Rahasia Tampah Terbang: Menghitung Takdir Bashir

Ahmed Zeyn Fedawani
Chapter #12

BAB XI: RAHASIA DAUN EMAS

Masjid Wali At-Taqwa, Gribig, Kudus.

Ruangan berdinding polos, tempat melindungi peninggalan abad keenam belas itu terasa semakin sempit dan pengap, seolah dinding-dindingnya ikut merangsek maju untuk menghimpit tubuh kecil Bashir. Di depan sumur tua itu, suara gemerciknya tak lagi membawa aroma segar sejarah seperti kisah Mbah Wasih tempo lalu. Kini menjelma detak waktu yang menghitung mundur kehancurannya.

Bahu kecil berseragam putih itu terguncang hebat. Bashir duduk meringkuk di atas lantai keramik putih mengkilap, melipat kedua kakinya erat-erat ke dada, lalu menenggelamkan wajahnya di antara dua lutut. Isak tangis yang sedari tadi ia tahan semenjak berlari meninggalkan gerbang MI Kenar Antarangga akhirnya pecah tak terbendung. Suaranya memantul-mantul pelan di langit-langit ruangan itu, menciptakan gaung keputusasaan amat liris, menyentuh ulu hati.

Di dalam kepalanya, rentetan peristiwa siang tadi terus berputar bak kaset kusut. Bayangan wajah Bu Laras berubah merah padam, tatapan kaget dari teman-temannya, dan yang paling menyiksa: ketika suara lensa kacamata Jakfar terlepas akibat kaget dilemparinya pensil dan buku tebal serta serakan catatan. Bashir meremas rambutnya sendiri. Amarah meletup-letup itu kini makin berbuih dan mengepul, meninggalkan rongga kosong terisi rasa malu titik demi titik, penyesalan, dan ketakutan yang teramat sangat.

Aku gagal. Semuanya hancur, batin Bashir meratap.

Bagaimana ia kan pulang sore ini? Bagaimana ia kan menatap wajah ibunya, Bu Aslamah, yang menaruh seluruh sisa harga diri dan harapan hidupnya pada selembar kertas olimpiade matematika itu? Alih-alih membawa pulang piala kebanggaan, Bashir justru membawa pulang aib sebagai anak gagal dan berbuat kasar. Jangankan bermimpi memegang raket baru atau mendaftar audisi PB Manggeh Antishapala, Bashir merasa tak pantas lagi menyebut dirinya sebagai anak sukses dan berkilau di mata kedua orang tuanya. Ia ingin bersembunyi di ruang sumur tua ini selamanya.

Di luar ruangan, matahari mulai menundukkan kepalanya ke ufuk barat. Waktu Asar telah di ambang pintu.

Mbah Wasih melangkah gontai memasuki ruang utama Masjid Wali At-Taqwa, mengenakan baju koko putih bersih dan sarung tenun berwarna tanah. Ia berjalan menuju sudut mimbar tempat perangkat pengeras suara berada. Tangannya yang mulai keriput menekan tombol daya. Terdengar dengung halus amplifier menyala.

Mbah Wasih mengetuk jaring logam mikrofon dua kali.

Namun, sebelum bibirnya sempat melantunkan selawat tarhim sebagai penanda masuknya waktu Asar, telinganya masih tajam menangkap sebuah frekuensi asing meski usia senja. Ada sayup-sayup tangis menyelinap di antara keheningan sore, tertahan jarak dan sekat dinding-dinding masjid.

“Sopo kae sing nangis?” gumam Mbah Wasih sembari mengerutkan kening.

Ia meletakkan kembali mikrofon itu, menajamkan pendengaran. Suara itu berasal dari lorong utara, tempat sumur tua peninggalan Sunan Kedu berada. Dengan langkah perlahan, pria sepuh itu menyusuri lorong temaram itu.

Begitu sampai di ambang pintu lengkung bata merah, langkah Mbah Wasih terhenti. Ia mendapati sosok Bashir meringkuk gemetar, menangis tersedu-sedu. Hati Mbah Wasih berdesir. Ia tidak tahu badai sebesar apa baru saja menghantam anak ini, namun insting kebapakannya segera mengambil alih.

"Lho, Astagfirullahaladzim... Ngger..." panggil Mbah Wasih dengan suara parau sarat kelembutan.

Bashir tersentak. Kepalanya terangkat perlahan. Matanya bengkak dan merah, wajahnya basah oleh air mata dan keringat. Menyadari kehadiran Mbah Wasih, pertahanan Bashir runtuh sepenuhnya. Ia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan, menangis lebih keras.

"Mbah... Bashir gagal, Mbah..." ratap anak itu, suaranya putus-putus tercekik isak tangis.

"Bashir ndak lolos olimpiade... Bashir tadi kepancing emosi, langsung marah-marah, terus ngelempari teman Bashir sampai copot lensa kacamatanya. Bashir takut pulang, Mbah. Mamah pasti kecewa sekali. Cita-cita Mamah hancur karena Bashir bodoh..."

Mbah Wasih melangkah mendekat, lalu duduk di tepi dipan, tepat di sebelah kanan Bashir. Tanpa berkata-kata, pria sepuh itu merengkuh bahu Bashir yang bergetar, menarik anak itu ke dalam rangkulannya. Ia membiarkan seragam Bashir yang lepek oleh keringat membasahi baju kokonya. Tangan kasarnya mengusap punggung Bashir dengan gerakan memutar perlahan, persis seperti seorang kakek sedang menenangkan cucunya.

"Angger dilegakno leh nangis, Ngger. Keluarkan semuanya," bisik Mbah Wasih pelan.

"Gusti Allah Maha Mendengar. Air matamu itu menyucikan kotoran yang menyumbat dadamu."

Mereka berdua terdiam dalam pelukan itu selama beberapa menit, membiarkan harmoni gemercik air sumur peninggalan Sunan Kedu dan isak tangis Bashir mengisi ruangan. Perlahan-lahan, napas Bashir mulai teratur. Guncangan di bahunya mereda.

Mbah Wasih melepaskan pelukannya perlahan, lalu menatap mata Bashir nan sembap. Ia menyeka air mata di pipi anak itu dengan ibu jarinya. Senyum teduh andalannya kembali merekah, membuat kerutan di sudut matanya terlihat jelas.

"Wes plong rha, Ngger?" tanya Mbah Wasih.

Bashir mengangguk lemah, menarik ingusnya.

"Tidak ada manusia yang tidak pernah gagal, Ngger. Kanjeng Sunan Kedu dulu juga pernah gagal dan terjatuh ke lumpur sebelum akhirnya menemukan jalannya," tutur Mbah Wasih bijak.

"Ketakutanmu pada ibumu itu wajar, karena kamu menyayanginya. Tapi lari dari masalah bukanlah sifat seorang ksatria. Sekarang, waktu Asar sudah masuk. Kamu ambil wudu, basuh wajahmu yang panas itu dengan air jernih. Kita salat Asar berjamaah dulu."

Bashir menunduk, ujung kakinya berlapis kaos kaki hitam bergesekan dengan lantai keramik.

"Tapi Bashir masih takut, Mbah..."

Mbah Wasih menepuk lutut Bashir sambil berdiri.

"Nanti, setelah salat Asar, Mbah bakal tunjukkan sesuatu yang kamu pernah tanyakan tempo hari. Mbah akan bawa kamu ke Batu Kenong, tempat Kanjeng Sunan Kedu berkhalwat. Setelah itu, kita berziarah. Mau, Ngger?"

Mendengar janji itu, sepercik cahaya kembali muncul di mata Bashir. Rasa penasarannya pada sejarah sedikit banyak berhasil mengikis rasa takutnya. Ia mengangguk mantap.

Lihat selengkapnya