Rahasia Tampah Terbang: Menghitung Takdir Bashir

Ahmed Zeyn Fedawani
Chapter #6

BAB V: BIMBEL SOSROKARTONO

Bimbel Sosrokartono, Jember, Kudus, 2024.

Sore berikutnya.

Dari arah utara, motor matic itu melaju cukup kencang. Sore itu adalah hari pertama Bashir mengikuti les privat Matematika di wilayah Jember. Bu Aslamah bahkan rela mengantarkan Bashir demi ambisi menjadikan anak semata wayangnya bisa mewakili sekolah dalam olimpiade matematika dan bisa juara tingkat kabupaten kalau perlu.

“Bimbelnya jauh ya, Mah?”

“Nggak, kok. Sebentar lagi sampai.”

Lampu merah masih menyala di perempatan jalan Pantura dan lampu reting sisi kanannya sudah berkedip sejak berhenti dan menunggu lampu hijau menyala. Jarak antara Gribig ke Jember memang tak sampai belasan kilometer, tapi cukup bagi Bashir menikmati pemandangan lalu lalang kendaraan begitu ramai, entah pulang dari tempat kerja atau selepas sekolah formal.

Setelah lampu hijau menyala, semua kendaraan mulai bergerak. Kadang Bu Aslamah menggeleng-gelengkan kepala ketika para pengendara ojek berompi ungu dan jingga melaju kencang cenderung ugal-ugalan ke arah kiri, ke alun-alun lama Menara Kudus. Asap dari truk muatan mengepul pekat hingga Bashir beberapa kali mengibaskan tangan kanan di depan kaca helmnya nan kusam dan penuh gurat lecet.

Tak butuh waktu lama. Setelah melintasi beberapa ruko dan sempat berhenti sejenak di tengah jalan tuk menyeberang, sampailah mereka berdua di salah satu ruko tingkat dua dengan banner besar terpampang di depannya bertuliskan SOSROKARTONO LEARNING CENTER. Bu Aslamah pun baru tahu kualitas bimbel ini hasil curhat dengan Bu Rukhil, ibunya Jakfar ketika saling menelepon meski bedanya Bu Rukhil sengaja mendatangkan tutor bimbel ke rumah sedangkan Bu Aslamah lebih memilih berkorban waktu dan tenaga tuk mengantarkan Bashir ke lokasi bimbel. Alasannya biar lebih fokus, tidak melulu memikirkan bulu tangkis.

Setelah motornya berhenti di depan, Bu Aslamah bergegas meninggalkan Bashir dengan pamitan pendek, “belajar yang rajin, ya! Kalau kamu bisa lolos olimpiade, mamah janji bakal belikan kamu raket baru yang jauh lebih bagus.”

Janji ini sontak mengembangkan senyum Bashir dan sejenak melupakan luka akibat peristiwa senar raketnya yang digunting-gunting. Kali ini Bashir tak perlu ragu melangkahkan kaki masuk ke dalam pintu kaca bimbel dan bertemu dengan seorang berkacamata, tinggi dan berkulit bersih.

Tak hanya menunggu di bangku depan resepsionis bimbel, juga mempersilakan Bashir masuk ke ruang belajar di sebelah barat meja resepsionis. Ruang tersebut luasnya hanya seperempat dari ruang kelas Bashir di MI Kenar Antarangga, memberi kesan intim dalam pembelajaran. Setelah Bashir dan lelaki tadi duduk saling berhadapan barulah lelaki itu membuka suara lebih riang.

“Assalamu’alaikum. Sebelumnya perkenalkan, saya Kak Naufal. Saya nanti yang mengajar Matematika, untuk persiapan olimpiade ya, dek?”

Bashir hanya menganggukkan kepala dengan tetap mempertahankan senyum riang hingga terlihat sedikit jajaran giginya.

“Kak Naufal rumahnya di Damaran, sekarang alhamdulillah selain mengajar di bimbel ini juga mengajar di SMP Muhammadiyah. Tahu kan tempat sekolahnya?”

Bashir coba membuka suara dan lebih menghangatkan suasana.

“Yang di seberang Banat itu kan, kak?”

“Iya, betul sekali. Luar biasa, Dek. Adek siapa namanya?”

“Saya Bashir, Kak. Dari Gribig.”

“Masyaallah, salam kenal ya.”

Dirasa sesi perkenalan sudah cukup, Kak Naufal mengeluarkan buku bersampul merah dari tas ransel hitamnya. Membuka beberapa lembar disertai pertanyaan penguat, “kali ini kita mulai dari materi Desimal, ya.”

Bola mata Bashir kini terfokus pada papan tulis putih kecil di belakang Kak Naufal. Tampak menempel di tembok dengan empat titik paku bor di tiap sudut. Perlahan ia mengamati sekaligus mencerna penjelasan Kak Naufal. Sesekali ia mencuri pandang, kadang mengamati gerakan Kak Naufal membenahi posisi duduk serta kacamata berbingkai cokelat beberapa kali. Kadang ke buku merah berisi rumus-rumus sakti khas bimbel itu.

Lihat selengkapnya