Jatmika tidak pernah menyukai pagi setelah hujan.
Tanah di halaman menjadi lembek. Sandalnya mudah terbenam. Jalan menuju sekolah berubah menjadi lumpur yang menempel sampai betis. Lebih buruk lagi, pada pagi seperti itu Nyi Raras biasanya bangun lebih awal dan membuat sarapan tanpa banyak bicara.
Pagi setelah percakapan tentang ayahnya adalah salah satunya.
Jatmika duduk di depan meja makan.
Ada nasi hangat, telur dadar, sambal terasi, dan segelas teh.
Nyi Raras berdiri membelakanginya, mencuci piring.
"Jangan pergi ke rumah Ranu," katanya.
Jatmika berhenti mengunyah.
"Aku tidak bilang mau ke sana."
"Tapi kau memikirkannya."
Jatmika menatap punggung neneknya.
"Bagaimana Nenek tahu?"
"Nenek membesarkanmu."
Jawaban itu terdengar sederhana, tetapi Jatmika tahu ada sesuatu yang lebih besar di baliknya.
Sejak ibunya meninggal, Nyi Raras memang selalu tahu apa yang ia lakukan. Ia tahu kapan Jatmika berbohong. Tahu kapan ia menyimpan uang jajannya. Tahu kapan ia pulang terlambat. Bahkan tahu kalau Jatmika pernah memecahkan genteng tetangga karena bermain batu.
Tetapi pagi itu terasa berbeda.
"Nenek takut aku bertanya tentang Ranu?"
"Tidak."
"Takut aku bertanya tentang Ayah?"
Nyi Raras tidak menjawab.
Jatmika menunduk.
Ia ingin bertanya lagi, tetapi sesuatu menahannya.
Kadang-kadang diam seseorang jauh lebih keras daripada jawaban.
---
Di sekolah, bangku Ranu masih kosong.
Tidak ada yang duduk di sana.
Guru mereka, Bu Sinta, bahkan tidak memindahkan kursi itu.
Jatmika beberapa kali meliriknya selama pelajaran matematika.
Di papan tulis, Bu Sinta menulis angka-angka dengan kapur putih. Suaranya datar menjelaskan pecahan, sementara cahaya matahari masuk melalui jendela dan jatuh tepat di bangku kosong itu.
Jatmika tiba-tiba teringat gambar kapal yang pernah dibuat Ranu.
Sebuah kapal dengan layar besar.
Di bawahnya tertulis:
LAUT TIDAK PUNYA RUMAH.
Jatmika pernah menertawakan kalimat itu.
Sekarang tidak.
Saat bel istirahat berbunyi, seorang anak perempuan bernama Laras menghampirinya.
"Jatmika."
"Apa?"
"Kau masih mau mencari Ranu?"
Jatmika menatapnya.
"Kenapa?"
Laras duduk di kursi depan.
"Ibunya datang kemarin."
"Ke sekolah?"
"Iya."
"Ngapain?"
"Mengambil buku-bukunya."
Jatmika diam.
"Lalu?"
"Lalu Bu Sinta bilang Ranu tidak akan sekolah lagi."
"Karena menikah?"
Laras mengangguk.
Jatmika merasakan sesuatu yang panas di dadanya.
"Dia baru sebelas tahun."
"Di Wanasari banyak yang menikah muda."
"Laki-laki?"
Laras mengangkat bahu.
"Kalau keluarga sudah memutuskan, umur tidak terlalu penting."
Jatmika berdiri.
"Mereka membawanya ke mana?"
Laras melihat sekeliling sebelum menjawab.
"Ke rumah keluarga ibunya di Dusun Karang."
"Jauh?"
"Satu jam naik sepeda."
Jatmika mengambil tas.
"Mau ke mana?"
"Ke sana."
Laras memegang lengannya.
"Jangan."
"Kenapa?"
"Karena kau laki-laki."
Jatmika tertawa pendek.
"Memangnya kenapa?"
Laras tidak ikut tertawa.
"Di Wanasari, laki-laki yang terlalu banyak bertanya biasanya akan disuruh diam."
Kalimat itu membuat Jatmika teringat Nyi Raras.
Terutama kalau dia laki-laki.
Ia duduk kembali.
Untuk pertama kalinya ia merasa bahwa kalimat itu bukan sekadar perkataan neneknya.
Itu adalah aturan.
---
Sepulang sekolah, Jatmika tidak langsung pulang.
Ia berjalan ke sungai.
Sungai Wanasari membelah desa menjadi dua. Airnya tidak pernah benar-benar jernih karena membawa lumpur dari bukit, tetapi anak-anak sering mandi di sana.
Jatmika duduk di sebuah batu besar.
Di seberang sungai, beberapa perempuan sedang mencuci pakaian.
Ada dua laki-laki yang membawa karung beras. Mereka berjalan melewati para perempuan tanpa banyak bicara.
Salah seorang perempuan memanggil mereka.
"Taruh di gudang!"
Kedua lelaki itu mengangguk.
Jatmika memperhatikan.
Tidak ada yang aneh.
Sampai ia sadar bahwa perempuan itu mungkin tidak lebih tua dari kedua lelaki tadi.
Ia teringat sesuatu.
Dulu, ketika masih kecil, Jatmika pernah bertanya kepada ibunya mengapa rumah mereka menggunakan nama keluarga ibunya.
Ibunya menjawab:
"Karena perempuan tidak boleh kehilangan namanya setelah menikah."
"Kalau laki-laki?"
"Laki-laki boleh."
"Kenapa?"
Ibunya tertawa.
"Karena laki-laki terbiasa kehilangan banyak hal."
Waktu itu Jatmika tidak mengerti.
Sekarang ia mulai mengerti.
---
Malamnya, Nyi Raras memasak sayur bening.
Jatmika duduk di dapur sambil memperhatikan tangannya.
"Nenek."
"Hm?"
"Kenapa laki-laki di Wanasari tidak boleh punya tanah?"
Nyi Raras tetap mengiris daun bawang.
"Siapa bilang?"
"Guru sejarah."
"Guru sejarah tidak selalu benar."
"Jadi benar atau tidak?"
Nyi Raras memasukkan irisan daun bawang ke dalam mangkuk.
"Tanah diwariskan kepada perempuan."
"Kenapa?"
"Karena perempuan tinggal."
"Laki-laki juga tinggal."
"Sampai menikah."
"Kalau tidak menikah?"
Nyi Raras berhenti.
Jatmika menunggu.
"Kalau tidak menikah," katanya akhirnya, "dia tetap menjadi anak ibunya."
"Jadi dia tidak punya rumah sendiri?"
"Rumah ibunya."
"Kalau ibunya meninggal?"
Nyi Raras kembali bekerja.
"Rumah itu menjadi milik saudara perempuannya."
Jatmika mengerutkan kening.