Rahasia Tampah Terbang: Menghitung Takdir Bashir

Ahmed Zeyn Fedawani
Chapter #15

EPILOG: PANGURIPAN

GOR PB Manggeh Antishapala, Pejaten, Kudus.

Decit karpet karet sintetis bergesekan dengan sol sepatu mendominasi udara GOR Manggeh Antishapala di Pejaten. Bagi Abdullah Bashir, aroma ini lebih memabukkan daripada gending maupun musik apapun; ini adalah instrumen mimpi yang sedang dibangun.

Hamparan enam belas lapangan bulu tangkis tergelar di dalam gelanggang raksasa itu disorot oleh lampu-lampu gantung benderang, menciptakan panggung tanpa bayangan bagi ribuan anak dari seluruh penjuru negeri. Suara pantulan raket menggema tiada henti, bersahut teriakan pelatih dan panitia pemantau bak sebuah orkestra olahraga nan megah.

Hari ini adalah hari penentuan Tahap Screening atau seleksi fisik dan teknik dasar dalam Audisi Umum PB Manggeh Antishapala. Di pinggir lapangan nomor empat, Bashir berdiri dengan dada naik-turun. Keringat membanjiri kaos jerseynya. Ia baru saja menyelesaikan tes agility atau kelincahan dan shuttle run di bawah pengawasan langsung para legenda bulu tangkis yang kini memegang papan dada dan pena penentu nasib.

Di tribun penonton berjarak beberapa meter di atasnya, dua sosok yang paling berarti bagi Bashir berdiri dengan wajah tegang. Pak Galang tak henti-hentinya mengepalkan tangan, menahan degup kencang jantungnya, sementara Bu Aslamah berdiri di sampingnya dengan kedua tangan tertaut erat di depan dada. Bibir wanita paruh baya itu komat-kamit merapalkan doa. Tak ada lagi sisa-sisa wajah garang dari sang ibu, yang tampak kini hanyalah sorot mata seorang ibu menaruh seluruh napasnya tuk keselamatan dan keberhasilan putranya.

"Bashir! Kakimu lebih cepat saat footwork mundur!" teriak Pak Galang memecah keriuhan, tangannya membentuk corong di depan mulut.

Bashir mengangguk, mengusap keringat di dahinya, lalu kembali mengambil posisi kuda-kuda. Raket peninggalan almarhum ayah Jakfar tergenggam erat di tangan kanannya, terasa seringan kapas namun sekokoh baja. Ia melakukan pukulan lob panjang ke sudut belakang, berlari menyilang, lalu melakukan simulasi defense dengan kelenturan tubuh memukau jajaran penyeleksi.

Empat jam tekanan fisik dan mental itu akhirnya usai. Bashir dan Damar duduk selonjoran di pinggir lapangan, menenggak air mineral hingga tandas.

"Perhatian seluruh peserta! Hasil seleksi Tahap Screening akan ditempel di papan pengumuman lobi dalam sepuluh menit!"

Suara dari pelantang suara GOR membuat jantung ribuan peserta seolah berhenti berdetak.

Kerumunan massa segera membelah lobi GOR. Pak Galang dengan tubuh tingginya menerobos barisan wali murid yang berdesakan, sementara Bu Aslamah memegang erat bahu Bashir di barisan belakang. Mata Pak Galang menyapu deretan kertas putih yang tertempel di papan mading.

Tiba-tiba, Pak Galang membalikkan badan. Matanya berkaca-kaca, senyumnya melebar hingga memperlihatkan giginya. Ia mengacungkan jempol tinggi-tinggi.

"Lolos, Nang! Namamu dan Damar ada di daftar kualifikasi turnamen!" seru Pak Galang menembus keriuhan.

Bu Aslamah spontan menjerit kegirangan. Tanpa memedulikan tatapan orang di sekelilingnya, ia memeluk Bashir erat-erat, menciumi puncak kepala putranya yang basah oleh keringat.

"Alhamdulillah, Gusti... Hebat kamu, Nang! Hebat!"

Bashir dan Damar saling beradu kepalan tangan.

Tos!

Langkah pertama telah berhasil ditaklukkan. Namun, mereka berdua sadar, badai yang sesungguhnya baru akan tiba di tahap turnamen.

*****

Dua Minggu Kemudian. Babak Final Penentuan Tiket Emas.

Gegap gempita di GOR Manggeh Antishapala meningkat sepuluh kali lipat. Ribuan peserta telah gugur, menyisakan segelintir talenta terbaik yang kini harus bertarung di atas karpet hijau, memperebutkan "Tiket Emas" menuju tahap karantina dan beasiswa penuh dari klub.

Bashir telah melewati empat pertandingan kualifikasi dengan kemenangan gemilang. Logika matematikanya yang dulu ia benci kini justru menjadi senjata rahasia. Ia menghitung presisi jatuhnya kok, mengukur sudut pantulan smash, dan memprediksi garis lintasan dropshot lawan layaknya menyelesaikan soal geometri di udara.

Kini, di pertandingan penentu, Bashir berdiri berhadapan dengan lawannya di seberang net. Namanya Farid Izzudin. Anak berpostur tinggi besar dengan kulit gelap terbakar matahari itu berasal dari Temanggung.

Mendengar asal kota lawannya, seulas senyum tipis sempat melintas di bibir Bashir. Temanggung. Kota asal Kanjeng Sunan Kedu. Seolah semesta sengaja mempertemukan sejarah masa lalu dengan masa depannya di atas lapangan ini. Farid memiliki gaya bermain persis seperti penggambaran Sunan Kedu di masa lalunya: meledak-ledak, agresif, dan mengandalkan kekuatan fisik luar biasa.

Di tribun penonton, barisan pendukung Bashir tak lagi hanya berisi Pak Galang dan Bu Aslamah. Jakfar dan ibunya, Bu Rukhil, ikut duduk di sana. Jakfar mengenakan kacamata barunya, tangannya menggenggam dua botol air mineral kosong saling berpukulan sebagai alat perkusi dadakan. Di sebelahnya, Bu Rukhil menatap ke arah lapangan dengan mata teduh namun menyembunyikan kerinduan amat dalam. Melihat raket almarhum suaminya menari kembali di udara, seolah mengobati luka lama urung sembuh.

"Ayo, Shir! Bantai!" teriak Jakfar menanggalkan citra anak pendiamnya, suaranya serak berteriak sedari tadi.

Pertandingan berlangsung sangat brutal dan menguras emosi. Rubber game. Set penentuan. Papan skor elektronik menunjuk angka kritis, 20-19. Match point untuk Bashir.

Lihat selengkapnya