Rumah Bashir, Gribig, Kudus, 2024.
Makin dekat Bashir dengan rumahnya, kayuhan pedal sepeda kumbangnya makin kencang bak dikejar laju mentari, makin berpacu ke arah barat. Peluh di kening Bashir makin mengucur, mulutnya tak bisa tertutup rapat, mengatur napas sedemikian pula akibat degup jantung kian menggebu.
Hingga kayuhannya berhenti di depan rumah, mulanya Bashir dengan santai melenggang masuk ke garasi, menuntun sepedanya dan memasuki rumah dengan langkah biasanya, akan tetapi…
“Bashir! Mrene!”
Batin Bashir makin tak karuan degupnya. Apakah aksinya di Damaran sudah ketahuan sang ibu? Begitu menggelegar suara Bu Aslamah memaksa langkah Bashir menuju sumber suara, di bagian belakang rumah. Baru sampai pintu dapur, Bu Aslamah memasang sikap berdiri tegak dengan kedua tangan bersedekap. Menanti langkah Bashir makin dekat ke hadapan sang ibu. Begitu jarak antara Bu Aslamah dan Bashir tinggal beberapa sentimeter…
“Aduh, Mah! Aduh, sakit! Kenapa Bashir dijewer, Mah?”
Makin merintih Bashir justru jewerannya makin kuat hingga tampak kemerahan. Meski tinggi tubuh Bashir lebih bongsor dari Bu Aslamah, namun kerasnya jeweran sudah cukup membuat posisi kaki Bashir terseret-seret.
“Awakmu ngapusi Mamah, yho?! JUJUR!”
Satu kata terhentak, makin kuat tangan Bu Aslamah menarik telinga Bashir.
“Aduh, aduh… Bohong masalah apa, Mah? Aduh.”
Makin diseret ke dalam dapur makin keras pula erangan Bashir melengking memecah kelam senja. Hingga terhenti di pintu kamar mandi, berbatasan langsung dengan dapur, Bu Aslamah coba mencerca Bashir dengan beberapa pertanyaan.
“Bashir, kamu tadi habis dari mana?! Jujur sama Mamah atau tak jewer sampai putus kupingmu!”
“Aduh, aduh, Mah! Lepasin, Mah! Ampun!”
Terkaing-kaing suara Bashir sedari tadi makin lirih membuat Bu Aslamah terpaksa melepaskan jewerannya dan coba mencerca Bashir.
“Bashir. Mamah dapat telpon dari Pak Naufal kalau dari tadi kamu ndak ada di bimbel. Kemana aja kamu? Katanya mau ikutan olimpiade, kok gini persiapannya!”
Sebelum amarah Bu Aslamah makin meledak, Bashir akhirnya mengakui apa yang telah ia lakukan sore tadi.
“Tadi Bashir ke Damaran, Mah.”
Raut wajah Bu Aslamah makin masam mendengar pembukaan jawaban itu. Seperti batinnya dihujam keris, sang ibu tetap mencerca Bashir dengan pertanyaan lanjutan.
“Lapo awakmu mrono?!”
“A.. anu, Mah. Dolan karo Damar.”
“Dolan badminton mesti, rha?!”
Tanpa sepucuk kata pun timpalan, anggukan perlahan dari Bashir sudah cukup bagi Bu Aslamah tuk meluapkan amarahnya pada anak semata wayangnya itu.
“Kamu mau bohongi Mamah, ya?! HAH?! Siapa yang ajari kamu bohong?!”
“Maaf, Mah.”
“Wes! Pokoknya mulai besok kamu kalau les harus Mamah antar sampai tempat bimbel. Tidak boleh sendirian kayak tadi!”
Sadar bahwa langit makin malam, belum sempat pula sang ibu menunaikan salat Maghrib, Bashir yang rencana awalnya akan ke masjid pun harus tertunda. Akhirnya Bu Aslamah mempercepat penjatuhan vonis diiringi jari telunjuknya menuding dada Bashir. Amarah Bu Aslamah yang semula meledak kini terpaksa menurun satu oktaf.
“Dan satu lagi, Bashir. Kalau kamu ketahuan lagi main badminton, Mamah gak bakal kasih kamu uang jajan! Emang Mamah ngelesi kamu itu bayar pake daun?! Bayar bimbel di Jember sana mahal, Nang! Ya Allah… awakmu malah sak penak’e dhewe!”
Tampak berlinang mata Bashir meski kepalanya menunduk dan dalam posisi masih berdiri. Mungkin yang tersisa dari malam itu hanya gerundel di batinnya karena impiannya sebagai pemain bulu tangkis mungkin akan kandas. Mengingat pendaftaran audisi umum akan ditutup sebentar lagi.
“Yowes, kamu masuk ke kamar sana! Sholat di kamar saja hari ini. Fokus sama persiapan olimpiade matematika. Awas kalau kepikiran badminton lagi, ra bakal tak tukokno raket koe!”
Mendengar vonis itu, Bashir langsung mengambil wudu di kamar mandi yang tak jauh dari dapur itu dan segera masuk kamar dengan suara pintu tertutup amat keras, tanpa memandang wajah ibunya di dapur.