Rumah tua itu berada di ujung hutan jati.
Jatmika pernah melihatnya dari kejauhan, tetapi tidak pernah berani mendekat. Orang-orang Wanasari menyebutnya Rumah Wira, meskipun tidak ada papan nama di depannya. Rumah itu berdiri sendirian di atas tanah yang sedikit lebih tinggi daripada jalan, dikelilingi pohon bambu dan jati yang tumbuh tidak beraturan.
Atapnya sudah ditumbuhi lumut.
Dinding kayunya menghitam.
Jendelanya tinggal tiga.
Yang satu pecah.
Yang satu selalu tertutup.
Yang satu lagi menghadap ke hutan.
Pagi itu Nyi Raras berjalan di depan.
Jatmika mengikutinya.
Mereka tidak membawa siapa pun.
Tidak membawa makanan.
Tidak membawa peralatan.
Hanya sebuah kunci tua yang sejak tadi digenggam Nyi Raras.
"Kenapa rumah ini dibiarkan kosong?" tanya Jatmika.
"Karena tidak ada yang mau tinggal di dalamnya."
"Takut?"
"Sebagian."
"Sebagian lagi?"
"Karena rumah yang terlalu lama menyimpan rahasia biasanya tidak cocok untuk dijadikan tempat tinggal."
Jatmika tersenyum tipis.
"Nenek selalu bicara seperti itu."
"Seperti apa?"
"Seperti sedang menyimpan jawaban di belakang setiap kalimat."
Nyi Raras tidak menoleh.
"Karena memang begitu."
Mereka terus berjalan.
Daun-daun kering berderak di bawah kaki.
Tidak lama kemudian rumah itu terlihat lebih jelas.
Jatmika berhenti.
Ada sesuatu yang terasa asing.
Bukan karena rumahnya tua.
Bukan karena hutan di sekelilingnya.
Melainkan karena ia merasa pernah melihat rumah itu sebelumnya.
Dalam mimpi.
"Nenek."
"Hm?"
"Apakah aku pernah ke sini?"
Nyi Raras menoleh.
"Tidak."
"Tapi rasanya aku pernah."
"Mungkin ibumu pernah membawamu."
"Ketika aku kecil?"
"Ketika kau masih bayi."
Jatmika memandang rumah itu.
"Untuk apa?"
Nyi Raras tidak menjawab.
Ia berjalan menuju pintu.
Kunci tua itu dimasukkan ke lubang kunci.
Sekali diputar.
Tidak bergerak.
Nyi Raras mencoba lagi.
Kali ini terdengar bunyi patahan kecil.
Kunci itu patah.
Jatmika menatap neneknya.
Nyi Raras melihat potongan kunci yang tertinggal di tangannya.
"Sudah tua."
"Jadi?"
"Kita masuk dari belakang."
---
Pintu belakang ternyata tidak terkunci.
Ketika dibuka, bau kayu basah dan debu langsung menyambut mereka.
Rumah itu hanya terdiri dari tiga ruangan.
Ruang depan.
Kamar.
Dapur.
Tidak ada perabot kecuali meja kayu, kursi panjang, lemari, dan sebuah rak penuh buku.
Jatmika berjalan pelan.
Di dinding terdapat bekas bingkai foto.
Bingkainya sudah hilang.
Hanya empat paku yang tersisa.
"Di sini Wira tinggal?"
"Ya."
"Sendiri?"
"Awalnya."
"Setelah itu?"
Nyi Raras berjalan menuju rak buku.
"Setelah itu ibumu sering datang."
Jatmika berhenti.
"Ibu?"
"Ya."
"Kenapa?"
Nyi Raras menarik sebuah buku.
"Karena Mirah ingin belajar."
"Belajar apa?"
"Sejarah."
Jatmika memandangi buku tersebut.
Sampulnya sudah kusam.
Judulnya:
Sejarah Wanasari dan Tanah yang Diwariskan.
"Nenek bilang Ibu tidak tahu siapa Ayah."
"Mirah tahu."
"Tapi Nenek bilang—"
"Nenek bilang dia tidak tahu seluruh kebenarannya."
Jatmika diam.
Nyi Raras duduk di kursi.
"Mirah tahu Wira adalah ayahmu."
"Sejak kapan?"
"Sejak kau masih dalam kandungan."
Jatmika menatap neneknya.
"Kenapa dia tidak memberitahuku?"
"Karena dia takut."
"Pada Wanasari?"
Nyi Raras mengangguk.
"Pada Nenek juga?"
Kali ini Nyi Raras tidak menjawab.
Jatmika memandang rak buku.
"Jadi Ibu dan Wira bertemu di sini?"
"Ya."
"Dan Nenek tahu?"
"Ya."
"Kenapa Nenek membiarkan?"
"Karena waktu itu Nenek belum tahu apa yang akan terjadi."
Jatmika tertawa kecil.
"Nenek selalu bilang begitu."
"Apa?"
"Seolah semua kejadian buruk di hidup kita selalu terjadi karena seseorang tidak tahu apa yang akan terjadi."
Nyi Raras memandangnya.
"Kau benar."
Jatmika berjalan ke meja.
Ada goresan di permukaannya.
Ia menyentuhnya.
Sebuah nama terukir di sana.
MIRAH.
Di bawahnya:
WIRA.
Dan di bawah kedua nama itu, lebih kecil:
JATMIKA.
Jatmika membeku.
"Nenek."
Nyi Raras tidak menjawab.
"Namaku sudah ada di sini sebelum aku lahir."
"Iya."
"Siapa yang menulis?"
"Wira."
Jatmika menelusuri ukiran itu dengan jarinya.
"Kenapa?"
"Karena dia tahu kau akan lahir."
"Dia menungguku?"
"Ya."
Jatmika memejamkan mata.
Untuk pertama kalinya, ia membayangkan seorang laki-laki yang tidak pernah ditemuinya duduk di meja itu, memegang pisau kecil, lalu mengukir namanya.
Jatmika.
Bukan nama Wanasari.
Bukan nama keluarga ibunya.
Hanya namanya.
Seolah sejak awal Wira ingin memberinya sesuatu yang tidak bisa diwariskan oleh siapa pun.
Sebuah nama.
---
Nyi Raras berdiri dan membuka lemari.
Di dalamnya terdapat tumpukan pakaian lama.
Beberapa buku.
Dan sebuah kotak kecil.
"Ini milik ibumu."
Jatmika mengambilnya.
Kotak itu tidak terkunci.
Di dalamnya ada sepasang gelang bayi.
Sebuah sisir.
Surat.
Dan sebuah kain putih kecil.
Jatmika mengambil surat paling atas.
Tulisan di depannya membuat tangannya gemetar.
Untuk Jatmika, jika suatu hari kau bertanya tentang ayahmu.
Ia menatap Nyi Raras.
"Ini dari Ibu?"
"Ya."
"Kenapa Nenek menyimpannya?"
"Karena Mirah memberikannya kepadaku."
"Kenapa tidak diberikan kepadaku?"
"Karena aku takut."
Jatmika membuka surat itu.
Tulisannya tidak panjang.
Ia membaca pelan.
«Jatmika,
Jika suatu hari kau membaca surat ini, mungkin aku sudah tidak bisa menjawab pertanyaanmu.
Jangan percaya bahwa ayahmu pergi karena tidak menyayangimu.
Jangan pula percaya bahwa dia orang baik hanya karena dia ayahmu.
Wira pernah membuat kesalahan. Aku juga.
Tetapi ada satu hal yang harus kau tahu.
Dia tidak pernah malu menjadi ayahmu.
Justru karena itulah aku takut.
Karena di Wanasari, seorang laki-laki yang mengaku ingin menjadi ayah sering dianggap sedang mengaku memiliki seorang anak.
Padahal anak bukan milik siapa-siapa.
Anak hanya dititipkan kepada manusia.
Kalau kau ingin mencari ayahmu, carilah kebenaran tentang Wanasari terlebih dahulu.
Setelah itu, kau akan mengerti mengapa dia pergi.
Ibu.»
Jatmika menurunkan surat.
"Ibu tahu aku akan mencarinya."
"Ya."
"Dia tahu aku akan bertanya?"
"Seorang ibu biasanya tahu."
Jatmika menatap Nyi Raras.
"Kenapa Ibu meninggal?"
Nyi Raras tidak langsung menjawab.
Ia mengambil surat itu.
"Karena surat ini."
Jatmika mengerutkan kening.
"Apa?"
"Surat ini ditemukan sebelum Mirah meninggal."
"Siapa yang menemukannya?"
"Nenek."
"Kenapa?"
"Karena Mirah menyimpannya di rumah."
Jatmika berdiri.
"Jadi Nenek membaca surat ini?"
"Ya."
"Dan setelah itu?"
Nyi Raras menatapnya.