Rahim Wanasari

Bear Winter
Chapter #7

Dendam

Pagi itu Jatmika tidak jadi berangkat.

Bukan karena ia berubah pikiran.

Bukan pula karena alamat Wira tiba-tiba hilang.

Ada sesuatu yang terjadi sebelum matahari naik sepenuhnya.

Sebuah kereta kuda berhenti di depan rumah Nyi Raras.

Jatmika yang sedang mengikat tali sepatunya mendengar suara roda berderit dari halaman. Ia keluar dan melihat seorang perempuan berdiri di samping kereta.

Perempuan itu mengenakan kebaya hitam sederhana.

Rambutnya sudah hampir seluruhnya putih.

Jatmika mengenalnya.

Bu Sarmi.

Perempuan yang kemarin bercerita tentang generasi yang mewarisi ketakutan.

Di tangannya ada sebuah kain yang dibungkus rapi.

“Raras,” katanya.

Nyi Raras keluar.

“Ada apa?”

“Aku ingin bicara dengan Jatmika.”

Nyi Raras memandangnya.

“Sekarang?”

“Sekarang.”

Jatmika berdiri di antara keduanya.

“Ada apa, Bu?”

Sarmi tidak langsung menjawab.

Ia menyerahkan bungkusan kain itu kepada Jatmika.

“Bawa ini.”

Jatmika membukanya.

Di dalamnya ada sebuah buku tipis berwarna cokelat.

Sampulnya kosong.

“Buku apa?”

“Catatan Ratri.”

“Yang kemarin?”

“Bukan.”

Sarmi menatap Nyi Raras.

“Yang ini lebih tua.”

Nyi Raras terlihat terkejut.

“Dari mana kau mendapatkannya?”

“Dari anakku.”

“Dia menyimpannya?”

“Puluhan tahun.”

“Kenapa baru sekarang?”

Sarmi tersenyum tipis.

“Karena mungkin kita semua sudah terlalu tua untuk terus menyimpan kebohongan.”

Kalimat itu membuat Jatmika diam.

Ia membuka halaman pertama.

Hanya ada satu tulisan.

Untuk perempuan yang datang setelah kami.

Jatmika menatap Sarmi.

“Apa isinya?”

“Baca nanti.”

“Kenapa?”

“Karena kalau kau membacanya sekarang, kau mungkin tidak jadi menemui ayahmu.”

Jatmika mengerutkan kening.

“Kenapa?”

Sarmi menjawab pelan,

“Karena setelah kau tahu semuanya, kau mungkin akan memahami mengapa Wanasari menjadi seperti ini.”

“Dan?”

“Memahami bukan berarti memaafkan.”

Ia berbalik.

Sebelum naik ke kereta, Sarmi berkata,

“Jatmika, kau ingin tahu kenapa ayahmu pergi?”

Jatmika mengangguk.

“Karena dia kalah.”

“Dalam apa?”

“Dalam perang yang tidak pernah diumumkan.”

Kereta bergerak meninggalkan halaman.

Jatmika masih berdiri.

Ia memandang buku di tangannya.

Kemudian menatap Nyi Raras.

“Aku tidak jadi ke kota?”

Nyi Raras menggeleng.

“Belum.”

“Kenapa?”

“Karena ada satu hal yang belum kau ketahui.”

“Apa?”

Nyi Raras memandang ke arah jalan yang dilalui Sarmi.

“Dendam.”

Mereka kembali ke rumah.

Nyi Raras membuat teh.

Jatmika duduk di meja.

Buku cokelat itu berada di hadapannya.

Ia tidak membukanya lagi.

“Dendam siapa?” tanyanya.

Nyi Raras menuangkan teh.

“Semua orang.”

“Jawaban itu tidak membantu.”

“Karena memang tidak ada satu orang yang menyimpan dendam.”

“Ratri?”

“Ya.”

“Perempuan-perempuan pertama?”

“Ya.”

“Dan Nenek?”

Nyi Raras berhenti menuang.

“Terutama aku.”

Jatmika menatapnya.

Nyi Raras duduk.

“Kalau kau ingin tahu kenapa aku melakukan apa yang kulakukan kepada ayahmu, kau harus tahu mengapa aku menjadi seperti itu.”

Jatmika mengangguk.

Nyi Raras menatap keluar jendela.

Kemudian ia mulai bercerita.

Nyi Raras berusia sembilan belas tahun ketika pertama kali melihat Sulastri.

Waktu itu Sulastri belum mati.

Ia masih hidup.

Masih muda.

Masih suka tertawa.

Mereka tidak berteman dekat.

Namun di desa kecil seperti Wanasari, semua orang saling mengenal.

Sulastri sering pergi ke pasar bersama ibunya.

Ia memiliki seorang anak perempuan.

Suaminya bernama Darma.

Laki-laki yang dikenal pendiam.

Setidaknya begitu yang dikatakan orang.

Namun orang yang pendiam tidak selalu berarti baik.

Dan orang yang banyak bicara tidak selalu berarti jahat.

Nyi Raras tidak tahu apa yang terjadi di dalam rumah Sulastri.

Yang ia tahu, beberapa bulan sebelum kematian itu, Sulastri mulai sering datang ke rumah perempuan lain.

Kadang ke rumah Ratri.

Kadang ke rumah Murni.

Kadang ke rumah ibu Nyi Raras.

Ia sering membawa luka.

Tidak selalu luka di tubuh.

Kadang luka yang tidak terlihat.

“Dia pernah berkata kepada ibumu bahwa suaminya memukulnya,” kata Nyi Raras.

Jatmika mendengarkan.

“Lalu?”

“Tidak ada yang percaya sepenuhnya.”

“Kenapa?”

“Karena Darma orang baik di depan orang banyak.”

Jatmika mengangguk pelan.

“Seperti sekarang.”

“Ya.”

“Orang bisa berbeda di rumah dan di luar rumah.”

Nyi Raras mengangguk.

“Pada suatu malam, Sulastri hilang.”

“Lalu ditemukan di sumur?”

“Besok paginya.”

“Dan suaminya?”

“Bilang Sulastri bunuh diri.”

“Apakah benar?”

“Tidak ada yang tahu.”

“Dewan lama?”

“Belum ada.”

“Polisi?”

“Datang.”

“Lalu?”

“Tidak cukup bukti.”

Jatmika mengepalkan tangannya.

“Jadi Darma bebas.”

“Ya.”

“Dan itu yang membuat Ratri marah?”

“Bukan hanya Ratri.”

Nyi Raras menatap cucunya.

“Semua perempuan marah.”

Hari pemakaman Sulastri menjadi hari yang mengubah Wanasari.

Ratusan perempuan datang.

Mereka membawa bunga.

Membawa kain putih.

Membawa kemarahan.

Tidak ada yang berpidato pada awalnya.

Mereka hanya berdiri.

Sampai Ratri Wening naik ke sebuah batu.

Ia tidak berteriak.

Ia hanya berkata:

“Kalau hukum tidak dapat melindungi perempuan yang masih hidup, lalu untuk apa hukum dibuat?”

Tidak ada yang menjawab.

Ratri melanjutkan.

“Kalau rumah bukan tempat perempuan merasa aman, lalu untuk apa disebut rumah?”

Perempuan-perempuan mulai menangis.

Lalu seseorang berkata,

“Buat hukum sendiri.”

Ratri menoleh.

“Untuk apa?”

“Supaya mereka takut.”

Kalimat itu keluar dari seorang perempuan yang kehilangan dua anak karena suaminya.

“Buat mereka takut seperti kita takut.”

Mula-mula Ratri diam.

Kemudian ia berkata,

“Tidak.”

Semua orang menatapnya.

“Kita tidak boleh menjadi seperti mereka.”

Namun malam itu, ketika Ratri pulang, ia menemukan ibunya menangis.

Tanah rumah mereka kembali digugat oleh keluarga suaminya.

Dan Ratri mulai berpikir.

Kalau perempuan tidak mempunyai kekuatan, mereka akan selalu menjadi korban.

Kalau perempuan mempunyai kekuatan, mereka mungkin bisa melindungi diri.

Begitulah semuanya bermula.

Bukan dari keinginan menguasai.

Tetapi dari keinginan untuk tidak pernah menjadi korban lagi.

Masalahnya, rasa takut memiliki satu sifat yang tidak pernah diberitahukan kepada manusia.

Ia selalu ingin jaminan.

Sedikit tidak cukup.

Hari ini seseorang berkata:

“Jangan biarkan laki-laki mengambil tanah kita.”

Besok berubah menjadi:

“Jangan biarkan laki-laki memiliki tanah.”

Lalu menjadi:

“Jangan biarkan laki-laki menentukan apa pun.”

Kemudian:

“Jangan percaya laki-laki.”

Dan akhirnya:

“Laki-laki adalah ancaman.”

Jatmika mengusap wajahnya.

“Siapa yang pertama kali mengatakan laki-laki adalah ancaman?”

Nyi Raras menggeleng.

“Tidak ada satu orang.”

“Lalu?”

“Kalimat itu tumbuh sendiri.”

“Dari ketakutan?”

“Dari ketakutan yang terlalu lama dibiarkan.”

Jatmika membuka buku cokelat.

Ia membaca halaman demi halaman.

Tulisan di dalamnya ternyata bukan hanya milik Ratri.

Ada catatan dari berbagai perempuan.

Ada tanggal.

Ada nama.

Ada kejadian.

Semuanya seperti serpihan ingatan.

Hari ke-11: seorang perempuan berhasil mendapatkan kembali rumahnya.

Lihat selengkapnya