Setelah Rahim Membuka Pintu
Dua puluh tahun kemudian, Wanasari masih berada di antara dua bukit.
Jalan menuju desa itu sudah tidak lagi berupa tanah merah yang mudah berubah menjadi lumpur ketika hujan. Jalan telah dilapisi aspal. Sebuah jembatan beton membelah sungai kecil di sebelah utara. Pasar yang dahulu hanya memiliki beberapa kios kayu kini mempunyai atap seng panjang dan deretan toko dengan papan nama berwarna-warni.
Namun bukit-bukit itu masih sama.
Pohon jati masih tumbuh di lereng.
Burung-burung masih turun menjelang sore.
Dan ketika kabut datang dari arah hutan, Wanasari masih tampak seperti desa yang sengaja disembunyikan dunia.
Orang-orang yang pernah tinggal di sana mengatakan perubahan terbesar bukan pada jalan, rumah, atau pasar.
Perubahan terbesar ada pada nama.
Dahulu, seorang anak laki-laki yang lahir di Wanasari tidak boleh membawa nama ayahnya.
Sekarang, tidak ada seorang pun yang berhak melarang.
Dahulu, tanah memiliki aturan yang berbeda bagi perempuan dan laki-laki.
Sekarang, tanah tetap harus diwariskan, tetapi bukan berdasarkan jenis kelamin.
Dahulu, seorang anak tidak selalu berhak mengetahui kedua orang tuanya.
Sekarang, hak itu dianggap sebagai bagian dari kehidupan.
Namun hukum baru tidak menghapus masa lalu.
Justru sebaliknya.
Di balai desa, sebuah ruangan khusus dibangun untuk menyimpan arsip lama.
Di pintunya tertulis:
RUANG INGAT WANASARI
Tidak ada penjaga.
Tidak ada kunci.
Siapa pun boleh masuk.
Di dalamnya tersimpan dokumen-dokumen yang dahulu dianggap terlalu berbahaya untuk diketahui masyarakat.
Surat Sastro Wening.
Catatan Ratri Wening.
Dokumen perubahan hukum.
Catatan pengawasan terhadap keluarga Pranata.
Surat-surat Mirah.
Tulisan Wira Pranata.
Dan catatan Nyi Raras.
Tidak semuanya indah.
Sebagian membuat orang marah.
Sebagian membuat keluarga malu.
Sebagian bahkan membuat orang bertengkar.
Namun tidak ada lagi yang menyembunyikannya.
Di dinding paling belakang terdapat sebuah tulisan besar:
SEJARAH BUKAN UNTUK MEMBANGGAKAN YANG BENAR.
SEJARAH UNTUK MENGINGATKAN YANG PERNAH SALAH.
Tulisan itu dibuat oleh Jatmika.
Ia tidak lagi tinggal di Wanasari setiap hari.
Setelah bertahun-tahun mengajar sejarah, ia lebih sering bepergian dari satu kota ke kota lain, mengisi kelas, menulis buku, dan berbicara tentang bagaimana sebuah masyarakat dapat menciptakan ketidakadilan sambil merasa sedang menjaga kebaikan.
Namun setiap beberapa bulan, ia pulang.
Tidak pernah lama.
Tetapi selalu cukup untuk duduk di teras rumah Nyi Raras.
Hanya saja, sekarang teras itu kosong.
Nyi Raras telah meninggal tujuh tahun sebelumnya.
Usianya sudah sangat tua.
Hari terakhirnya tidak dramatis.
Tidak ada kalimat terakhir yang terdengar seperti kutipan dari buku.
Tidak ada pesan rahasia.
Tidak ada rahasia baru.
Pagi itu Nyi Raras hanya meminta dibuatkan teh.
Kemudian meminta Jatmika membuka jendela.
"Aku ingin melihat pohon mangga."
Jatmika membukanya.
Pohon mangga itu sudah sangat besar.
Cabangnya melewati atap.
Daunnya membuat halaman menjadi teduh.
Nyi Raras memandangnya lama.
"Bagus."
"Apanya?"
"Masih hidup."
Jatmika tersenyum.
"Ya."
Nyi Raras kemudian tidur.
Dan tidak bangun lagi.
Seperti itu saja.
Tidak ada yang mengira kematian seseorang yang begitu lama menyimpan sejarah Wanasari akan sesederhana tidur pada sebuah pagi.
Tetapi mungkin justru itulah yang paling sesuai dengan dirinya.
Setelah puluhan tahun hidup dalam rahasia, Nyi Raras pergi tanpa meninggalkan rahasia baru.
Semua yang harus diketahui sudah diceritakan.
Semua yang harus dibuka sudah dibuka.
Semua yang harus dimintai maaf telah dimintai maaf.
Dan sebelum meninggal, Nyi Raras pernah mengatakan kepada Jatmika:
"Jangan jadikan kematianku alasan untuk mengingat kesalahanku saja."
Jatmika bertanya,
"Lalu harus mengingat apa?"
Nyi Raras tersenyum.
"Bahwa manusia bisa berubah."
Hari itu Jatmika kembali ke Wanasari untuk menghadiri sebuah acara.
Bukan acara besar.
Tidak ada pejabat dari kota.
Tidak ada wartawan.
Tidak ada spanduk raksasa.
Hanya peresmian ruang baru di sekolah.
Namanya:
Ruang Mirah.
Ruangan itu akan digunakan sebagai perpustakaan sejarah dan tempat anak-anak membaca.
Nama Mirah dipilih oleh para siswa.
Ketika kepala sekolah bertanya mengapa mereka memilih nama itu, seorang anak laki-laki menjawab,
"Karena Mirah pernah menjadi orang yang tidak boleh memilih."
"Kenapa?"
"Supaya kita tahu betapa pentingnya memilih."
Jawaban itu membuat Jatmika terdiam cukup lama ketika pertama kali mendengarnya.
Hari itu, ia berdiri di depan ruang tersebut.
Di atas pintu terdapat papan kayu.
RUANG MIRAH
UNTUK MEREKA YANG INGIN MENGETAHUI DARI MANA MEREKA BERASAL
Jatmika menyentuh papan itu.
Kemudian masuk.
Rak-rak buku memenuhi ruangan.
Sebagian besar buku baru.
Namun di sudut ruangan terdapat satu lemari kaca.
Di dalamnya ada salinan surat Mirah.
Tidak semuanya.
Hanya beberapa.
Salah satunya berbunyi:
Anak tidak boleh tumbuh dari kebohongan, tetapi anak juga tidak harus menanggung seluruh kebenaran orang tuanya.
Jatmika berdiri lama di depan kaca.
Ia masih ingat pertama kali membaca kalimat itu.
Dulu ia merasa ibunya sedang berbicara kepadanya dari masa lalu.
Sekarang ia tahu bukan hanya itu.
Mirah sedang berbicara kepada semua orang tua.
Tentang bagaimana cinta sering kali membuat manusia ingin menentukan masa depan orang yang dicintainya.
Tentang bagaimana rasa takut kehilangan dapat membuat seseorang memutuskan bahwa perlindungan lebih penting daripada kebebasan.
Tentang bagaimana seorang ibu pun dapat salah.
Tentang bagaimana seorang ayah pun dapat salah.
Tentang bagaimana seorang anak tidak seharusnya dijadikan tempat menebus kesalahan keduanya.
Jatmika mengusap kaca.
"Sudah selesai, Bu."
Tidak ada jawaban.
Tentu saja.
Tetapi untuk pertama kalinya, ia tidak merasa membutuhkan jawaban.
Di halaman sekolah, seseorang memanggilnya.
"Pak Jatmika!"
Ia menoleh.
Seorang perempuan muda berjalan ke arahnya.
Usianya sekitar dua puluh tahun.
Rambutnya diikat sederhana.
Ia membawa beberapa buku.
"Maaf membuat menunggu."
Jatmika tersenyum.
"Kau terlambat."
"Busnya mogok."
"Alasan klasik."
Perempuan itu tertawa.
"Pak, saya benar-benar datang dari kota sebelah."
"Namamu siapa?"
Perempuan itu mengulurkan tangan.
"Laras Wening."
Jatmika terdiam.
"Laras?"
"Ya."
"Nama yang bagus."
"Terima kasih."
Jatmika memandang wajahnya.
Ada sesuatu yang terasa akrab.
Bukan karena ia pernah mengenalnya.
Melainkan karena nama itu membawa banyak lapisan sejarah.
Laras.
Nama teman masa kecilnya.
Wening.
Nama yang pernah muncul dalam sejarah Wanasari dengan terlalu banyak cara.
Namun perempuan muda di hadapannya tidak membawa kesalahan siapa pun.
Ia hanya membawa namanya sendiri.
"Ayahmu siapa?"
Jatmika bertanya tanpa sengaja.
Perempuan itu tertawa.
"Pak, pertanyaan itu masih penting?"
Jatmika ikut tertawa.
"Maaf."
"Sekarang orang lebih suka bertanya apa yang saya kerjakan."
"Baik."
"Apa yang Pak Jatmika kerjakan?"
"Saya menulis."
"Sejarah?"
"Kadang."
"Novel?"
"Kadang."
"Kalau begitu saya ingin bertanya."
"Apa?"
"Kenapa orang-orang masih suka membaca tentang Wanasari?"
Jatmika memandang halaman sekolah.
Anak-anak sedang berlari.
Seorang guru perempuan memanggil murid laki-laki yang memanjat pohon.
Dua anak perempuan sedang bermain di bawah tangga.
Seorang anak laki-laki duduk membaca sendirian.
Semuanya tampak biasa.
Justru itu jawabannya.
"Karena Wanasari bukan cuma tentang Wanasari."
Laras muda menunggu.