Di Wanasari, setiap bayi perempuan disambut dengan tujuh hari pesta.
Setiap bayi laki-laki disambut dengan tujuh hari doa.
Tidak ada yang pernah menjelaskan mengapa keduanya harus berbeda.
Orang-orang Wanasari menganggapnya sebagai sesuatu yang sudah ada sejak dahulu kala. Seperti matahari yang terbit dari timur, seperti hujan yang jatuh dari langit, seperti tanah yang selalu basah selepas musim penghujan.
Hal-hal yang sudah berlangsung terlalu lama biasanya berhenti membutuhkan alasan.
Jatmika pertama kali mengetahui perbedaan itu ketika usianya tujuh tahun.
Ia masih ingat pagi tersebut.
Nyi Raras sedang menjemur kain di halaman ketika dari rumah sebelah terdengar suara gamelan. Ada orang menabuh kendang, ada perempuan-perempuan tertawa, dan dari dapur rumah itu tercium bau santan, daun salam, serta daging yang sedang dimasak.
"Anaknya perempuan," kata Jatmika.
Nyi Raras tidak menjawab.
"Kenapa mereka pesta?"
Nyi Raras mengangkat selembar kain, merentangkannya di tali, lalu menjepit kedua ujungnya dengan kayu.
"Karena perempuan."
Jatmika mengerutkan kening.
"Kalau anak laki-laki?"
Nyi Raras menoleh.
Perempuan tua itu sudah berusia hampir tujuh puluh tahun. Rambutnya putih seluruhnya, tetapi punggungnya masih tegak. Orang-orang di Wanasari mengatakan Nyi Raras mengetahui sejarah desa lebih baik daripada para kepala desa yang pernah memerintah.
Bahkan ada yang bilang, kalau semua buku sejarah Wanasari terbakar, Nyi Raras masih bisa menceritakannya dari awal sampai akhir.
"Anak laki-laki tidak perlu dirayakan," katanya.
"Kenapa?"
Nyi Raras mengambil kain berikutnya.
"Karena dia nanti akan menjadi milik orang lain."
Jatmika tidak mengerti.
Ia memandangi rumah sebelah.
Di sana, perempuan-perempuan sudah membawa nampan berisi nasi kuning. Anak-anak berlarian. Beberapa lelaki duduk di teras, tetapi tidak ada seorang pun yang ikut menabuh gamelan.
"Memangnya aku milik siapa?"
Nyi Raras berhenti bekerja.
Untuk beberapa detik, ia hanya menatap cucunya.
Kemudian ia berkata pelan,
"Kau milik Wanasari."
Jatmika menganggap jawaban itu lucu.
Ia tertawa.
Nyi Raras tidak.
---
Wanasari adalah desa yang dibangun di antara dua bukit.
Di sebelah utara ada hutan jati. Di sebelah selatan terbentang sawah yang panjangnya hampir mencapai sungai. Rumah-rumah berdinding bata berdiri berdekatan, dengan halaman yang dipenuhi pohon mangga, pisang, dan kelapa.
Pada musim penghujan, jalan desa menjadi lumpur.
Pada musim kemarau, debu menempel di kaki.
Tidak ada yang istimewa dari Wanasari jika dilihat dari jauh.
Namun jika seseorang tinggal cukup lama di sana, ia akan menyadari satu hal.
Wanasari adalah desa yang diperintah oleh perempuan.
Bukan sekadar karena kepala desanya perempuan.
Sejak dua ratus tahun terakhir, seluruh tanah keluarga diwariskan melalui garis perempuan. Nama keluarga mengikuti ibu. Rumah menjadi milik anak perempuan. Dalam perkawinan, laki-laki meninggalkan rumah orang tuanya dan tinggal di rumah keluarga istrinya.
Laki-laki tidak dilarang bekerja.
Mereka justru diharuskan bekerja.
Hanya saja hasil pekerjaan mereka dianggap sebagai bagian dari kewajiban terhadap keluarga perempuan.
Begitulah hukum Wanasari.
Hukum yang sudah begitu tua sampai orang-orang tidak lagi menyebutnya hukum.
Mereka menyebutnya adat.
Jatmika tumbuh di dalam semua itu tanpa pernah mempertanyakannya.
Ia sekolah bersama anak-anak laki-laki dan perempuan. Ia bermain layang-layang di sawah. Ia pernah jatuh dari pohon jambu dan mendapat luka di dagu yang sampai sekarang masih meninggalkan garis tipis.
Ia tahu anak perempuan akan mendapat rumah dari ibunya.
Ia tahu anak laki-laki harus meninggalkan rumah setelah menikah.
Ia tahu perempuan menjadi kepala keluarga.
Ia tahu lelaki harus meminta izin kepada istrinya jika hendak menjual sesuatu yang bernilai besar.
Semua itu baginya biasa.
Sampai suatu hari seorang anak laki-laki bernama Ranu menghilang.
Ranu adalah teman sekolah Jatmika.
Usianya sebelas tahun.