Rahim Wanasari

Bear Winter
Chapter #10

Rahim yang Retak

Pagi setelah hukum Wanasari berubah, tidak ada lonceng yang berbunyi.

Tidak ada perempuan yang membawa bunga ke balai desa.

Tidak ada laki-laki yang keluar rumah sambil mengangkat tangan sebagai tanda kemenangan.

Tidak ada pesta.

Wanasari bangun seperti biasanya.

Ayam berkokok.

Asap dapur naik dari atap-atap rumah.

Perempuan membawa keranjang ke pasar.

Laki-laki mengangkut hasil kebun.

Anak-anak berlari menuju sekolah.

Seolah-olah hukum yang selama puluhan tahun mengatur hidup mereka bukan sesuatu yang baru saja retak.

Namun Jatmika tahu, sesuatu telah berubah.

Bukan pada jalan.

Bukan pada rumah.

Bukan pada tanah.

Melainkan pada cara orang-orang memandang satu sama lain.

Di depan warung, dua perempuan sedang berdebat tentang aturan baru.

“Kalau anak laki-laki boleh punya tanah, nanti semua tanah habis.”

“Tidak semua.”

“Sekarang mungkin tidak. Sepuluh tahun lagi?”

“Kalau begitu, sepuluh tahun lagi kita buat aturan lagi.”

“Lihat? Kalian memang tidak pernah puas dengan aturan.”

Di sudut lain, dua lelaki sedang berbicara pelan.

“Jadi sekarang aku boleh punya tanah?”

“Kalau ibumu memberikan.”

“Kalau istriku?”

“Kalau dia setuju.”

Lelaki itu tertawa kecil.

“Rasanya aneh.”

“Kenapa?”

“Selama ini kita takut meminta.”

Jatmika berjalan melewati mereka.

Ia tidak ikut bicara.

Ia hanya mendengar.

Hukum memang berubah dalam satu malam.

Tetapi kebiasaan manusia tidak.

Nyi Raras belum bangun ketika Jatmika kembali dari pasar.

Ia menemukan perempuan tua itu duduk di dapur.

Di depannya ada panci air yang belum mendidih.

“Nenek.”

Tidak ada jawaban.

Jatmika mendekat.

“Nenek?”

Nyi Raras menatap api.

“Semalam aku terlalu banyak bicara.”

“Dengan siapa?”

“Dengan diriku sendiri.”

Jatmika duduk di sampingnya.

“Aku mau bertanya.”

“Aku tahu.”

“Bapak juga bilang Nenek tahu jawabannya.”

Nyi Raras tersenyum tipis.

“Wira masih suka menyuruh orang lain bicara kepadaku?”

“Dia tidak menyuruh.”

“Kalau begitu kau yang keras kepala.”

“Mungkin.”

Nyi Raras akhirnya menatapnya.

“Pertanyaanmu tentang Mirah?”

“Ya.”

“Kenapa Ibu memilih tinggal?”

Nyi Raras tidak menjawab.

Jatmika menunggu.

“Aku ingin mendengar dari Nenek.”

“Tidak semua yang ingin diketahui harus segera diketahui.”

“Kalimat itu pernah Nenek katakan ketika aku kecil.”

“Karena waktu itu kau bertanya kenapa ayahmu tidak pulang.”

“Dan sekarang aku sudah tahu.”

“Belum semuanya.”

Jatmika menatapnya.

“Nenek pernah bilang Wira pergi ke kota karena hukum.”

“Benar.”

“Bapak bilang dia pergi karena takut membuat hidupku lebih sulit.”

“Benar.”

“Berarti keduanya benar.”

“Ya.”

“Lalu Ibu?”

Nyi Raras menarik napas.

“Mirah tidak pergi karena dia memilih tinggal.”

Jatmika mengerutkan kening.

“Bukankah itu sama?”

“Tidak.”

Nyi Raras berdiri.

Ia mengambil gelas dari rak.

“Orang bisa memilih tinggal karena mencintai rumahnya.”

Ia menuang air.

“Orang juga bisa tinggal karena tidak punya jalan keluar.”

Jatmika diam.

“Mirah yang kedua.”

Hari itu Jatmika tidak jadi pergi ke kota.

Ia dan Nyi Raras duduk di ruang tengah.

Pintu ditutup.

Jendela dibuka.

Cahaya pagi masuk melalui sela tirai.

Di antara mereka terletak kotak kayu tua yang selama ini disimpan Nyi Raras.

Kotak yang pernah dilihat Jatmika ketika masih kecil.

Nyi Raras meletakkannya di meja.

“Kau sudah melihat sebagian isinya.”

“Foto.”

“Dan cincin.”

“Buku.”

Nyi Raras mengangguk.

“Tapi ada satu bagian yang belum pernah kuberikan kepadamu.”

Ia membuka dasar kotak.

Tidak ada rahasia besar di sana.

Tidak ada emas.

Tidak ada surat berharga.

Hanya beberapa lembar kertas yang sudah menguning.

Jatmika mengambil satu.

Tulisan tangan Mirah.

Ia mengenalinya.

“Ini tulisan Ibu.”

“Ya.”

Jatmika membaca.

Hanya satu kalimat.

Kalau suatu hari Jatmika bertanya kenapa aku tetap tinggal, jangan katakan bahwa aku tidak punya pilihan. Katakan bahwa aku memilihnya.

Jatmika mengangkat wajah.

“Apa maksudnya?”

Nyi Raras tidak menjawab.

Ia mengambil surat lain.

Anak tidak boleh tumbuh dari kebohongan, tetapi anak juga tidak harus menanggung seluruh kebenaran orang tuanya.

Jatmika membaca lagi.

Lalu surat ketiga.

Aku tahu mereka mengawasi.

Tangannya berhenti.

“Siapa?”

Nyi Raras diam.

“Siapa yang mengawasi Ibu?”

“Dewan.”

“Semua?”

“Tidak.”

“Siapa?”

Nyi Raras menunduk.

“Orang-orang tertentu.”

“Bu Ratri?”

“Bukan.”

Jatmika merasa sesuatu jatuh di dalam dadanya.

“Ratri Wening?”

Nyi Raras tidak langsung menjawab.

“Bukan dia.”

“Lalu siapa?”

Nyi Raras menyentuh surat itu.

“Orang yang sekarang sudah tidak ada.”

“Siapa?”

“Salah satu anggota dewan lama.”

“Namanya?”

Nyi Raras menatapnya.

“Surat-surat itu tidak menyebut nama.”

“Kenapa?”

“Karena Mirah takut.”

“Takut pada apa?”

“Kalau nama itu tertulis, surat itu bisa menjadi bukti.”

Jatmika menatap lembaran kertas.

“Tapi sekarang orangnya sudah mati.”

“Tidak berarti akibatnya ikut mati.”

Jatmika pergi ke rumah Pak Danu.

Lelaki tua itu sedang memperbaiki jam.

Jarum-jarum kecil berserakan di meja.

“Pak.”

Pak Danu mengangkat kepala.

“Kau pulang.”

“Semalam.”

“Dewan berubah.”

“Ya.”

Pak Danu tersenyum.

“Sudah kuduga.”

“Bapak tahu?”

“Tidak.”

“Lalu kenapa bilang sudah menduga?”

“Karena manusia akhirnya selalu bosan hidup dalam ketakutan.”

Jatmika duduk.

“Aku ingin mencari satu nama.”

Pak Danu meletakkan kaca pembesar.

“Nama siapa?”

“Anggota dewan lama.”

“Yang mana?”

“Orang yang mengawasi ibuku.”

Pak Danu diam.

“Bapak tahu?”

“Aku tahu banyak nama.”

“Yang mana?”

Pak Danu mengambil napas.

“Jangan cari nama itu.”

“Kenapa?”

“Karena kau sudah mendapatkan yang lebih penting.”

“Apa?”

“Kesempatan untuk hidup tanpa mengulang hidup mereka.”

Jatmika berdiri.

“Kalau aku tidak tahu siapa yang melakukan itu, bagaimana aku bisa memaafkan?”

Pak Danu memandangnya.

“Siapa bilang kau harus memaafkan?”

Jatmika terdiam.

“Mengetahui bukan berarti memaafkan.”

Pak Danu menunjuk jam di meja.

“Lihat.”

Jatmika menatapnya.

“Jam rusak karena satu roda kecil.”

“Lalu?”

“Kalau kau hanya mengganti roda itu tanpa membersihkan seluruh mesinnya, jam akan rusak lagi.”

Jatmika tersenyum tipis.

“Bapak sedang bicara tentang Wanasari?”

“Sayangnya, aku sudah terlalu tua untuk bicara soal jam.”

Ketika Jatmika kembali, halaman rumah Nyi Raras sudah penuh.

Bu Ratri berdiri di sana.

Wajahnya tidak seperti biasanya.

Tidak keras.

Tidak pula ramah.

Hanya lelah.

“Aku ingin bicara dengan Nyi Raras.”

“Masuk.”

Bu Ratri melihat Jatmika.

“Kau juga.”

Mereka bertiga duduk di ruang tengah.

Bu Ratri membawa sebuah map.

Ia meletakkannya di meja.

“Ini arsip lama.”

Nyi Raras memandangnya.

“Aku tidak mau melihat.”

“Ini bukan untukmu.”

Bu Ratri menatap Jatmika.

“Untuk dia.”

Jatmika membuka map.

Di dalamnya ada salinan keputusan dewan.

Lihat selengkapnya