Rahasia Tampah Terbang: Menghitung Takdir Bashir

Ahmed Zeyn Fedawani
Chapter #10

BAB IX: SUMUR SUNAN KEDU

Masjid Wali At-Taqwa, Gribig, Kudus, 2024.

Astaghfirullaahal 'azhiim, alladzii laa ilaaha illa huwal hayyul qayyuumu wa atuubu ilaih.

Selawat dan zikir selepas Isya menggema, menyisakan keheningan di sudut-sudut masjid yang corak-corak klasik di soko guru dan mihrab berpadu pintu-pintu kaca modern. Bashir masih duduk bersila, melipat sarungnya dengan rapi, matanya tak lepas dari sosok Mbah Wasih, tampak menyelesaikan lipatan sajadahnya. Janji tentang kisah lanjutan Sunan Kedu dan rahasia tempat wudu masa lalu membuat rasa kantuk dan penat akibat bayang-bayang rumus Matematika menguap ke langit kelam.

"Ayo, Ngger. Ikut Mbah sebentar," ajak Mbah Wasih dengan suara parau, menenangkan.

Pria paruh baya itu bangkit, merapikan letak pecinya, melangkah ke sisi utara bagian dalam masjid. Bashir mengekor di belakangnya dengan langkah hati-hati, seolah takut suara telapak kakinya merusak ketenangan malam. Mereka melewati deretan soko guru dari kayu jati, berbelok ke sebuah ruangan yang selama ini jarang diperhatikan oleh anak-anak seumuran Bashir saat mengaji.

Di bagian belakang ruang itu, terdapat sebuah sumur dengan susunan batu bata merah rapi dan dihiasi beberapa corak khas masa para sunan. Udara di dalam ruangan itu terasa jauh lebih sejuk, dalam imajinasi Bashir angin malam berembus, membawa aroma sejarah yang hidup di depan matanya. Pencahayaan di sana hanya dibantu oleh sebuah lampu pijar temaram, memantulkan cahaya keemasan pada permukaan dinding sumur serta tulisan yang terukir di atas papan baja.

"Ini sumur peninggalan Kanjeng Sunan Kedu, Ngger," jelas Mbah Wasih sembari menunjuk sebuah sumur kecil yang tertata rapi dan sudah dibatasi dengan pembatas besi dan ditutupi dengan penutup dari kaca dan besi.

"Sumur ini..." Bashir bergumam, matanya membesar penuh kekaguman. "Ini tempat wudunya Kanjeng Sunan Kedu dulu, Mbah?"

Mbah Wasih mengangguk pelan, senyum teduhnya merekah. Ia duduk di atas lantai keramik putih polos, lantas mengisyaratkan Bashir tuk duduk di sampingnya.

"Leres. Sebelum area tempat wudu di selatan dan barat itu dibangun, di sinilah Kanjeng Sunan Kedu dan para cantriknya dulu menyucikan diri. Air dari sumur ini tidak pernah kering meski kemarau panjang melanda Gribig. Nah, ning kene wae, Mbah bakal melunasi janji menceritakan kisah perjalanan Kanjeng Sunan Kedu setelah manjing Islam sepenuhnya dan selesai merguru dari Kanjeng Sunan Kudus."

Bashir memperbaiki posisi duduknya. Udara sejuk dari sumur itu seolah merasuk ke dalam pori-porinya, menjernihkan pikirannya yang sejak sore tadi dibuat kalut oleh obsesi ibunya tentang olimpiade matematika. Kini, hanya ada dia, Mbah Wasih, dan lorong waktu bersiap menariknya kembali ke abad keenam belas.

"Mirengke, Ngger,"

Mbah Wasih memulai, suaranya kini mengambil nada yang lebih dalam dan berwibawa, seakan roh sejarah sedang berbicara melalui pita suaranya.

"Setelah pertobatan nasuha, tobat sejati di lantai kayu Langgardalem, Mbah Abdul Bashir setelah merguru dan menyesap seluruh ilmu Kanjeng Sunan Kudus. Nanging setelah selesai masa mondoknya, ada takdir besar yang telah digariskan Gusti Allah…"

*****

Masjid Menara Kudus (Masjid Al-Aqsa), Tajug, Tahun 1500-an.

Fi hubbi Sayyidina Muhammad. Nurun libadril Huda mutammam.

Allahumma sholli ala Muhammad. Ya Robbi sholli alaihi wa sallim.”

Lantunan selawat menggema dari puluhan santri, duduk bersila membentuk setengah lingkaran di serambi utama Masjid Al-Aqsa. Udara Tajug hari itu terasa sakral. Asap tipis dari pembakaran kayu gaharu meliuk-liuk di udara, menyisipkan keharuman surgawi, menenangkan batin siapa saja yang menghirupnya. Struktur penyangga bangunan didominasi kayu, pengimaman terbuat dari susunan bata merah dan terpatri prasasti batu hitam dari Palestina menjadi saksi bisu transisi zaman nan damai.

Di tengah alunan serempak selawat penenang jiwa dan suasana Tajug kala itu, Kanjeng Sunan Kudus duduk dengan punggung tegak di atas hamparan permadani sutra. Sorban hijaunya menjuntai rapi, membingkai wajahnya yang bercahaya, sarat kebijaksanaan. Mata teduhnya memandang satu persatu barisan santri, sebelum akhirnya menetap pada satu sosok pria bertubuh kekar yang duduk dengan kepala menunduk dalam-dalam.

"Abdul Bashir," panggil Sunan Kudus.

Suaranya tidak keras, namun gaungnya seolah mampu menggetarkan dinding-dinding bata merah di sekeliling mereka.

Pemuda asal Kedu itu segera mengangkat wajahnya perlahan. Ia bukan lagi pemuda arogan yang terbang di atas tampah sambil meneriakkan tantangan. Tubuh kekar dan zirah perang yang dulu kerap kotor oleh debu peperangan dan lumpur keangkuhan kini telah berganti dengan pakaian putih bersih perlambangkan kejernihan hatinya.

"Sendika dawuh, Kanjeng Sunan," jawab Abdul Bashir dengan suara parau penuh rasa takzim.

Ia merangkak maju dengan laku ndodok, berjalan dengan posisi jongkok, menunjukkan penghormatan tertinggi kepada sang guru yang telah meruntuhkan tembok kesombongannya.

"Mriki, Ngger. Mendekatlah."

Di hadapan puluhan pasang mata santri inti, menatap dengan penuh kekhidmatan, Sunan Kudus mengulurkan tangan kanannya.

"Mulai dinten puniki, aku melihat cahaya ketauhidan telah benar-benar bertahta di dalam dadamu. Kesombongan masa lalumu telah ditebus dengan kepatuhan dan kehausan yang luar biasa terhadap ilmu agama. Oleh karena itu, di hadapan Gusti Allah dan para santriku, aku meresmikan kedudukanmu bukan lagi sekadar murid. Mulai hari ini, engkau kuberikan gelar keulamaan. Engkau adalah Sunan Kedu."

Mendengar pengukuhan itu, tubuh Abdul Bashir bergetar hebat. Air mata yang selama ini ia tahan akhirnya tumpah membasahi pipinya. Gelar 'Sunan' bukanlah sesuatu yang bisa disandang oleh sembarang orang. Sebuah amanah teramat berat, tanggung jawab untuk menjadi mercusuar petunjuk bagi umat manusia. Para santri di serambi serentak mengucapkan tahmid, Alhamdulillah, menyambut kelahiran seorang pendakwah baru.

"Matur sembah nuwun atas kemurahan hati dan bimbingan Panjenengan, Kanjeng Sunan. Kula tidak tahu bagaimana harus membalas budi baik ini," ucap Sunan Kedu terbata-bata, tak mampu menyeka air mata karena mempertahankan sikap sungkemnya.

"Balaslah dengan menyebarkan risalah suci ini, Ngger," balas Sunan Kudus tersenyum lembut.

"Karena engkau telah menyandang nama daerah asalmu, maka sudah sepantasnya engkau kembali. Berdakwahlah, kembalilah ke tanah Kedu, ke wilayah Temanggung. Terangilah masyarakat di sana dengan cahaya Islam sebagaimana engkau telah diterangi di Tajug ini."

Seketika, senyum haru di wajah Sunan Kedu memudar. Bahu yang tadinya tegap perlahan merosot. Ada pergolakan hebat tiba-tiba berkecamuk dalam batinnya. Kembali ke Temanggung? Pikiran itu adalah sebuah mimpi buruk yang tidak pernah ia persiapkan.

"Nga… ngapunten, Kanjeng Sunan..." Sunan Kedu memberanikan diri membuka suara, menangkupkan kedua tangannya di depan dada, menyembah dengan penuh kerendahan hati.

Lihat selengkapnya