengucurkan air mata hingga bantalnya basah kuyup. Poster foto Taufik Hidayat, Jonatan Christie, dan Maria Kristin bahkan tak mampu meredakan tangisan bocah itu.
Hingga beberapa jam berlalu, suara sepeda motor mendekat ke halaman rumah. Seketika ia mulai meredakan tangisannya dan menata kembali puing-puing batinnya meski sukar.
“Assalamu’alaikum. Bapak pulang.”
Suara tebal itu kini memberikan sedikit ketenangan di batin Bashir. Biasanya setiap pulang dari pekerjaan sebagai sopir pengangkut logistik di pabrik daun emas bakar Manggeh Antishapala, ia selalu membawakan beberapa kotak susu murni dan kadang satu kotak besar kok bekas latihan para atlet PB Manggeh Antishapala.
Baru di bibir pintu, Pak Galang, bapak Bashir mengamati sekitar dan sayup-sayup terdengar anaknya sesenggukan. Tarikan napas dalamnya seperti memaklumi apa yang telah terjadi. Pak Galang paham betul bagaimana gelagat Bu Aslamah ketika marah. Dengan pembawaan lebih tenang, Pak Galang memasuki kamar Bashir dan mendapati anak laki-lakinya mengerutkan tubuhnya di ujung kamar dan menutupi wajahnya dengan bantal.
“Bashir, kamu kenapa?”
Langkah demi langkah Pak Galang mendekati Bashir, naik ke atas ranjang dan berusaha menenangkan Bashir dengan mengelus pundak Bashir.
“Pak… Mamah marah lagi.”
Jawaban Bashir berbalas anggukan perlahan Pak Galang dan senyum tipis mengembang meski kantung matanya sedikit menghitam.