Hujan malam itu turun tanpa henti, seolah langit ikut merasakan hancurnya hidupku. Di balik kaca jendela yang berembun, aku menatap kosong ke jalanan yang basah. Dulu, hujan selalu memberiku ketenangan. Kini, setiap tetesnya hanya mengingatkanku pada satu nama-Rich.
Dia datang bukan untuk menyapaku, bukan untuk menanyakan kabar setelah sekian lama. Rich datang membawa dendam. Dendam yang tak pernah kumengerti asal-usulnya, tapi menjadi pedang yang menusukku tanpa ampun.
Satu per satu, ia merenggut apa yang kucintai. Keluarga, mimpi, bahkan harapanku untuk bahagia. Aku berteriak, aku melawan, tapi suaraku selalu teredam oleh dinginnya amarah Rich. Baginya, penderitaanku adalah kepuasan.