Rahim Wanasari

Bear Winter
Chapter #12

Perubahan

Pagi pertama setelah Wanasari memutuskan untuk membuka kembali sejarahnya, tidak ada yang berubah.

Ayam tetap berkokok.

Penjual sayur tetap berteriak di ujung jalan.

Ibu-ibu tetap menyapu halaman.

Anak-anak tetap berlarian menuju sekolah sambil membawa tas yang lebih besar daripada tubuh mereka.

Dan para lelaki tetap pergi bekerja.

Tidak ada petir.

Tidak ada gunung meletus.

Tidak ada langit yang terbelah sebagai tanda bahwa sebuah zaman telah berakhir.

Jatmika justru merasa agak kecewa.

Ia pernah membayangkan perubahan akan terdengar seperti suara pintu dibanting.

Ternyata perubahan lebih sering terdengar seperti sapu lidi yang bergesekan dengan tanah.

Pelan.

Biasa.

Hampir tidak terlihat.

Ia berdiri di depan balai desa bersama Nyi Raras, memandang orang-orang yang mulai berdatangan.

Pak Danu membawa tiga kardus dokumen.

Ranu membawa dua.

Laras membawa daftar nama.

Bu Ratri datang paling akhir.

Di belakangnya, beberapa perempuan dari dewan lama berjalan dengan wajah yang sulit dibaca.

Mereka tidak datang untuk berdebat.

Setidaknya pagi itu.

Mereka datang untuk melihat.

Di tengah balai, meja-meja panjang telah disusun.

Di atasnya akan diletakkan arsip lama Wanasari.

Semua.

Termasuk dokumen yang selama puluhan tahun hanya boleh dilihat oleh orang-orang tertentu.

Termasuk catatan yang menyebut nama-nama laki-laki yang pernah dihapus.

Termasuk keputusan-keputusan yang membuat anak laki-laki kehilangan hak atas nama ayahnya.

Termasuk catatan tentang Sastro.

Tentang Wira.

Tentang Mirah.

Tentang orang-orang yang hidupnya pernah berubah karena sebuah tanda tangan di atas kertas.

Jatmika memandang Nyi Raras.

"Nenek yakin?"

Nyi Raras mengangguk.

"Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak yakin tentang apa pun."

Jatmika tersenyum.

"Itu bagus."

"Kenapa?"

"Karena orang yang terlalu yakin biasanya tidak mau mendengar."

Nyi Raras tertawa kecil.

"Sejak kapan kau pandai bicara?"

"Sejak punya nenek yang terlalu banyak menyembunyikan."

Nyi Raras memukul lengannya pelan.

"Kurang ajar."

Jatmika tertawa.

Untuk beberapa saat mereka hanya berdiri begitu.

Nenek dan cucu.

Dulu Jatmika mengira Nyi Raras adalah orang yang selalu tahu jawaban.

Sekarang ia tahu, neneknya sama seperti manusia lain.

Ada pertanyaan yang tidak pernah bisa dijawabnya.

Ada keputusan yang disesalinya.

Ada kesalahan yang tidak bisa diperbaiki.

Namun mungkin seseorang tidak harus menjadi tanpa kesalahan untuk bisa berubah.

Mungkin yang dibutuhkan hanya keberanian untuk mengatakan:

Aku pernah salah.

Menjelang siang, balai desa penuh.

Orang-orang datang dari berbagai dusun.

Ada perempuan tua yang pernah duduk di dewan.

Ada lelaki yang sepanjang hidupnya bekerja di ladang milik keluarga istrinya.

Ada anak-anak muda yang baru pertama kali mendengar nama Sastro Wening.

Ada ibu yang membawa anak laki-lakinya dan berdiri di dekat pintu.

Ada pula beberapa orang yang datang hanya karena penasaran.

Di bagian depan, Bu Ratri berdiri.

Wajahnya tidak lagi setegas ketika pertama kali menghadapi Jatmika.

Namun ia masih terlihat seperti seseorang yang sedang berusaha memahami dunia baru dengan aturan lama.

"Arsip akan dibuka bertahap," katanya.

Seorang perempuan dari belakang mengangkat tangan.

"Kenapa bertahap?"

"Karena jumlahnya banyak."

Perempuan itu menggeleng.

"Bukan itu. Kenapa tidak dibuka semuanya?"

Bu Ratri terdiam.

Jatmika memandangnya.

Akhirnya Bu Ratri berkata,

"Karena kami takut."

Beberapa orang mulai berbisik.

Bu Ratri mengangkat tangan.

"Ya. Takut."

Ruangan menjadi sunyi.

"Kami takut ketika semua orang mengetahui sejarah Wanasari, mereka akan menggunakan sejarah itu untuk saling menyalahkan."

Seorang lelaki tua berseru dari belakang,

"Memangnya selama ini tidak begitu?"

Beberapa orang tertawa kecil.

Bu Ratri tersenyum getir.

"Mungkin memang begitu."

Ia menarik napas.

"Tetapi kalau kita terus menyembunyikan sejarah karena takut orang menyalahgunakannya, kita akan membuat kesalahan yang sama. Kita akan menganggap orang-orang Wanasari tidak cukup dewasa untuk mengetahui kebenaran tentang dirinya sendiri."

Jatmika menatapnya.

Itu mungkin kalimat paling berani yang pernah keluar dari mulut Bu Ratri.

Pak Danu mulai membuka kardus pertama.

Kertas-kertas lama dikeluarkan.

Satu demi satu.

Tidak ada musik.

Tidak ada upacara.

Hanya suara kertas tua dibalik.

Namun bagi Jatmika, bunyi itu terasa lebih keras daripada genderang.

Sejarah Wanasari mulai dibuka.

Hari-hari berikutnya tidak mudah.

Jatmika baru menyadarinya setelah tiga hari.

Ada keluarga yang marah karena menemukan leluhur mereka pernah ikut menghapus nama seorang lelaki dari silsilah.

Ada perempuan yang menangis ketika mengetahui neneknya ternyata pernah dipaksa meninggalkan rumah oleh keputusan dewan.

Ada laki-laki yang baru mengetahui ayahnya dulu pernah mencoba menuntut hak atas tanah, tetapi permohonannya tidak pernah dicatat.

Ada pula orang-orang yang justru kecewa karena sejarah tidak sesuai dengan cerita yang mereka dengar sejak kecil.

Mereka ingin menemukan pahlawan.

Mereka tidak menemukan.

Mereka ingin menemukan penjahat.

Mereka juga tidak menemukan.

Yang mereka temukan hanyalah manusia.

Manusia yang kadang berbuat baik.

Kadang berbuat buruk.

Kadang berani.

Kadang pengecut.

Kadang menjadi korban.

Kadang menjadi pelaku.

Dan yang paling menyakitkan adalah menemukan bahwa seseorang bisa menjadi keduanya pada waktu yang sama.

Suatu sore, Jatmika duduk di antara tumpukan arsip.

Ranu duduk di sampingnya.

"Aku menemukan nama ayahku."

Jatmika menoleh.

"Di mana?"

Ranu menyerahkan selembar kertas.

Ada nama ayahnya.

Tercatat sebagai laki-laki yang pernah mengajukan permohonan untuk mempertahankan rumah keluarganya setelah menikah.

Permohonan itu ditolak.

Ranu membaca tulisan di bawahnya.

"Alasannya karena rumah merupakan hak garis perempuan."

Ia terdiam.

"Dulu aku pikir ayahku tidak pernah memperjuangkanku."

Jatmika menatapnya.

"Ternyata?"

"Ternyata dia pernah."

Ranu tertawa kecil.

Namun matanya basah.

"Kenapa tidak ada yang pernah memberitahuku?"

Jatmika tidak tahu jawabannya.

Ranu melipat kertas itu.

"Sepertinya aku harus pulang."

"Ke rumah keluargamu di Dusun Karang?"

Ranu mengangguk.

"Aku ingin menemui ayahku."

Jatmika tersenyum.

"Pergilah."

Ranu berdiri.

Sebelum pergi, ia berhenti.

"Jatmika."

"Ya?"

"Kalau nanti Wanasari benar-benar berubah, kau masih akan tinggal?"

Pertanyaan itu membuat Jatmika terdiam.

Ia memikirkan Wira.

Ayahnya yang pergi ke kota.

Mirah.

Nyi Raras.

Rumah Wira.

Semua yang sudah terjadi.

"Aku belum tahu."

Ranu mengangguk.

"Jawaban yang bagus."

"Kenapa?"

"Karena dulu orang-orang Wanasari selalu dipaksa memilih."

Ia tersenyum.

"Sekarang kita boleh tidak tahu."

Kemudian ia pergi.

Jatmika kembali kepada arsip.

Untuk pertama kalinya, ia mengerti bahwa kebebasan bukan selalu tentang memilih.

Kadang kebebasan adalah hak untuk mengatakan:

Aku belum tahu.

Malamnya, Jatmika pergi menemui Wira.

Ayahnya duduk di teras rumah kecilnya di kota.

Sejak kepulangannya dari Wanasari, Wira beberapa kali datang mengunjunginya.

Hubungan mereka belum menjadi seperti hubungan ayah dan anak dalam cerita-cerita.

Mereka belum bisa berbicara dengan mudah.

Masih ada jeda-jeda panjang.

Masih ada pertanyaan yang kadang berhenti di tenggorokan.

Namun sekarang mereka tidak lagi hidup dalam kebohongan.

Itu sudah cukup.

"Bagaimana Wanasari?" tanya Wira.

"Berantakan."

Wira tersenyum.

"Berarti hidup."

Jatmika duduk di sebelahnya.

"Mereka membuka arsip."

"Semua?"

"Pelan-pelan."

"Bagus."

"Ada orang-orang yang marah."

Lihat selengkapnya