Kota ternyata tidak seperti yang dibayangkan Jatmika.
Ia pernah membayangkan kota sebagai tempat yang penuh gedung tinggi, kendaraan yang tidak pernah berhenti, dan manusia yang berjalan tanpa sempat menoleh.
Ternyata yang paling membuatnya berbeda dari Wanasari bukan bangunannya.
Melainkan namanya.
Di kota, orang-orang tidak terlalu peduli siapa ibumu.
Tidak ada yang bertanya apakah kau lahir dari garis perempuan tertentu.
Tidak ada yang memeriksa apakah nama yang kau bawa berasal dari ayah atau ibu.
Orang cukup bertanya:
“Namamu siapa?”
Dan ketika Jatmika menjawab, orang-orang menerimanya.
Tidak ada yang bertanya mengapa namanya hanya Jatmika.
Tidak ada yang mengatakan bahwa nama itu kurang lengkap.
Tidak ada yang mengatakan bahwa seorang laki-laki tidak seharusnya membawa nama ayahnya.
Namun justru karena itu, Jatmika merasa asing.
Ia berdiri di depan sebuah sekolah tua di pinggir kota.
Bangunannya tidak besar.
Dindingnya berwarna putih kusam.
Di halaman terdapat pohon ketapang.
Di bawahnya beberapa anak sedang bermain bola.
Jatmika memegang secarik kertas.
Alamat yang diberikan Nyi Raras.
SMA Bhakti Negara.
Di bawahnya tertulis:
Wira Pranata — Guru Sejarah.
Jatmika menarik napas.
Ia sudah berdiri di sana hampir sepuluh menit.
Seorang lelaki tua yang sedang menyapu halaman melihatnya.
“Mencari siapa?”
Jatmika menunjukkan kertas.
“Pak Wira.”
Lelaki itu menunjuk gedung.
“Ruang guru.”
“Masih mengajar?”
“Kalau tidak sedang sakit.”
Jatmika mengangguk.
Ia melangkah masuk.
Setiap langkah terasa seperti menuju sesuatu yang selama bertahun-tahun hanya hidup dalam cerita.
Wira Pranata.
Ayahnya.
Lelaki yang wajahnya hanya ia kenal dari satu foto lama.
Lelaki yang namanya pernah dianggap ancaman.
Lelaki yang meninggalkan Wanasari.
Lelaki yang tidak pernah benar-benar hilang.
Wira sedang berdiri di depan papan tulis.
Usianya mungkin sekitar lima puluh tahun.
Rambutnya sudah dipenuhi uban.
Ia mengenakan kemeja putih sederhana.
Di tangannya ada kapur.
Di papan tertulis:
SEJARAH DAN KEKUASAAN
Jatmika berhenti di depan pintu.
Wira sedang berbicara kepada murid-murid.
“Sejarah bukan daftar tanggal.”
Ia menulis satu kalimat.
Siapa yang menulis sejarah?
“Kalau kalian hanya menghafal siapa yang menang dalam perang, kalian belum belajar sejarah.”
Beberapa murid memperhatikan.
“Pertanyaan yang lebih penting adalah siapa yang diberi kesempatan untuk menulis tentang perang itu.”
Wira berbalik.
Matanya bertemu dengan Jatmika.
Kapur di tangannya berhenti.
Tidak ada suara.
Wira menatapnya lama.
Jatmika juga.
Ada sesuatu yang aneh.
Ia tidak pernah bertemu lelaki itu.
Namun tubuhnya mengenali sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.
Cara berdiri.
Cara memiringkan kepala.
Tatapan.
Bahkan cara menggenggam kapur.
Semuanya terasa seperti sesuatu yang pernah ia lihat dalam dirinya sendiri.
Wira berkata kepada murid-murid,
“Pelajaran selesai.”
Seorang murid mengangkat tangan.
“Pak, belum bel.”
“Saya tahu.”
“Kenapa selesai?”
Wira masih memandang Jatmika.
“Karena ada seseorang yang sudah menunggu terlalu lama.”
Murid-murid mulai keluar.
Satu per satu.
Jatmika tetap berdiri di pintu.
Ketika kelas kosong, Wira meletakkan kapur.
“Jatmika?”
Jatmika mengangguk.
“Ya.”
Wira menelan ludah.
“Berapa umurmu?”
“Dua puluh.”
Wira tersenyum kecil.
“Terakhir kali aku melihatmu, kau belum bisa berjalan.”
Jatmika tidak tahu harus menjawab apa.
Wira mendekat.
Ia berhenti beberapa langkah di depan Jatmika.
“Mirah pasti senang melihatmu.”
Jatmika menahan napas.
“Bapak masih ingat Ibu?”
Wira memandangnya.
“Tidak ada satu hari pun aku berhenti mengingatnya.”
Mereka duduk di ruang guru.
Wira membuat teh.
Tangannya sedikit gemetar.
Jatmika memperhatikan.
“Bapak gugup?”
Wira tersenyum.
“Seorang guru bisa menjelaskan perang selama tiga jam kepada tiga puluh murid.”
Ia menyerahkan teh.
“Tapi tidak tahu harus bicara apa kepada anaknya sendiri.”
Jatmika memegang cangkir.
“Kenapa Bapak tidak datang?”
Pertanyaan itu keluar lebih cepat daripada yang ia rencanakan.
Wira diam.
“Tidak apa-apa kalau tidak mau jawab.”
“Aku mau.”
Wira menarik napas.
“Aku pergi karena aku tahu kalau aku tetap di Wanasari, aku akan membuat hidupmu lebih sulit.”
“Karena hukum?”
“Karena aku menentangnya.”
“Bapak bisa melawan.”
“Aku pernah.”
“Lalu?”
“Aku kalah.”
Jatmika teringat kata Sarmi.
“Bukan perang yang diumumkan.”
Wira menatapnya.
“Siapa yang mengatakan itu?”
“Sarmi.”
Wira tersenyum.
“Perempuan tua itu masih hidup?”
“Masih.”
“Bagus.”
“Bapak mengenalnya?”
“Semua orang yang pernah hidup dalam sejarah Wanasari saling mengenal.”
Jatmika menatapnya.
“Bapak tahu aku?”
“Tidak.”
“Apa?”
“Bukan kau.”
Wira menggeleng.
“Aku tahu tentangmu.”
“Bedanya?”
“Kalau tahu tentang seseorang, kita tahu ceritanya.”
Ia menatap Jatmika.
“Kalau tahu seseorang, kita tahu bagaimana ia tertawa ketika gugup.”
Jatmika tersenyum tipis.
“Bapak belum tahu.”
“Sekarang tahu.”
Untuk pertama kalinya mereka tertawa bersama.
Hanya sebentar.
Namun cukup untuk membuat jarak dua puluh tahun terasa sedikit lebih pendek.
Setelah itu percakapan menjadi lebih mudah.
Jatmika bercerita tentang Wanasari.
Tentang Nyi Raras.
Tentang buku.
Tentang tanah.
Tentang Ratri.
Tentang bayi bernama Wira.
Wira mendengarkan tanpa memotong.
Ketika Jatmika menyebut nama bayi itu, wajah Wira berubah.
“Dia benar-benar diberi nama Wira?”
“Ya.”
“Kenapa?”
“Karena ibunya ingin dia tidak takut menjadi laki-laki.”
Wira menunduk.
Matanya berkaca-kaca.
“Lestari,” katanya pelan.
“Bapak mengenalnya?”
“Dulu dia masih kecil.”
“Sekarang sudah punya anak.”
“Waktu memang tidak pernah meminta izin.”
Jatmika mengangguk.
“Bu Ratri akhirnya membiarkan.”
“Ratri?”
“Ya.”
Wira tersenyum.
“Kalau begitu, mungkin sesuatu benar-benar berubah.”
“Belum.”
“Kenapa?”
“Dewan belum mengubah hukum.”
Wira mengangguk.
“Jadi bayi itu hanya membuka pintu.”
“Ya.”
“Dan sekarang kalian harus memutuskan apakah mau masuk.”
Jatmika memandang ayahnya.
“Bapak bicara seperti guru.”
“Aku memang guru.”
“Bapak selalu begitu?”
“Sayangnya.”
Jatmika tersenyum.
Kemudian wajahnya kembali serius.
“Bapak ingin aku pulang?”
Wira diam.
“Tidak.”
Jawaban itu membuat Jatmika terkejut.
“Kenapa?”
“Karena Wanasari bukan sesuatu yang harus kau buktikan.”
“Lalu?”
“Pulanglah kalau kau ingin pulang.”
“Kalau tidak?”
“Jangan.”
Jatmika menatapnya.
“Bapak tidak marah?”
“Aku pernah membuat kesalahan karena terlalu banyak memutuskan apa yang seharusnya dilakukan orang lain.”
“Kesalahan apa?”
“Menentukan bahwa kebenaran akan menyelamatkan semua orang.”
Wira menatap jendela.
“Kadang kebenaran hanya membuat luka terlihat lebih jelas.”
Jatmika mengeluarkan cincin perak.
Ia meletakkannya di meja.
Wira langsung mengenalinya.
“Dari mana kau mendapatkannya?”
“Nenek.”
Wira mengambil cincin itu.
Tangannya gemetar.
“Dia masih menyimpannya.”