Tajug, Tahun 1500-an.
“Ora patut!”
Suara bantingan caping anyaman memecah hening kala pemuda Kedu itu memasuki jogo satru. Napasnya tersengal-sengal sekembalinya dari Pejaten, berganti membanting tampah dan sisa daun emas di salah satu kursi kayu. Segera ia membanting punggungnya ke kursi satu lagi dan mengatur degup dadanya agar lebih teratur. Matanya sesekali terpejam kuat sambil tangan kanannya meremas angin.
Kekalahan telak atas Sunan Kudus di Pejaten membuat wajahnya kini merah padam. Bahkan duduknya di jogo satru tak lagi tenang. Kadang kakinya bersila di atas kursi, kadang berselonjor di bawah meja. Dalam pikirnya kini hanya satu, bagaimana caranya membalaskan semua ini. Hampir saja terbesit ide tuk menghujamkan keris pada dada sang sunan. namun ia segera menyadari bahwa tindakan gegabah itu jelas mengundang amarah Keraton Demak dan seisi Tajug.
Demi ketenangan batinnya, ia menggulung sisa daun emas dari atas tampahnya dan memantik gobek api tuk menyulut ujungnya. Aromanya merebak hingga mewangikan seisi joglo pencu milik pendiri sekaligus tetua desa Gribig itu. Hingga gulungan daun emas dalam genggaman terbakar tiga perempatnya, matanya masih sibuk memandangi ukiran sulur di tepian pintu. Sesaat kemudian, pandangnya beralih ke kanan, ke tampah tempat beberapa lembar daun emas sisa tergeletak. Seketika kedua sudut bibirnya tertarik ke atas, raut sumringah itu ditimpa cahaya siang langit Gribig.
“Ah, Astungkara Hyang Widhi. Sepertinya aku akan coba sore nanti. Lihat saja, Ja'far Shodiq. Sampeyan akan terheran-heran dengan kesaktianku.”
Gumam sang pemuda Kedu sembari memiringkan garis bibirnya ke kanan. Dengusnya seperti meyakinkan batin bahwa rencananya kali ini kan berhasil menciutkan batin sang Senopati Demak.
*****
Mentari makin tergelincir ke barat. Dengan dada membusung berbalut surjan lurik kecokelatan, Abdul Bashir sudah siap dengan tampah bekas tadah daun emas di kanan dan gulungan daun emas beserta gobek api di kiri. Di halaman luas joglo pencu, Abdul Bashir segera meletakkan tampah berdiameter kurang lebih satu meter dan bersila di atasnya. Sembari merapal mantra berbahasa Kawi, pemuda Kedu itu membakar gulungan daun emas dan mengibaskan ujungnya ke langit. Aromanya tak hanya menguatkan aura magis dan berkarisma, juga menarik perhatian masyarakat sekitar karena aroma hangat, berkayu dan aroma rempahnya.
“Om awighna hastu nama siddham. Hiyaaak!”
Perlahan tampah itu terangkat dan melayang ke udara. Rapalan mantra makin kencang guna menyeimbangkan posisi tampah. Pemandangan ajaib ini sontak membuyarkan keseharian warga desa. Ditambah rebak aroma rempah menyengat dari bakaran daun emas membuat antar warga menoleh satu sama lain, menjadi buah bibir bahkan mengembangkan decak kagum. Tujuan Abdul Bashir kali ini tak lain ke arah timur, ke jantung peradaban Tajug.
Makin tinggi tampah melayang, membawa tubuh kekar berisi sang pemuda Kedu, makin busung dadanya. Abdul Bashir kali ini menengok ke bawah, melihat Tajug dari atas tampah terbang. Kadang ia bentangkan kedua tangannya seperti burung Elang mengintai mangsa di bawah, kadang berputar mengitari calon mangsanya dari langit-langit padepokan Kudus. Sang senopati Demak yang sedari tadi memperhatikan riuh perniagaan di sekitar Masjid Al-Aqsa mendadak beralih pandang ke atas, setelah umpatan dan pekik kepongahan terlontar dari lisan Abdul Bashir.
“Wahai warga Tajug. Aku tantang kalian semua, siapa yang bisa menyaingi kehebatanku?! Bahkan pemimpin kalian, Ja’far Shodiq sepertinya tak memiliki kesaktian sehebat ini! Hahaha…”
Wajah teduh Kanjeng Sunan semula teduh seketika berubah masam ketika hinaan itu terlontar. Kedua tangan yang sedari tadi bersembunyi di balik punggung kini dengan gagah mengangkat salah satunya ke arah Abdul Bashir. Tangan kirinya sedari tadi masih sibuk menggulirkan butir demi butir biji tasbih di belakang seperti memberi tambahan kekuatan spiritual tuk melontarkan mantra pamungkas milik Sunan Kudus.
“Bismillah, kun fayakun. Allahu akbar!”
Ketiga jari kanannya melontarkan energi berat ke arah tampah terbang. Membuatnya kini kehilangan kendali. Menyadari bencana ini Abdul Bashir menggelengkan kepala ke kanan dan kiri begitu cepat bahkan tak terkendali. Kedua tangannya yang semula merentang justru kini memusatkan energi tuk mencengkeram ujung-ujung tampah. Keseimbangannya kini makin goyah. Bahkan seperti tak ada ajian lain mampu menahan guncangan ini. Abdul Bashir berteriak sekencang mungkin, berharap ia terjatuh ke tempat aman.
Benar saja, tampah Abdul Bashir akhirnya terjatuh ke area yang masih amat lebat pepohonannya. Jajaran ranting dan akar gantung memperlambat gesekan tampah dengan udara. Hingga akhirnya tubuhnya tersungkur dalam kubangan tanah berlumpur. Meski ia mengenakan surjan kecokelatan, tubuhnya tampak sudah sangat pekat terbalut lumpur. Kejatuhan itu membuat pemuda Kedu menyadari bahwa yang ia hadapi kali ini memang sangat layak menyandang gelar senopati.
“Aduh, Hyang Widhi. Aduh… Huft… syukurlah. Untung ra gene-gene.”
******