Rahasia Tampah Terbang: Menghitung Takdir Bashir

Ahmed Zeyn Fedawani
Chapter #13

BAB XII: AIR MATA BU ASLAMAH

Pelataran Makam Sunan Kedu, Gribig, Kudus.

Aroma dupa gaharu masih membumbung tipis di pelataran kompleks makam, berganti kesejukan angin sore yang membawa wangi bunga mawar dan rajangan pandan. Bashir mengusapkan kedua telapak tangan ke wajahnya, mengakhiri rentetan doa yang dipimpin oleh Mbah Wasih di depan pintu kayu berukir menuju ruang makam utama.

Bashir baru saja hendak berdiri dan merapikan seragam madrasahnya ketika seorang pria paruh baya berwajah bersih mendekati Mbah Wasih. Pria itu mengenakan kemeja rapi berbalut jaket biru gelap dengan corak emas di bagian pundak, di punggungnya tertulis Manggeh Antishapala berwarna keemasan. Pria itu menundukkan punggungnya sedikit, menyalami Mbah Wasih dengan penuh takzim.

"Nderek sowan juga, Mbah?" sapa pria itu dengan suara berat yangnamun tetap terdengar sopan.

"Oh, nggih, Pak Haryo. Tumben sore-sore rombongan pabrik rawuh ke sini. Ada hajat apa, ta?" Mbah Wasih membalas sapaan itu dengan senyum ramahnya.

Pria bernama Haryo itu tersenyum simpul, pandangannya menatap perawakan Mbah Wasih dengan penuh rasa hormat.

"Niki, Mbah... Kami dari perwakilan manajemen pabrik daun emas bakar Manggeh Antishapala bermaksud nyuwun palilah, minta izin kepada sesepuh dan pengurus makam. Rencananya, manajemen akan mengirimkan satu ekor kerbau utuh untuk disembelih dan dibagikan dagingnya kepada warga Gribig dalam selapanan Minggu Kliwon ini."

Mbah Wasih sedikit mengangkat alisnya. "Satu ekor kerbau? Wah, royal banget. Biasanya ngirimnya mung pas buka luwur."

"Intruksi dari jajaran direksi di pusat, Mbah. Memang ingin merutinkannya setiap selapan sekali, sebagai bentuk rasa syukur dan hormat dari para petinggi pabrik kepada Mbah Sunan Kedu. Usaha daun emas perusahaan sedang sangat lancar, dan kami percaya berkah dari tanah Gribig ini harus terus dirawat dan dibagikan kembali ke masyarakat sekitar."

Di samping Mbah Wasih, Bashir berdiri mematung. Bola matanya bergantian menengok ke kanan dan kiri, sambil beberapa kali mencerna percakapan orang dewasa di depannya. Cerita Mbah Wasih di belik tadi bukanlah sekadar dongeng pengantar tidur. Di hadapannya kini berdiri bukti hidupnya. Sebuah perusahaan raksasa, menaungi klub bulu tangkis impiannya, secara nyata menundukkan kepala dan menyisihkan hartanya demi menghormati warisan sang wali.

Keyakinan tentang Sunan Kedu, pembawa berkah lewat daun emas itu nyata adanya. Sabda Panguripan itu benar-benar mengalir di urat nadi kota ini. Bashir menganggukkan kepalanya pelan, menyadari betapa kecilnya dirinya dan betapa besarnya ekosistem yang selama ini menghidupi ayahnya sebagai buruh di pabrik tersebut.

Setelah berbincang sejenak mengenai teknis penyerahan kerbau, rombongan petinggi Manggeh Antishapala itu pamit undur diri. Mbah Wasih menepuk pelan bahu Bashir.

"Nah, sudah lihat sendiri kan, Ngger? Kehidupan ini luas. Jangan sampai duniamu sempit hanya karena satu dua soal matematika," bisik Mbah Wasih menenangkan.

"Ayo, kita kembali ke masjid. Teman-temanmu mesti sudah menunggu untuk mengaji."

Bashir mengangguk mantap. Hatinya kini jauh lebih ringan saat melangkah berdampingan dengan Mbah Wasih meninggalkan kompleks makam menuju Masjid Wali At-Taqwa.

*****

Masjid Wali At-Taqwa, Gribig, Kudus.

Semburat jingga di langit Gribig perlahan pudar, berganti sapuan warna biru pekat. Kumandang azan Maghrib baru saja menggema dari pengeras suara masjid, penanda pengajian Yanbu’a dan Al-Qur’an perlu diakhiri dengan lantunan syair penutup majelis dari belasan anak yang mengerumuni sosok Mbah Wasih di serambi masjid.

Biasanya, ada kisah penutup majelis, terutama tentang Sunan Kedu dari lisan Mbah Wasih. Namun malam ini, pria sepuh itu menutup majelisnya dengan cara yang berbeda.

"Anak-anak, malam ini Mbah sedang tidak ingin bercerita," ucap Mbah Wasih, sengaja memberi jeda, membuat wajah anak-anak itu berubah sedikit kecewa.

Namun, senyum usil segera muncul di wajah keriputnya.

"Karena Mbah kebetulan sedang ada sedikit rezeki, Mbah mau mentraktir kalian semua makan bakso di warungnya Bu Karsinah!"

Sontak, serambi masjid itu pecah oleh sorak-sorai kegirangan. Belasan anak-anak itu berteriak kegirangan, beberapa bahkan melompat bangkit, tampak makin bersemangat mengambil air wudu dan mengambil barisan terdepan jamaah salat Maghrib.

Di tengah keriuhan itu, Bashir justru membeku. Udara di sekitarnya mendadak terasa tipis. Warung bakso Bu Karsinah terletak tepat berseberangan dengan rumah ibunya. Garis akhir pelariannya.

Bashir menunduk, menatap nanar seragam MI Kenar Antarangga yang masih melekat di tubuhnya. Kemeja putihnya sudah lepek oleh keringat dingin sedari siang, ujung celana hijaunya membekas kotor, terkena debu saat ia lari membabi buta dari madrasah. Tampilan seragam ini adalah bukti tak terbantahkan bahwa ia belum pulang sejak siang tadi. Ibunya pasti sudah khawatir setengah mati di rumah.

Mbah Wasih menyadari keterdiaman Bashir, hingga ia berjongkok menyejajarkan tubuhnya dengan anak itu.

Wani, Ngger?" tanya Mbah Wasih pelan, suaranya nyaris berbisik di antara riuhnya anak-anak lain.

Bashir menelan ludah bak kerikil tajam. Dadanya bergemuruh hebat, namun saat menatap mata teduh Mbah Wasih ia sadar, anak sebelia dirinya tak bisa melarikan diri selamanya. Bashir mengembuskan napas panjang, meremas ujung kemeja putihnya sejenak, lalu menganggukkan kepala. Ia mengiyakan ajakan itu, mengumpulkan sisa-sisa keberanian yang ia rajut dari pelataran Makam Sunan Kedu sore tadi.

*****

Selepas salat Maghrib berjamaah, Mbah Wasih melangkahkan kaki bersama anak-anak majelis ngaji Yanbu’a-nya yang tampak menuntun sepeda mereka masing-masing. Sedangkan Bashir masih dekat dalam rangkulan Mbah Wasih tanpa pandang aroma kemeja putih Bashir sudah tak karuan.

Sesampainya di warung bakso, belasan anak dengan sarung tersampir di leher duduk berdesakan di bangku kayu panjang. Mereka tertawa lepas, saling berebut kecap dan saus, menikmati traktir dadakan dari sang marbot pujaan. Mbah Wasih sendiri duduk dengan tenang di sudut warung, menyesap teh hangatnya sembari memandangi anak-anak didiknya.

Suara denting sendok beradu dengan mangkuk keramik bergambar ayam jago mendominasi udara malam di warung bakso Bu Karsinah. Kepulan asap beraroma kaldu sapi dan bawang goreng pekat merebak di tiap sudut ruko sederhana dan gerobak bakso tertambat di depan, menggugah selera siapa saja yang melintas.

Bashir duduk di tengah kerumunan itu. Teman-temannya, misal Dira dan Yusuf sesekali menyenggol bahunya, melontarkan lelucon receh khas anak-anak, membuat Bashir tanpa sadar ikut tertawa lepas. Sembari meniup kuah bakso panas, tawa Bashir meledak saat Yusuf tanpa sengaja menumpahkan sedikit sambal ke mangkuknya sendiri hingga kepedasan. 

Lihat selengkapnya