Pagi setelah Nyi Raras memberikan alamat Wira Pranata, Jatmika bangun sebelum ayam berkokok.
Ia tidak langsung turun dari tempat tidur.
Di atas kepalanya, langit-langit kamar masih gelap. Dari celah papan jendela, cahaya pagi masuk sedikit demi sedikit, seperti seseorang yang malu mengetuk pintu.
Jatmika memikirkan satu hal.
Nama.
Lalu tanah.
Ia tidak tahu mengapa dua kata itu terus muncul bersamaan di kepalanya.
Mungkin karena semalam ia membaca kembali salinan dokumen yang diberikan Pak Danu. Mungkin karena untuk pertama kalinya ia mengerti bahwa di Wanasari, nama seseorang tidak pernah benar-benar hanya nama.
Nama menentukan siapa ibumu.
Nama menentukan siapa keluargamu.
Nama menentukan tanah yang boleh kau pijak.
Dan, kalau kau laki-laki, nama bahkan bisa menentukan seberapa jauh kau boleh menyebut sebuah tempat sebagai rumah.
Jatmika bangkit.
Di meja kecil dekat jendela, ia menemukan amplop cokelat yang diberikan Nyi Raras semalam. Di dalamnya ada alamat sekolah tempat Wira mengajar di kota.
Ia memasukkan amplop itu ke saku.
Hari ini ia akan pergi.
Setidaknya, itulah pikirnya.
Namun ketika membuka pintu kamar, ia melihat Nyi Raras sudah duduk di teras.
Perempuan tua itu sedang mengupas singkong.
Tangannya bergerak pelan, tetapi teratur.
“Kau mau ke kota?” tanyanya tanpa menoleh.
Jatmika berhenti.
“Dari mana Nenek tahu?”
“Kalau cucuku bangun sebelum ayam, biasanya ada dua kemungkinan.”
“Apa?”
“Lapar atau punya masalah.”
Jatmika duduk di sampingnya.
“Kalau dua-duanya?”
“Berarti masalahnya besar.”
Jatmika tersenyum kecil.
Nyi Raras menyerahkan sepotong singkong mentah.
“Makan.”
“Mentah?”
“Kalau sudah lapar sekali, semua bisa kelihatan seperti makanan.”
Jatmika tidak mengambilnya.
“Nenek tahu aku mau mencari Bapak.”
“Aku yang memberimu alamatnya.”
“Kalau begitu kenapa Nenek bertanya?”
Nyi Raras berhenti mengupas.
Ia memandang halaman.
Di depan rumah mereka tumbuh pohon mangga tua. Akar-akarnya keluar dari tanah dan menjalar seperti urat pada tangan seorang lelaki tua.
“Karena pergi itu mudah,” kata Nyi Raras. “Yang sulit adalah pulang setelah mengetahui sesuatu.”
Jatmika diam.
“Nenek takut?”
“Takut kepada apa?”
“Bapak.”
Nyi Raras tertawa pendek.
“Tidak.”
“Bu Ratri?”
“Tidak.”
“Wanasari?”
Kali ini Nyi Raras tidak menjawab.
Jatmika melihat tangan perempuan tua itu berhenti.
Pisau kecil yang dipegangnya menggantung di udara.
“Tanah,” kata Nyi Raras akhirnya.
Jatmika mengerutkan kening.
“Apa?”
“Kalau kau pergi sekarang, kau akan membawa pertanyaan tentang ayahmu. Tapi kalau kau tinggal sedikit lebih lama, kau akan tahu mengapa pertanyaan tentang ayahmu selalu berhubungan dengan tanah.”
Jatmika memandangnya.
“Tanah lagi.”
“Di Wanasari, hampir semua pertengkaran pada akhirnya kembali kepada tanah.”
Ia meletakkan singkong di pangkuan.
“Siapa yang lahir di mana. Siapa yang tinggal di mana. Siapa yang menikah dengan siapa. Siapa yang mati. Siapa yang mendapat rumah. Siapa yang kehilangan rumah.”
Nyi Raras menarik napas.
“Dan siapa yang dianggap tidak berhak memiliki apa pun.”
Jatmika tahu kalimat terakhir itu ditujukan kepadanya.
Ia bangkit.
“Kalau begitu tunjukkan kepadaku.”
“Apa?”
“Tanah yang katanya bukan milikku.”
Nyi Raras memandangnya lama.
Kemudian ia berdiri.
“Pakai sandal.”
Mereka berjalan ke bagian belakang rumah.
Di sana ada sebidang tanah yang selama ini tidak pernah Jatmika pikirkan sebagai sesuatu yang memiliki arti.
Tanah itu tidak luas.
Di atasnya tumbuh beberapa batang singkong, cabai, dan dua pohon pisang. Di sudut paling jauh berdiri sebuah rumah kecil yang sudah hampir roboh. Atapnya miring. Dinding bambunya hitam karena usia.
“Ini tanah keluarga kita?” tanya Jatmika.
“Bukan.”
Jatmika menoleh.
“Lalu?”
“Tanah Wanasari.”
“Bukankah selama ini kita yang menggarapnya?”
“Ya.”
“Bukankah rumah itu dibangun Nenek?”
“Ya.”
“Lalu kenapa bukan milik kita?”
Nyi Raras berjalan mendekati pohon pisang.
“Karena kau laki-laki.”
Jawaban itu begitu sederhana hingga terdengar seperti lelucon.
Jatmika tertawa.
Tidak ada yang ikut tertawa.
“Serius?”
“Serius.”
“Nenek tinggal di sini puluhan tahun.”
“Ya.”
“Kalau Nenek meninggal?”
“Tanah ini akan kembali kepada perempuan dalam garis keluarga.”
“Siapa?”
Nyi Raras menunjuk ke arah rumah tetangga.
“Anak perempuan dari adik ibumu.”
“Bibi Sari?”
“Kalau dia masih tinggal di Wanasari.”
“Kalau tidak?”
“Kembali ke dewan.”
Jatmika memandangi tanah di bawah kakinya.
Ia tiba-tiba merasa sedang berdiri di atas sesuatu yang bukan miliknya.
Padahal selama tujuh belas tahun ia tidur di rumah itu.
Makan dari dapurnya.
Menyapu halamannya.
Memperbaiki pagar.
Menanam cabai.
Menguburkan kucingnya di belakang rumah.
Namun rupanya semua itu tidak cukup untuk membuat tanah menjadi rumah.
“Jadi kalau Nenek mati,” katanya pelan, “aku diusir?”
Nyi Raras menatapnya.
“Tidak.”
“Lalu?”
“Kau boleh tinggal selama perempuan yang memiliki tanah mengizinkan.”
Jatmika tertawa getir.
“Bagus.”
“Jatmika.”
“Bagus sekali.”
“Jangan begitu.”
“Kenapa? Aku harus bagaimana?”
Nyi Raras tidak menjawab.
Jatmika menendang tanah.
Debu kecil naik ke udara.
“Kalau tanah ini milik orang lain, kenapa aku disuruh menjaganya?”
“Karena begitu aturan bekerja.”
“Tidak masuk akal.”
“Banyak aturan tidak dibuat untuk masuk akal.”
“Lalu untuk apa?”
Nyi Raras menatapnya.
“Untuk membuat seseorang merasa aman.”
Jatmika terdiam.
“Dulu,” lanjut Nyi Raras, “perempuan kehilangan tanah hanya karena mereka perempuan. Mereka tidak punya hak atas rumah yang mereka tinggali. Tidak punya hak atas ladang yang mereka kerjakan. Tidak punya hak menentukan anak mereka sendiri.”
“Jadi sekarang laki-laki yang tidak punya hak.”
Nyi Raras menunduk.
“Ya.”
“Dan itu dianggap adil?”
“Tidak.”
“Lalu kenapa Nenek membiarkannya?”
Pertanyaan itu membuat wajah Nyi Raras berubah.
Bukan marah.
Bukan sedih.
Sesuatu yang lebih tua dari keduanya.
“Karena aku pernah percaya bahwa ketidakadilan yang dilakukan untuk membalas ketidakadilan tetap bisa disebut keadilan.”
Jatmika memandangnya.
Nyi Raras mengambil segenggam tanah.
Ia membiarkannya jatuh perlahan dari telapak tangan.
“Sekarang aku tahu aku salah.”
Mereka belum sempat kembali ke rumah ketika terdengar suara dari jalan.
“Jatmika!”
Laras.
Gadis itu berdiri di depan pagar sambil terengah-engah.
“Ada apa?” tanya Jatmika.
“Dewan memanggilmu.”
Jatmika langsung mengerutkan kening.
“Kenapa?”
“Tanah.”
Nyi Raras menoleh.
“Tanah apa?”
Laras melihat Nyi Raras, kemudian Jatmika.
“Tanah belakang rumah.”
Jatmika merasa ada sesuatu yang jatuh di dalam perutnya.
“Apa urusannya dengan dewan?”
Laras menelan ludah.
“Mereka bilang tanah itu akan diperiksa.”
“Diperiksa?”
“Katanya ada pengaduan.”
“Dari siapa?”
Laras tidak menjawab.
Nyi Raras sudah tahu.
“Bu Ratri,” katanya.
Laras mengangguk.
Jatmika tertawa pendek.
“Tentu.”
Balai perempuan Wanasari terletak di tengah desa.
Bangunannya tidak besar, tetapi selalu tampak lebih tinggi daripada rumah-rumah di sekitarnya karena berdiri di atas tanah yang sedikit menanjak.
Di dinding depannya terdapat tulisan:
TANAH ADALAH IBU.
DAN IBU TIDAK BOLEH DIKUASAI.
Jatmika pernah menyukai kalimat itu.
Hari ini ia membencinya.
Di dalam balai, Bu Ratri duduk di belakang meja panjang.