Blurb
"Gue tetep nggak mau diwawancara, kecuali sama elo. Inget, ekskul jurnalistik itu bernaung di bawah OSIS. Jadi, keputusan OSIS mau ngasih dana produksi majalah sekolah atau enggak untuk bulan depan, semuanya tetap butuh tanda tangan gue. Ngerti?" tekan Raja, menatap Ratu dengan pandangan mengintimidasi.
"Itu namanya elo menyalahgunakan wewenang!" serang Ratu telak.
"Suka-suka gue," jawab Raja congkak.
Astaga Tuhan... berikanlah kesabaran ekstra untuk hamba-Mu yang cantik ini menghadapi Ethan si kepala batu! jerit batin Ratu, frustasi.
"Gue temenin mereka buat wawancara elo deh, gimana?" tawar Ratu, mencoba berkompromi.
"Nggak! Elo yang wawancara langsung, atau nggak usah ada edisi profil khusus gue sama sekali. Titik."
***
Teman-teman seangkatan mereka dibuat bingung setengah mati. Dulu saat duduk di bangku kelas 10, Raja Ethan Alexander dan Ratu Elena Alexandria adalah sepasang kepingan puzzle yang tak terpisahkan.
Namun, sebuah kesalahpahaman besar memaksa ego mereka berbalik arah, hingga keduanya memilih berpura-pura menjadi orang asing.
Kini di kelas 11, keadaan berbalik seratus delapan puluh derajat. Raja berdiri sebagai Ketua OSIS populer yang kaku, manipulatif, sekaligus hobi memaksa.
Sementara Ratu membentengi dirinya dengan rapat, bertransformasi menjadi 'Ratu Es' yang dingin dan tak tersentuh.
Demi melancarkan misi rahasianya, Raja mulai bertindak nekat. Menggunakan hak istimewanya, ia sengaja memblokade ruang gerak Ratu.
Siasatnya pun rapi: menjebak gadis itu agar mau mewawancarainya secara langsung demi kelangsungan ekskul jurnalistik.
Terjebak di antara pilihan menyelamatkan majalah sekolah atau mempertahankan benteng es di hatinya, Ratu akhirnya tersadar... kali ini, si kepala batu benar-benar tidak memberinya celah sedikit pun untuk melarikan diri.