Rahasia Tampah Terbang: Menghitung Takdir Bashir

Ahmed Zeyn Fedawani
Chapter #11

BAB X: PERTAUBATAN LANGGARDALEM

Masjid Wali At-Taqwa, Gribig, Kudus, 2024.

“Jadi… masjid ini dulunya peninggalan Kanjeng Sunan Kedu, ya Mbah?”

Bener kuwi, Ngger. Termasuk sumur ini dan Batu Kenong yang tadi mbah ceritakan. Tempat yang biasa digunakan Kanjeng Sunan buat nyepi dan zikiran.”

Udara di dalam ruangan berdinding polos itu semakin malam terasa makin menusuk tulang. Namun, bagi Bashir, kesejukan merambat keluar dari permukaan sumur keramat itu, seolah menjadi penawar bagi kepalanya yang seharian mendidih oleh rumus-rumus.

Setelah Mbah Wasih menyelesaikan kisahnya tentang sabda kemakmuran Sunan Kudu, seketika mata Bashir berbinar. Imajinasi anak sebelas tahun itu masih melayang di atas hamparan ladang daun emas abad keenam belas. Namun, ada satu kepingan sejarah yang masih mengganjal di benaknya.

"Mbah," panggil Bashir pelan, memecah hening.

Matanya menatap wajah keriput yang diterpa cahaya lampu temaram itu. "Kalau Bashir boleh tahu, di mana letaknya Batu Kenong itu? Letaknya di sebelah mana, Mbah?"

Mbah Wasih tersenyum lebar hingga deretan gigi kuningnya terlihat. Ia mengangkat tangan kanannya, menepuk lutut Bashir dengan lembut.

"Wah, rupanya rasa penasaranmu belum tuntas, Ngger," kekeh Mbah Wasih pelan.

Pria sepuh itu kemudian menengadah, melihat ke arah ventilasi kecil di mana warna langit malam Gribig sudah pekat sepenuhnya.

"Tapi, sepertinya rahasia tentang Batu Kenong itu harus Mbah simpan dulu untuk lain waktu. Ini sudah larut malam. Angin malam di ruangan ini tidak baik untuk anak-anak seumurmu kalau terlalu lama."

Bashir menghela napas, setengah kecewa namun menyadari kebenaran ucapan sang marbot sepuh. Bayangan wajah Bu Aslamah yang bersedekap di depan pintu dapur dengan tatapan menghakimi seketika melintas, mengusir semua bayangan magis abad keenam belas dari kepalanya.

"Nggih, Mbah," ucap Bashir seraya menunduk.

Ia merapikan lipatan sarungnya dan bersiap bangkit.

"Bashir juga harus segera pulang. Dua minggu lagi sudah seleksi delegasi olimpiade matematika. Kalau Bashir tidak belajar malam ini dan besok nilainya jelek lagi, Mamah pasti marah besar. Malah ndak jadi dibelikan raket baru lagi, Mbah."

Mbah Wasih ikut bangkit, menatap teduh punggung anak bongsor itu. "Sinau sing sregep gih, Ngger. Tapi ingat pesan Mbah, kejernihan batin itu lebih utama dari sekadar angka-angka di atas kertas. Berdoa pada Gusti Allah agar dimudahkan segalanya."

"Bashir pamit, Mbah. Assalamu’alaikum."

"Waalaikumsalam wa rahmatullah. Nggih, sing ngati-ati."

Langkah kaki Bashir menjauh, meninggalkan ruangan sumur tua yang kembali ditelan sepi. Malam itu, di bawah kayuhan sepeda kumbangnya yang membelah jalanan Gribig, Bashir membulatkan tekad. Ia harus menang. Ia harus membungkam Jakfar, menebus masa lalu ibunya, dan merebut kembali haknya untuk mengayunkan raket.

****

Dua Minggu Kemudian.

Aula MI Kenar Antarangga, Kudus.

Aroma pembersih lantai lemon mendominasi udara di dalam Aula MI Kenar Antarangga. Ruangan luas tak bersekat itu biasanya digunakan untuk latihan kesenian atau pertemuan wali murid, namun pagi ini, suasananya berubah menyerupai arena gladiator.

Dua belas siswa-siswi dari kelas 5A hingga 5D berkumpul. Semuanya duduk lesehan di atas karpet hijau, diatur dengan jarak dua rentangan lengan antara satu anak dengan anak lainnya. Tidak ada meja. Mereka hanya berbekal papan alas ujian, pensil 2B, dan penghapus. Keringat dingin mulai sebesar biji jagung mengintip di dahi beberapa anak, tak terkecuali Bashir.

Di depan anak-anak itu, Bu Laras berdiri memegang setumpuk map cokelat berisi lembar soal yang masih disegel. Wajah guru beralis tebal dan berpipi tirus itu tampak jauh lebih serius dari biasanya.

"Anak-anak, perhatikan Ibu sebentar," suara Bu Laras menggema, memantul di dinding-dinding aula.

"Hari ini adalah penentuan. Dari dua belas anak terbaik yang duduk di ruangan ini, MI Kenar Antarangga hanya akan mengambil dua orang delegasi untuk dikirim ke tingkat Kabupaten Kudus."

Terdengar helaan napas tertahan dari beberapa siswa. Dua orang. Hanya dua orang.

"Mengingat anggaran madrasah untuk pembinaan lomba tahun ini sangat terbatas, kita tidak bisa mengirim banyak perwakilan seperti tahun-langkah sebelumnya. Oleh karena itu, kita butuh yang paling siap, paling cepat, dan paling tepat. Waktu kalian hanya 60 menit untuk mengerjakan 50 soal pilihan ganda dan isian singkat. Ingat, tidak ada waktu untuk menoleh! Kerjakan dengan jujur."

Bashir menelan ludah. Kerongkongannya terasa sekering kemarau. Enam puluh menit untuk lima puluh soal berarti ia hanya punya waktu kurang dari satu setengah menit untuk setiap soal yang rumitnya minta ampun.

Bashir melirik tajam ke arah kanan. Berjarak sekitar dua meter darinya, Jakfar duduk dengan sangat tenang. Anak laki-laki berkacamata tebal itu tak terlihat panik sedikit pun. Ia sibuk menata posisi pensil mekaniknya, sesekali membetulkan letak kacamatanya dengan jari telunjuk. Melihat ketenangan Jakfar, perut Bashir terasa mual oleh rasa iri dan tekanan yang bercampur aduk. 'Aku harus mengalahkannya. Aku tidak sudi melihat wajah sok polosnya itu mewakili sekolah,' batin Bashir, giginya bergemeretak pelan.

"Baik, waktu dimulai dari sekarang!" titah Bu Laras bersamaan dengan bunyi ketukan spidol di papan tulis whiteboard seakan beralih fungsi menjadi penanda waktu.

Sret! Sret!

Suara serentak dari belasan tangan membalik halaman kertas soal memecah keheningan. Bashir langsung menancapkan pandangannya pada soal nomor satu.

Lihat selengkapnya