MI Kenar Antarangga, Gribig, Kudus.
Udara dalam ruang kelas 5A terasa lebih dingin dari biasanya, meski kipas angin di langit-langit berputar dengan putaran paling lambat. Abdullah Bashir duduk kaku di bangkunya, menunduk menatap bekas kelupasan kayu mejanya.
Sejak langkah pertamanya memasuki gerbang MI Kenar Antarangga hari ini, Bashir bisa merasakan perubahan atmosfer drastis. Tak ada lagi sapaan usil dari teman-temannya. Setiap kali ia melewati segerombolan siswa di koridor, percakapan mereka mendadak berhenti, berganti lirikan mata menyamping dan bisik-bisik tertahan. Di kelas, teman sebangkunya bahkan sengaja menggeser tas dan duduk sedikit lebih merapat ke arah tembok, menciptakan jarak tegas antara dirinya dan warga MI Kenar Antarangga lainnya.
Bashir tahu, kabar tentang dirinya mengamuk dan melempar wajah Jakfar dengan pensil dan buku tebal di depan Bu Laras telah menyebar bagai api melahap ilalang kering. Ia telah resmi menjadi "si anak kasar yang tidak bisa menerima kekalahan". Rasa terasing itu menggerogoti dadanya, namun Bashir menelan ludah dan menahan diri. Malam tadi, air mata ibunya dan nasihat Mbah Wasih telah mencuci bersih sisa-sisa amarahnya. Hari ini, ia datang dengan satu tekad: ia harus berani meminta maaf kepada Jakfar.
Bashir melirik ke arah bangku Jakfar. Anak berkacamata tebal itu belum datang.
Sembari menunggu, Bashir mencoba menenangkan diri dengan mengeluarkan buku tulis bersampul cokelat dari dalam tasnya. Di halaman tengah buku itu, terdapat coretan naskah panjang tentang legenda Tampah Terbang Sunan Kedu yang sudah ia persiapkan semalaman. Pelajaran Bahasa Jawa akan berlangsung setelah jam istirahat pertama nanti, dan tugas menceritakan kisah rakyat itu adalah satu-satunya jimat kepercayaan diri Bashir hari ini.
Lamunannya terpecah saat derap langkah sepatu berhak tinggi terdengar mengetuk lantai keramik lorong.
Hati Bashir tak karuan. Pelajaran pertama hari ini adalah Matematika.
Pintu kelas berderit terbuka. Bu Laras melangkah masuk dengan raut wajah lebih kaku dari kanebo kering. Tak ada senyum sapaan seperti biasanya. Mata tajamnya di balik riasan tipis langsung meneliti seluruh penjuru kelas, dan seketika terkunci pada satu titik: bangku Bashir.
"Abdullah Bashir," panggil Bu Laras. Suaranya tidak membentak, namun dinginnya mampu membekukan udara kelas.
Bashir bangkit berdiri, menundukkan kepalanya. "I... iya, Bu."
"Maju ke depan!"
Dengan langkah gontai dan kaki seberat bandul besi, Bashir berjalan ke depan papan tulis. Tiga puluh pasang mata teman-temannya menatapnya dalam diam.
"Anak-anak," suara Bu Laras menggema, "Madrasah ini tidak hanya mendidik kalian untuk menjadi pintar secara akademis, tetapi juga mendidik akhlak. Percuma otak kalian semerlang Jakfar jika hati kalian sekotor lumpur, tidak bisa menerima kekalahan, dan melukai teman sendiri. Tidak ada jiwa ksatria di dalam kekerasan."
Bu Laras menoleh menatap Bashir.
"Sebagai hukuman atas ketidakjujuranmu di detik terakhir ujian dan tindakan kasarmu kemarin, kamu harus berdiri di depan kelas ini. Angkat satu kakimu, dan pegang kedua telingamu. Jangan kembali ke bangku sampai bel istirahat pertama berbunyi."
Hukuman itu sangat memalukan. Namun, alih-alih memberontak atau merengut, Bashir hanya mengangguk pelan. Ia meletakkan kedua tangannya di telinga dan mengangkat kaki kanannya.
Aku pantas menerimanya, batin Bashir.
Menit demi menit berlalu seperti tetesan air terjatuh dari daun di musim kemarau. Keringat mulai membasahi pelipis Bashir. Betis kirinya gemetar menahan bobot tubuhnya. Sesekali ia oleng, namun segera menyeimbangkan diri. Punggungnya terasa panas oleh puluhan tatapan mata menghunus dari belakang. Di pertengahan jam pelajaran, Jakfar baru tiba dan masuk ke kelas dengan pelipis masih sedikit memerah. Saat melewati Bashir, Jakfar hanya menunduk, tak berani menatap mata anak yang sedang dihukum itu.
Bashir mengertakkan gigi, menahan pegal luar biasa. Ia mengalihkan rasa sakit di kakinya dengan memutar kembali kisah masa lalu di kepalanya. Sunan Kedu dihukum jatuh ke lumpur Jember karena kesombongannya. Aku dihukum berdiri karena amarahku. Ini pertaubatanku.
Tung, tung, tung, tung. Saatnya istirahat pertama.
Suara bel istirahat akhirnya berbunyi, menyelamatkan sisa-sisa tenaga Bashir.
"Pelajaran Ibu akhiri sampai di sini. Bashir, kamu boleh turun," ucap Bu Laras seraya merapikan buku-bukunya dan melangkah keluar kelas.
Begitu sosok Bu Laras menghilang dari ambang pintu, seisi kelas langsung berhamburan keluar layaknya lebah keluar dari sarang. Bashir menurunkan kakinya yang kebas. Ia terhuyung sedikit, bersandar pada pinggiran papan tulis sambil memijat betisnya. Napasnya terengah-engah. Kelas perlahan menjadi sepi.
Bashir baru saja hendak melangkah tertatih kembali ke bangkunya saat ia menyadari bahwa ia tidak sendirian.
Dari barisan bangku tengah, dua sosok anak laki-laki berjalan menghampirinya. Damar melangkah di depan, sementara di belakangnya, Jakfar mengekor dengan langkah ragu, membawa sebuah tas panjang berbentuk raket terbuat dari bahan kain tebal berwarna biru gelap.
Jantung Bashir berdegup kencang. Ia segera berdiri tegak, meremas ujung seragamnya. Bashir sudah menyiapkan rentetan kalimat permintaan maaf di ujung lidahnya, siap menundukkan kepala sedalam-dalamnya.