Rahim Wanasari

Bear Winter
Chapter #11

Wanasari

Pagi itu, Wanasari bangun dengan suara ayam yang lebih berisik daripada biasanya.

Jatmika mendengarnya dari jendela rumah Nyi Raras. Satu ayam berkokok dari belakang dapur, disahut ayam lain dari rumah sebelah, lalu seekor ayam entah milik siapa ikut menyela dari ujung gang.

Seolah-olah mereka sedang berdebat mengenai sesuatu yang sangat penting.

Jatmika tersenyum tipis.

Dulu ia mengira Wanasari adalah tempat yang tahu bagaimana menjalankan hidup dengan benar. Semua memiliki aturan. Semua memiliki tempat. Perempuan menjadi kepala keluarga. Laki-laki bekerja. Anak perempuan membawa nama ibunya. Anak laki-laki tidak boleh membawa nama ayahnya. Tanah diwariskan melalui perempuan. Pernikahan diatur keluarga. Bahkan kelahiran seorang anak pun memiliki cara sendiri untuk dirayakan.

Wanasari seperti rumah yang sudah dibangun sebelum dirinya lahir.

Dan anak-anak tidak pernah ditanya apakah mereka ingin tinggal di dalam rumah itu.

Mereka hanya dilahirkan di sana.

Jatmika menutup jendela.

Di meja, ada secangkir teh yang sudah dingin.

Nyi Raras tidak ada di dapur.

Ia sudah berangkat sejak subuh.

Meninggalkan sebuah pesan pendek di atas meja.

Jangan datang ke rumah Wening Prawira sendirian.

Jatmika membaca kalimat itu dua kali.

Lalu tersenyum.

"Berarti memang harus ke sana."

Ia memasukkan kertas itu ke saku.

Rumah Wening Prawira berdiri di atas bukit sebelah timur Wanasari. Rumah itu tidak terlalu jauh jika dilihat dari bawah. Atapnya bahkan tampak di antara pohon-pohon jati. Tetapi jalan menuju ke sana berkelok dan menanjak.

Orang Wanasari jarang melewati jalan itu.

Bukan karena ada larangan.

Hanya karena mereka tidak suka membicarakan rumah yang penghuninya terlalu banyak tahu.

Begitulah cara sebuah masyarakat menciptakan larangan tanpa pernah menuliskannya.

Jatmika berjalan melewati pasar.

Beberapa orang menoleh.

Sejak keputusan perubahan hukum diumumkan, tatapan orang-orang kepadanya berubah.

Sebagian memandang seperti melihat anak yang baru saja melakukan sesuatu yang tidak pantas.

Sebagian lagi seperti melihat orang yang akhirnya berani mengatakan sesuatu yang selama ini mereka pikirkan diam-diam.

Tidak ada yang benar-benar menyapanya.

Kecuali Laras.

"Kau benar-benar mau ke sana?"

Jatmika berhenti.

Laras berdiri di depan warung, membawa dua bungkus nasi.

"Ke rumah Wening Prawira."

Jatmika mengangguk.

"Kau tahu dari mana?"

"Nyi Raras."

Laras menghela napas.

"Berarti dia sudah tahu."

"Semua orang sepertinya tahu kecuali aku."

Laras menyerahkan satu bungkus nasi kepadanya.

"Untuk perjalanan."

"Aku tidak pergi jauh."

"Kalau begitu untuk berjaga-jaga."

Jatmika menerimanya.

Mereka berjalan beberapa langkah bersama.

"Ranu di mana?" tanya Jatmika.

"Di balai."

"Kenapa?"

"Dia membantu Pak Danu memindahkan arsip."

Jatmika berhenti sebentar.

"Arsip?"

"Dokumen lama. Setelah hukum berubah, banyak orang ingin melihat kembali catatan lama."

Laras menatapnya.

"Orang-orang mulai bertanya."

"Bagus."

"Belum tentu."

Jatmika mengerutkan dahi.

"Kenapa?"

"Karena ketika orang mulai bertanya, mereka tidak selalu suka dengan jawaban."

Jatmika tersenyum kecil.

"Setidaknya mereka mulai bertanya."

Laras ikut tersenyum.

"Pergilah."

"Kau tidak ikut?"

Laras menggeleng.

"Aku sudah cukup ikut campur dalam hidupmu."

"Sejak kapan?"

"Sejak kau mulai bertanya kenapa anak laki-laki tidak boleh punya nama ayah."

Laras menatapnya beberapa saat.

"Jatmika."

"Ya?"

"Jangan benci Wanasari."

Jatmika tidak segera menjawab.

"Aku tidak tahu apakah aku bisa."

Laras menggeleng.

"Kalau kau membenci Wanasari, kau akan melakukan hal yang sama seperti orang-orang sebelum kita."

"Apa?"

"Membuat semua yang berbeda darimu menjadi musuh."

Jatmika menunduk.

Kalimat itu mengingatkannya pada tulisan Wira.

Laki-laki juga tidak membutuhkan dunia yang dikuasai perempuan.

Ia memasukkan bungkus nasi ke dalam tas.

"Terima kasih."

"Untuk nasinya?"

"Untuk mengingatkan."

Laras tersenyum.

"Lalu pulanglah."

Jatmika melanjutkan perjalanan.

Rumah Wening Prawira tidak terlihat menyeramkan.

Itulah yang membuatnya lebih menyeramkan.

Pagar kayunya dicat cokelat. Halamannya bersih. Ada pohon mangga besar di samping rumah. Bunga melati tumbuh di dekat tangga.

Tidak ada penjaga.

Tidak ada anjing.

Tidak ada tanda bahwa rumah itu milik seseorang yang selama puluhan tahun menyimpan rahasia Wanasari.

Jatmika mengetuk pintu.

Sekali.

Tidak ada jawaban.

Ia mengetuk lagi.

Pintu terbuka.

Seorang laki-laki tua berdiri di sana.

Rambutnya putih hampir seluruhnya. Tubuhnya kurus. Ia memakai kemeja lengan panjang berwarna krem.

Matanya tajam.

Bukan mata orang yang marah.

Lebih seperti mata seseorang yang sudah terlalu lama melihat orang lain melakukan kesalahan dan merasa dirinya satu-satunya yang memahami kebenaran.

"Kau Jatmika."

Bukan pertanyaan.

Jatmika mengangguk.

"Dan kau Wening Prawira."

Laki-laki itu tersenyum.

"Masuk."

Jatmika melangkah.

Ruang tamunya sederhana.

Ada rak buku yang memenuhi satu dinding. Sebagian besar buku sudah tua. Di atas meja terdapat beberapa map.

Jatmika melihat satu nama pada map paling atas.

WIRA PRANATA.

Dadanya terasa sesak.

Wening Prawira mengikuti pandangannya.

"Kau datang untuk mencari ayahmu?"

"Aku sudah bertemu ayahku."

Wening mengangkat alis.

"Begitu?"

"Namanya Wira Pranata."

"Ya."

"Dia masih hidup."

"Aku tahu."

Jatmika menatapnya.

"Kau tahu?"

"Semua orang yang pernah mencoba mengubah Wanasari selalu menarik perhatianku."

"Termasuk ayahku?"

"Terutama ayahmu."

Jatmika duduk.

Wening tidak ikut duduk.

Ia berjalan ke rak buku, mengambil sebuah buku tebal, lalu meletakkannya di atas meja.

"Ini yang kau cari."

Jatmika melihat sampulnya.

Tidak ada judul.

Ia membukanya.

Halaman pertama berisi tulisan tangan.

Tulisan yang ia kenali.

Tulisan Wira.

Sejarah tidak pernah sesederhana siapa yang benar dan siapa yang salah.

Jatmika membalik halaman.

Ada tanggal.

Ada nama-nama.

Sulastri.

Ratri Wening.

Sastro Wening.

Nyi Raras.

Mirah.

Wira Pranata.

Dan banyak nama lain yang tidak pernah ia dengar.

"Apa ini?"

"Catatan sejarah Wanasari."

"Kenapa disimpan di sini?"

"Karena kalau disimpan di balai desa, mungkin sudah dibakar."

Jatmika menatapnya.

"Kau membakar dokumen?"

Wening tersenyum.

"Beberapa."

"Kenapa?"

"Karena tidak semua sejarah harus diketahui."

"Siapa yang menentukan?"

"Aku."

Jawaban itu datang begitu cepat sehingga Jatmika hampir tertawa.

Namun wajah Wening tetap serius.

"Kau mengerti sekarang?"

"Apa?"

"Masalah Wanasari."

Wening duduk di kursi seberang.

"Semua orang mengira masalah Wanasari adalah hukum yang salah. Bukan."

"Kalau begitu apa?"

"Manusia yang memegang hukum."

Jatmika diam.

Wening menyandarkan tubuh.

"Wanasari tidak lahir sebagai tempat yang jahat."

"Aku tahu."

"Wanasari lahir karena perempuan takut."

"Karena mereka memang punya alasan untuk takut."

"Ya."

Wening mengangguk.

"Itulah bagian yang tidak ingin didengar orang."

Ia menunjuk buku di hadapan Jatmika.

Lihat selengkapnya