Pagi itu Wanasari bangun seperti biasa.
Perempuan-perempuan membuka pintu rumah, menyapu halaman, menanak nasi, membawa anak ke sekolah, lalu pergi ke ladang. Lelaki-lelaki keluar lebih awal. Sebagian membawa cangkul, sebagian mengangkut kayu, sebagian bekerja di pasar.
Tidak ada yang tampak berubah.
Padahal bagi Jatmika, semuanya sudah berubah.
Sejak membaca surat-surat Wira, ia mulai melihat Wanasari seperti seseorang yang baru saja membuka mata setelah bertahun-tahun tidur.
Papan nama di balai desa bukan sekadar papan nama.
Rumah-rumah bukan sekadar rumah.
Tanah bukan sekadar tanah.
Bahkan sapaan sederhana seperti anak Nyi Raras memiliki makna yang lebih besar daripada yang selama ini ia pahami.
Di Wanasari, seorang anak tidak hanya dilahirkan oleh seorang ibu.
Ia juga dilahirkan oleh hukum.
Dan hukum menentukan bagaimana anak itu harus hidup.
Jatmika duduk di teras sambil memegang amplop berisi surat Wira.
Hari ini ia seharusnya pergi ke kota.
Alamat sekolah itu sudah tersimpan di saku.
Namun sejak semalam, Nyi Raras belum mengizinkannya berangkat.
Perempuan tua itu sedang menjemur pakaian di halaman.
“Nenek.”
“Ya?”
“Kita jadi ke kota?”
“Jadi.”
“Kapan?”
“Setelah kau bertemu para ibu.”
Jatmika mengerutkan kening.
“Para ibu?”
“Ya.”
“Siapa?”
Nyi Raras melipat kain.
“Perempuan-perempuan yang masih mengingat Wanasari sebelum hukum menjadi seperti sekarang.”
“Bukankah mereka sudah tua?”
“Sebagian.”
“Dan mereka masih hidup?”
Nyi Raras tersenyum.
“Sejarah tidak selalu mati bersama orang yang membuatnya.”
Jatmika tidak mengerti.
Namun ia mengikuti Nyi Raras.
Mereka berjalan menuju sebuah rumah di bagian utara desa.
Rumah itu lebih besar daripada rumah-rumah lain. Dindingnya terbuat dari kayu jati tua, halaman depannya dipenuhi bunga melati, dan di bawah pohon sawo terdapat bangku panjang.
Di sana sudah ada enam perempuan.
Jatmika mengenali dua di antaranya.
Salah satunya pernah menjadi guru di sekolahnya.
Yang lain adalah perempuan yang sering dilihatnya di pasar.
Empat lainnya tidak ia kenal.
Begitu Jatmika masuk, percakapan mereka berhenti.
Seorang perempuan berambut putih berkata,
“Ini anak Mirah?”
Nyi Raras mengangguk.
“Jatmika.”
Perempuan itu memandang Jatmika lama.
“Wajahnya seperti Wira.”
Jatmika diam.
Ia tidak tahu harus menjawab apa.
Perempuan lain menyela.
“Tidak. Matanya seperti Mirah.”
“Mirah memang matanya begitu.”
“Wira hidungnya.”
“Jangan membicarakan wajahnya seperti sedang memilih buah.”
Beberapa perempuan tertawa kecil.
Untuk pertama kalinya Jatmika melihat para perempuan tua itu bukan sebagai bagian dari hukum Wanasari.
Mereka hanya perempuan.
Tua.
Lelah.
Sesekali tertawa.
Sesekali lupa.
Nyi Raras duduk.
“Dia akan pergi ke kota.”
Semua mata mengarah kepada Jatmika.
“Menemui Wira?” tanya seseorang.
“Ya.”
Suasana berubah.
Perempuan berambut putih menghela napas.
“Sudah waktunya.”
Jatmika duduk di samping Nyi Raras.
“Aku ingin tahu semuanya.”
“Tidak ada yang bisa menceritakan semuanya,” kata perempuan berambut putih itu.
“Kenapa?”
“Karena tidak ada yang melihat sejarah dari tempat yang sama.”
Ia memperkenalkan diri.
“Namaku Murni.”
Jatmika mengangguk.
“Murni dulu menjadi anggota pertama Dewan Perempuan setelah hukum baru diberlakukan.”
“Setelah Ratri Wening?”
Murni tersenyum.
“Kau sudah mendengar namanya.”
“Dari Nenek.”
“Kalau begitu kau sudah tahu sebagian.”
Murni mengambil teko dan menuangkan teh.
“Masalahnya,” katanya, “sebagian sering kali menjadi sumber kesalahpahaman.”
Jatmika menerima cangkir.
“Aku ingin tahu bagaimana semuanya dimulai.”
Murni menatap Nyi Raras.
Nyi Raras mengangguk.
Maka Murni mulai bercerita.
Dulu, Wanasari tidak seperti sekarang.
Perempuan tidak mempunyai banyak pilihan.
Tanah berada di tangan laki-laki.
Rumah diwariskan kepada anak laki-laki.
Perempuan yang menikah harus mengikuti suaminya.
Anak dianggap meneruskan nama ayah.
Kalau seorang perempuan tidak mempunyai anak laki-laki, tanah keluarganya bisa berpindah kepada saudara laki-laki.
Perempuan bekerja.
Laki-laki memutuskan.
Itulah kehidupan yang berlangsung selama beberapa generasi.
Bukan karena semua laki-laki jahat.
Bukan pula karena semua perempuan menerima.
Tetapi karena aturan sudah terlalu tua untuk dipertanyakan.
“Ratri Wening tumbuh dalam keadaan itu,” kata Murni.
“Ibunya kehilangan tanah setelah suaminya meninggal.”
“Kenapa?”
“Karena tidak punya anak laki-laki.”
Jatmika mendengarkan.
“Tanah itu diberikan kepada saudara laki-laki suaminya. Ibunya Ratri tetap tinggal di rumah, tetapi hanya sebagai orang yang menumpang.”
“Padahal itu tanah keluarganya?”
“Ya.”
“Lalu?”
“Suatu hari rumahnya dijual.”
Jatmika mengerutkan kening.
“Dijual oleh siapa?”
“Paman Ratri.”
“Dan ibunya?”
“Dipindahkan.”
“Ke mana?”
“Rumah saudara.”
“Ratri ikut?”
Murni menggeleng.
“Ratri waktu itu sudah menikah.”
“Jadi dia tidak bisa berbuat apa-apa?”
“Tidak.”
Murni menatap cangkir tehnya.
“Di situlah kemarahan Ratri tumbuh.”
Jatmika teringat kata-kata Nyi Raras.
Takut diwariskan menjadi kebencian.
Namun Murni melanjutkan.
“Ratri bukan perempuan pertama yang marah.”
Ia menyebut nama lain.
Sulastri.
Nama itu sudah pernah Jatmika dengar.
Perempuan yang ditemukan mati di dalam sumur.
Suaminya dibebaskan karena tidak cukup bukti.
“Setelah Sulastri meninggal,” kata Murni, “perempuan-perempuan mulai berkumpul.”
“Berapa banyak?”
“Awalnya hanya tujuh.”
“Tujuh?”
“Ya.”
“Lalu menjadi puluhan.”
“Lalu ratusan.”
Murni tersenyum kecil.
“Begitulah perubahan dimulai. Tidak selalu dengan ribuan orang. Kadang hanya tujuh perempuan yang sudah terlalu lelah untuk takut.”
Pertemuan pertama mereka dilakukan di rumah Ratri.
Mereka duduk di lantai.
Tidak ada senjata.
Tidak ada bendera.
Tidak ada niat menggulingkan siapa pun.
Mereka hanya ingin satu hal.
Perempuan tidak lagi kehilangan rumah karena menjadi perempuan.
Mereka menulis daftar tuntutan.
Tanah harus bisa diwariskan kepada anak perempuan.
Anak harus mempunyai hak untuk tinggal bersama ibunya.
Perempuan yang bekerja harus mempunyai hak atas hasil kerjanya.
Suami tidak boleh menjual rumah tanpa persetujuan istri.
Dan laki-laki tidak boleh menentukan seluruh kehidupan perempuan.
“Kalau membaca tuntutan pertama mereka,” kata Murni, “kau mungkin akan setuju.”
Jatmika mengangguk.
“Tentu.”
“Itulah sebabnya banyak perempuan bergabung.”
“Lalu kapan semuanya berubah?”
Murni menatapnya.