Rahasia Tampah Terbang: Menghitung Takdir Bashir

Ahmed Zeyn Fedawani
Chapter #8

BAB VII: RAKET DAMAR

MI Kenar Antarangga, Gribig, Kudus, 2024.

“Anak-anak… perhatikan baik-baik!”

Berteman desing kipas, mengembuskan aroma pengharum jeruk yang menggantung di depannya, Bu Laras dengan suara melengking sibuk mencoret-coret papan tulis putih dengan spidolnya. Seperti menggambar beberapa bangun ruang beserta garis putus-putus penanda imajiner sisi penentu luas permukaan dan volumenya.

“Ini namanya sisi. Karena kubus ini memiliki banyak sisi yang sama panjang, maka mudah saja kita mencari luas permukaan dan volumenya. Nah, sekarang ada yang tahu bagaimana cara menghitung luas permukaan bangun ruang ini misal Ibu tulis sisi kubus ini lima sentimeter?”

Tanpa berselang lama, Jakfar mengangkat telunjuk kanan. Seisi kelas mengalihkan pandangan kepada anak berkacamata tebal itu. Langkahnya begitu mantab setelah Bu Lastri mempersilakan maju.

“Coba Jakfar jelaskan pada teman-temannya, bagaimana menghitung luas permukaan kubus tersebut.”

Tanpa banyak kalimat terlontar, Jakfar menuliskan rumus dasarnya, enam kali luas persegi. Luas persegi biasa dihitung dengan rumus sisi kali sisi. 

“Kenapa harus enam kali luas persegi, Jakfar?”

“Karena… bangun perseginya ada enam, Bu.”

“Nah, betul sekali. Lanjutkan, Jakfar bagaimana cara menghitungnya.”

Pandang binar Bu Laras terpancar kala Jakfar menggoreskan angka demi angka di papan tulis. Lima dikali lima terlebih dahulu, kemudian hasilnya dikalikan lagi dengan enam. Dua puluh lima dikali enam, tanpa keraguan ia tuliskan hasilnya, seratus lima puluh. Makin mengembang gurat senyum Bu Laras.

“Tepuk tangan untuk Jakfar!”

Semua mata di kelas itu ikut berbinar, namun tidak dengan Bashir. Kali ini pandangannya tak murni karena iri. Suara bentakan Bu Aslamah akibat nilai matematikanya kemarin hanya delapan puluh dan kerap kali kecerdasannya dibanding-bandingkan dengan Jakfar membuat dirinya jelas tak senang dengan gelagat anak berkacamata satu itu. Tangan kanannya mengepal di atas meja. Meremas pena hitam yang sedari tadi ia genggam.

Beberapa saat kemudian, dua soal serupa tertulis jelas di sisi kiri papan tulis. Sepertinya Bashir tak mau terlewatkan kesempatan emas ini.

“Sekarang, siapa yang bisa mengerjakan soal pertama?”

“Kula, Bu!”

Kali ini spidol Bu Laras menunjuk ke arah Bashir melangkah. Setelah mendekat di depan, Bashir segera menyahut ujung spidol itu dan memulai atraksi angka di atas papan tulis. Soalnya terpampang jelas, sisi kubus tiga belas sentimeter. 

Mula-mula ia menyusun angka kembar tiga belas di atas dan bawah, menggambar garis hasil pula di bawah baris kedua angka. Baginya, menghitung permukaan bangun kubus setara pertandingan panas di Nakhon Ratchasima, Thailand. Sebuah laga All Indonesian Final dalam kisah ayahnya, Pak Galang dengan pandang berapi-api dan nada dinamis cenderung menggebu, saat Maria Kristin Yulianti berhadapan dengan Adriyanti Firdasari pada SEA Games 2007 yang kelak dikenang sejarah sebagai medali emas terakhir tunggal putri untuk Indonesia.

Genggaman spidolnya begitu luwes, membayangkan bahwa ujung mata spidolnya bak senar-senar raket kualitas tinggi. Ia menatap angka tiga dan tiga di kolom satuan. Tiga dikali tiga! Seperti servis tajam pembuka Firdasari, pikiran Bashir bergerak cepat menimpal. Sembilan! Ujung spidolnya menggoreskan angka sembilan di papan dengan tarikan tegas, layaknya smash silang Maria Kristin, menukik tajam membelah lapangan.

Pertandingan dalam kepalanya makin riuh dan mendidih. Ia menyilangkan angka puluhan dan satuan. Satu dikali tiga, lalu satu dikali tiga lagi di baris berikutnya. Tiga dan tiga! Bak reli-reli panjang nan menegangkan, teman-teman sekelasnya terdiam seperti nyenyatnya suporter Indonesia di Nakhon Ratchasima. Keringat Bashir mengucur, beberapa kipas di sudut-sudut kelas tak mampu mendinginkan suasana. Satu dikali satu menyudahi angka belasan di papan tulis. Smash! Ia menarik garis mendatar dan skor sementara yang diperoleh Bashir, seratus enam puluh sembilan untuk set pertama.

Tanpa jeda turun minum, tangan tangkasnya melanjutkan pertandingan khayali. Ia menyusun angka enam tepat di bawah seratus enam puluh sembilan. Ini adalah rubber game, set penentuan!

Enam dikali sembilan sama dengan lima puluh empat. Netting tipis kali ini nyaris mengecoh pertahanan, Bashir tak boleh lengah. Ia menulis angka empat di papan dan "menyimpan" angka lima di kepalanya. Enam dikali enam jadi tiga puluh enam, lalu dikeluarkanlah simpanan lima menjadi empat puluh satu. Empatnya ia layangkan, dan dihujamkan angka satu. Bashir membayangkan Maria Kristin banting tulang menahan gempuran lob panjang Firdasari, mengumpulkan seluruh sisa tenaga sebelum terlontar serangan balik mematikan.

Set terakhir. Menegangkan! Enam dikali angka satu di barisan paling depan, dihujam smash angka empat. Sepuluh! Ujung spidol Bashir menyentak kuat di papan tulis, pukulan pamungkas yang mengoyak kemapanan Firdasari. Sebuah medali emas terakhir untuk Indonesia di tahun itu. Demikian hasil pertandingan Matematika tersaji di papan tulis kelas 5A, seribu empat belas.

Bashir menyerahkan kembali spidol ke Bu Laras dengan dada membusung. Gema sorak penonton di Nakhon Ratchasima di kepalanya perlahan pudar, digantikan tepuk tangan seisi kelas sembari menatap hasil kerja Bashir. Ia memutar tubuh dengan napas sedikit memburu, lalu melirik tajam ke arah bangku Jakfar sesekali ketika kembali ke tempat duduk asalnya. Akan tetapi Jakfar tak membalas pandang mata dengan ketajaman serupa. Justru tampak kabur dan tergurat datar bibirnya.

Setelah soal terakhir berhasil dikerjakan teman lainnya, Bu Laras melangkah kecil ke tengah dan menatap satu persatu siswanya. Seketika kelas menjadi hening, sepertinya akan ada pengumuman penting terlontar dari bibir tipis berlipstik merah gelapnya.

“Anak-anak sekalian. Perlu diketahui bersama bahwa dua bulan lagi akan dilaksanakan seleksi olimpiade matematika antar kabupaten. Sehingga Bu Laras ingin di antara kalian ada yang menjadi perwakilan kontingen MI Kenar Antarangga dalam olimpiade tersebut.”

Lihat selengkapnya