Pagi ketika Jatmika hendak berangkat ke kota, Wanasari kedatangan seorang anak.
Bukan anak yang ditunggu.
Bukan pula anak yang direncanakan.
Ia lahir ketika matahari belum muncul sepenuhnya, ketika embun masih menempel di daun singkong dan ayam-ayam baru mulai berkokok dari halaman belakang rumah.
Tangisnya terdengar dari ujung desa.
Panjang.
Keras.
Seperti seseorang yang sejak pertama membuka mata sudah tahu bahwa dunia tidak akan mudah menerimanya.
Jatmika sedang memasukkan pakaian ke dalam tas ketika suara itu terdengar.
Ia berhenti.
Nyi Raras yang sedang menyiapkan bekal juga berhenti.
Mereka saling memandang.
“Anak siapa?” tanya Jatmika.
Nyi Raras tidak menjawab.
Suara tangisan terdengar lagi.
Lebih keras.
Dari arah rumah keluarga Wening.
Jatmika langsung teringat satu nama.
Ratri.
Ia keluar rumah.
Nyi Raras menyusul.
Di jalan, beberapa perempuan berlari ke arah yang sama. Sebagian membawa kain, sebagian membawa air panas, sebagian hanya membawa wajah cemas.
Laras datang dari arah berlawanan.
“Jatmika!”
“Ada apa?”
“Ratri Wening melahirkan.”
Jatmika terdiam.
“Ratri?”
“Bukan Bu Ratri.”
Laras menggeleng.
“Cucunya.”
“Anak siapa?”
“Anak Lestari.”
“Perempuan?”
Laras menatapnya.
“Tidak.”
Ia menarik napas.
“Laki-laki.”
Jatmika tidak bergerak.
Nyi Raras memejamkan mata.
Tangisan bayi kembali terdengar.
Untuk pertama kalinya Jatmika merasa suara seorang bayi bisa membuat seluruh desa diam.
Rumah keluarga Wening sudah dipenuhi orang.
Perempuan-perempuan berdiri di halaman.
Beberapa berbisik.
Beberapa menangis.
Beberapa terlihat marah.
Tidak ada yang tersenyum.
Itu aneh.
Di Wanasari, kelahiran bayi perempuan selalu disambut dengan bunga, makanan, dan doa.
Kelahiran bayi laki-laki biasanya disambut dengan doa yang panjang dan wajah yang lebih serius.
Namun pagi itu bahkan doa pun belum dimulai.
Semua orang menunggu.
Di dalam kamar, seorang perempuan muda bernama Lestari terbaring lemah.
Ia adalah cucu Ratri Wening.
Jatmika mengenalnya dari jauh.
Ia pernah melihat Lestari di pasar.
Perempuan itu dikenal sebagai salah satu anggota muda Dewan Perempuan.
Pagi ini wajahnya pucat.
Di sampingnya terbaring bayi yang baru lahir.
Bayi laki-laki.
Kecil.
Merah.
Matanya masih tertutup.
Namun tangisnya memenuhi kamar.
Seorang bidan sedang membersihkan tubuhnya.
Ratri Wening berdiri di dekat jendela.
Perempuan tua itu sudah sangat renta.
Tetapi matanya masih tajam.
Ia memandang bayi itu lama.
“Anak laki-laki,” katanya.
Tidak ada kebahagiaan dalam suaranya.
Tidak pula kebencian.
Hanya sesuatu yang sulit disebut.
Takut.
Jatmika berdiri di ambang pintu.
Ratri melihatnya.
“Kau.”
Jatmika mengangguk.
“Kenapa datang?”
“Aku mendengar ada bayi lahir.”
“Pulanglah.”
“Kenapa?”
“Ini urusan keluarga.”
Jatmika melihat bayi itu.
“Dia keluarga Wanasari juga.”
Ratri menatapnya.
“Justru itu masalahnya.”
Tidak lama kemudian Bu Ratri datang.
Ia masuk dengan beberapa anggota dewan.
Begitu melihat bayi itu, ia langsung bertanya,
“Sudah dicatat?”
Bidan menggeleng.
“Belum.”
“Kenapa?”
“Ibunya masih terlalu lemah.”
Bu Ratri memandang Lestari.
“Jenis kelamin?”
Bidan diam.
“Laki-laki,” jawab seorang perempuan.
Bu Ratri menarik napas.
“Nama?”
Lestari membuka mata.
“Belum.”
“Siapa ayahnya?”
Lestari diam.
Bu Ratri menatapnya.
“Lestari.”
“Dia pergi.”
“Pergi ke mana?”
“Tidak tahu.”
“Apakah dia suamimu?”
Lestari mengangguk.
“Apakah dia tahu anak ini laki-laki?”
“Belum.”
Bu Ratri menatap bayi.
“Kalau begitu, anak ini masuk dalam garis keluarga Wening melalui ibunya.”
Jatmika mendengarkan.
Seseorang mulai menulis.
“Nama anak?”
Lestari memandang bayinya.
Kemudian berkata,
“Wira.”
Ruangan mendadak sunyi.
Jatmika menegang.
Nyi Raras yang berdiri di belakangnya langsung menatap Lestari.
Bu Ratri mengerutkan kening.
“Wira?”
Lestari mengangguk.
“Wira.”
“Kenapa nama itu?”
Lestari memandang Bu Ratri.
“Karena aku ingin.”
“Nama itu milik siapa?”
“Tidak ada nama yang menjadi milik seseorang.”
Bu Ratri menatapnya.
Lestari tersenyum lemah.
“Bukankah begitu?”
Jatmika melihat Nyi Raras menundukkan kepala.
Nama itu bukan kebetulan.
Semua orang tahu.
Wira Pranata.
Nama yang selama puluhan tahun dianggap sebagai nama seorang pembangkang.
Nama yang dihapus dari beberapa dokumen Wanasari.
Nama yang pernah membuat dewan marah.
Dan sekarang seorang bayi laki-laki dari keluarga pendiri hukum Wanasari diberi nama Wira.
Bu Ratri berkata pelan,
“Ganti.”
Lestari memejamkan mata.
“Tidak.”
“Lestari.”
“Namanya Wira.”
“Nama itu akan menimbulkan masalah.”
“Masalah bagi siapa?”
“Bagi anakmu.”
“Anak saya sudah lahir membawa masalah.”
Ruangan kembali sunyi.
Lestari mencoba bangun.
Bidan menahannya.
“Jangan bergerak.”
Namun Lestari tetap memandang Bu Ratri.
“Dia laki-laki.”
“Ya.”
“Lalu?”
Bu Ratri tidak menjawab.
“Kenapa semua orang memandangnya seolah dia melakukan kesalahan hanya karena dilahirkan sebagai laki-laki?”
Tidak ada yang menjawab.
Tangisan bayi terdengar lagi.
Kali ini lebih keras.
Lestari memeluknya.
“Dia belum tahu apa-apa.”
Berita itu menyebar lebih cepat daripada api.
Cucu Ratri Wening melahirkan anak laki-laki.
Itu saja sudah cukup menjadi bahan pembicaraan.
Tetapi kemudian orang-orang tahu nama bayi itu.
Wira.
Dan masalah menjadi lebih besar.
Di pasar, perempuan-perempuan membicarakannya.
Di sekolah, anak-anak mendengarnya.
Di ladang, para lelaki membicarakannya diam-diam.
Ada yang menganggap Lestari gila.
Ada yang mengatakan ia sedang menantang dewan.
Ada yang mengatakan nama itu sengaja dipilih untuk menghina keluarga Wening.
Ada pula yang berkata bahwa mungkin ia hanya menyukai nama tersebut.
Namun di Wanasari, tidak ada nama yang benar-benar hanya nama.
Nama adalah pernyataan.
Nama adalah garis.
Nama adalah pilihan.
Dan nama Wira adalah pertanyaan.
Jatmika duduk di bawah pohon mangga bersama Laras.
“Kenapa menurutmu dia memilih nama itu?” tanya Laras.
“Entahlah.”
“Kau tidak berpikir itu kebetulan?”
“Tidak.”
“Kenapa?”