Rahim Wanasari

Bear Winter
Chapter #3

Nyi Raras

Nyi Raras menangis tanpa suara.


Itulah hal pertama yang membuat Jatmika takut.


Seumur hidupnya, ia tidak pernah melihat neneknya menangis. Bahkan ketika ibunya meninggal, Nyi Raras tidak menangis di depan siapa pun. Ia hanya duduk di samping jenazah, membetulkan rambut anak perempuannya, lalu berkata kepada orang-orang yang datang bahwa kematian adalah utang yang akhirnya dibayar setiap manusia.


Jatmika waktu itu masih terlalu kecil untuk memahami maksudnya.


Ia hanya tahu bahwa ibunya sudah tidak bangun lagi.


Ia juga tahu Nyi Raras tidak menangis.


Sekarang perempuan tua itu berdiri di hadapannya dengan air mata mengalir perlahan di pipi.


Buku hukum Wanasari masih berada di tangan Jatmika.


"Apakah Nenek termasuk yang selamat?" ulang Jatmika.


Nyi Raras duduk.


Tubuhnya tiba-tiba terlihat jauh lebih tua.


"Jangan bertanya seperti itu."


"Kenapa?"


"Karena jawaban untuk pertanyaan itu akan mengubah cara kau melihat Nenek."


Jatmika tertawa kecil.


Pahit.


"Memangnya selama ini aku melihat Nenek seperti apa?"


Nyi Raras tidak menjawab.


"Selama ini Nenek yang membesarkanku."


"Iya."


"Nenek yang memasakkan aku."


"Iya."


"Nenek yang mengajariku membaca."


"Iya."


"Nenek juga yang bilang laki-laki tidak penting."


Nyi Raras menunduk.


"Dan sekarang aku tahu mungkin Ayahku tidak mati. Mungkin dia dibuang. Mungkin Ibu meninggal karena hukum yang Nenek bantu pertahankan."


"Nenek tidak membunuh ibumu."


"Tapi Nenek tahu."


Kalimat itu membuat ruangan menjadi sunyi.


Nyi Raras memandang jendela.


Di luar, air hujan menetes dari daun mangga.


"Ya," katanya akhirnya.


Satu kata.


Tidak lebih.


Jatmika merasakan dadanya sesak.


"Nenek tahu?"


"Ya."


"Sejak kapan?"


"Sejak sebelum kau lahir."


Jatmika menutup buku itu.


"Kalau begitu ceritakan."


Nyi Raras menggeleng.


"Belum."


"Kenapa?"


"Karena kau belum siap."


"Aku sudah cukup besar untuk tahu siapa ayahku."


"Mengetahui nama seseorang tidak berarti kau siap mengetahui dosa-dosanya."


"Kalau begitu ceritakan dosanya."


Nyi Raras menatap cucunya.


"Besok."


"Kenapa besok?"


"Karena malam ini kau sedang marah."


"Aku memang marah."


"Dan orang yang sedang marah biasanya hanya mendengar apa yang ingin didengarnya."


Jatmika ingin membantah.


Namun ia tidak menemukan kata-kata.


Nyi Raras berdiri.


Ia mengambil buku hukum Wanasari dari tangan Jatmika.


"Besok pagi," katanya, "kita pergi ke tempat ibumu dimakamkan."


---


Makam ibu Jatmika berada di belakang kebun bambu, tidak jauh dari sungai.


Tidak ada batu nisan besar.


Hanya sebuah batu hitam dengan nama yang mulai pudar:


MIRAH


Di bawahnya tertulis:


Anak perempuan Wanasari.


Tidak ada nama suami.


Tidak ada nama ayah.


Tidak ada nama keluarga lain.


Jatmika sudah berkali-kali datang ke sana.


Tetapi pagi itu terasa berbeda.


Nyi Raras membawa dua cangkir teh.


Ia duduk di tanah.


Jatmika berdiri.


"Kenapa di batu nisannya hanya ditulis anak perempuan Wanasari?"


"Karena ibumu memang anak perempuan Wanasari."


"Semua orang begitu?"


"Perempuan yang meninggal sebelum menikah, ya."


"Ibu menikah?"


Nyi Raras menggeleng.


"Kalau begitu Ayahku siapa?"


Nyi Raras memandang makam.


"Wira."


Jatmika menahan napas.


Akhirnya nama itu disebut.


Bukan dari foto.


Bukan dari buku.


Bukan dari mulut orang lain.


Dari mulut Nyi Raras sendiri.


"Wira Pranata."


Jatmika mengulang nama itu pelan.


"Wira Pranata."


Nama itu terasa asing sekaligus dekat.


Seperti nama seseorang yang sudah lama dikenalnya dalam mimpi.


"Dia ayahku?"


Nyi Raras mengangguk.


"Kenapa dia pergi?"


"Karena kami menyuruhnya."


"Kami?"


"Perempuan-perempuan Wanasari."


Jatmika menatap neneknya.


"Apa yang dia lakukan?"


Nyi Raras mengambil napas panjang.


"Dia ingin mengubah hukum."


"Karena dia laki-laki?"


"Karena dia melihat sesuatu yang tidak ingin kami lihat."


Jatmika duduk.


"Apa?"


Nyi Raras mengusap permukaan batu nisan Mirah.


"Bahwa hukum yang kami banggakan telah berubah menjadi sesuatu yang sama buruknya dengan hal yang dulu kami lawan."


Jatmika diam.


"Jadi Ayah benar?"


Nyi Raras menggeleng.


"Jangan buru-buru menyebut seseorang benar hanya karena dia berada di pihak yang kau sukai."


"Jadi dia salah?"


"Dia juga salah."


"Kenapa?"


Nyi Raras tersenyum tipis.


"Karena manusia jarang hanya menjadi satu hal."


Ia menatap cucunya.


"Wira pernah menjadi lelaki yang baik."


"Dan kemudian?"


"Dia menjadi lelaki yang marah."


"Karena hukum Wanasari?"


"Karena banyak hal."


---


Nyi Raras mulai bercerita.


Bukan tentang Wira terlebih dahulu.


Melainkan tentang dirinya sendiri.


Ia lahir pada tahun ketika kekeringan panjang membuat sungai Wanasari hampir mengering.


Ayahnya seorang petani.


Ibunya menjual kain.


Mereka memiliki empat anak perempuan dan satu anak laki-laki.


Anak laki-laki itu bernama Sastro.


"Apakah Sastro saudara Nenek?"


"Adikku."


"Dia di mana?"


"Sudah mati."


"Kenapa?"


Nyi Raras memandang sungai.


"Karena dulu laki-laki memiliki kekuasaan di Wanasari."


Jatmika mendengarkan.


"Pada masa itu, tanah diwariskan kepada laki-laki. Perempuan yang menikah harus mengikuti suaminya. Kalau suaminya punya dua rumah, ia bisa memilih rumah mana yang ingin ditempati."


"Jadi seperti itu dulu?"


"Lebih buruk."


Nyi Raras bercerita bahwa nenek moyang mereka pernah hidup di bawah aturan yang berbeda.


Perempuan tidak boleh memiliki tanah.


Perempuan yang ditinggal suami bisa kehilangan rumah.


Anak-anak mengikuti nama ayah.


Keputusan keluarga dibuat oleh laki-laki tertua.


Jika seorang perempuan tidak memiliki anak laki-laki, tanahnya bisa jatuh kepada saudara laki-laki suaminya.


Jatmika mendengarkan dengan dada berdebar.


"Apakah Ayah Nenek jahat?"


Nyi Raras menggeleng.


"Tidak."


"Jadi?"


"Dia hanya hidup dalam zaman yang memberinya terlalu banyak kekuasaan."


"Bedanya?"


"Banyak."


Nyi Raras tersenyum pahit.


"Orang jahat tahu bahwa dia sedang berbuat jahat. Orang yang hidup dalam sistem biasanya menganggap tindakannya wajar."


Kalimat itu membuat Jatmika diam.


Nyi Raras melanjutkan.


Ibunya, Sariyah, pernah dipukul oleh suaminya.


Bukan sekali.


Bukan dua kali.


Setiap kali ia mencoba meninggalkan rumah, keluarganya menyuruhnya pulang.


"Kenapa?"


"Karena rumah itu atas nama suaminya."


"Terus?"


"Ibuku tidak punya tempat untuk pergi."


Jatmika menatap tanah.


"Jadi itu alasan Wanasari berubah?"


"Bukan satu-satunya."


Nyi Raras memejamkan mata.


Lihat selengkapnya