Raja Batu Vs Ratu Es

Laela Almaidah
Chapter #1

Empati Sang Ratu

Hari ini Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) resmi dimulai.

Di dalam ruang Gugus 3, suasana mendadak riuh. Semua peserta sibuk berlarian ke segala arah, bergegas mencari teman untuk berpasangan secara acak sesuai instruksi panitia OSIS.

Namun di tengah kegaduhan itu, seorang pemuda tampak berdiri sangat mencolok. Postur tubuhnya tinggi dan berisi, jauh melampaui rata-rata anak seusianya. Sayangnya, ukuran tubuh yang bongsor itu terasa sangat kontras dengan pembawaannya.

Ia mengenakan kacamata minus berbingkai hitam, berdiri mematung sambil celingak-celinguk kikuk. Sorot matanya menyiratkan harapan kecil, berharap ada seseorang yang mau berjalan mendekat dan mengajaknya berpasangan.

“Tu, lu bareng siapa? Gue bareng Sarah, ya,” tanya Sindy, teman baru Ratu.

Gadis yang dipanggil Ratu itu tidak langsung menjawab. Sepasang matanya sejak tadi terkunci pada pemuda berkacamata di sudut ruangan, sosok yang terus diabaikan oleh orang-orang sekitar.

“Kenapa rasanya kayak lagi liatin diri sendiri yang transparan, ya?” gumam Ratu lirih, sepenuhnya mengabaikan pertanyaan Sindy.

Rasa sesak yang familiar mendadak menyengat dadanya. Dia tahu betul bagaimana perihnya menjadi sosok yang ada, namun tak terlihat.

Di rumah, orang tuanya selalu sibuk dengan urusan masing-masing. Ratu bahkan sudah lupa kapan terakhir kali mereka duduk bersama dan berbicara layaknya sebuah keluarga.

“Ratu!” teriak Sindy gemas karena merasa diabaikan. Lengkingan suara itu sukses membuat Ratu tersentak kaget.

“Ah? Iya? Kenapa?” tanya Ratu kikuk. Detik berikutnya, pandangannya kembali terlempar pada pemuda tinggi di sudut sana.

“Lu mau bareng siapa? Lagian dari tadi liatin siapa, sih?” tanya Sindy penasaran, ikut melempar pandang ke sudut ruangan.

“Oh... itu namanya Raja. Tadi pas kumpul di lapangan, diajak ngomong sama panitia aja kaku banget kayak patung. Makanya anak-anak cowok agak males ngajak dia. Takut nggak asyik,” ujar Sindy memberi tahu.

Ratu tertegun di tempatnya.

Cuma karena kaku doang, sampai nggak ditemenin? batin Ratu heran, sekaligus jengkel pada kedangkalan emosi orang-orang di sekitarnya.

“Oke, gue bareng dia,” putus Ratu final.

Sebelum Sindy sempat membuka mulut untuk mencegah, Ratu sudah melangkah mantap. Ia setengah berlari kecil, menghampiri meja paling belakang tempat pemuda itu terisolasi kesepian.

“Hai... udah ada pasangan belum? Bareng gue, mau?” tanya Ratu antusias, sengaja memasang nada suara seakrab mungkin.

Namun sedetik kemudian, ia merutuki dirinya sendiri. Pemuda di depannya hanya diam membeku tanpa reaksi.

Astaga Elena, kebiasaan banget ngomong dulu baru mikir! ringisnya dalam hati, meratapi impulsivitas diri.

Pemuda itu menatapnya dengan pandangan terkejut yang sulit diartikan. Ratu refleks menggaruk pipi kanannya yang tidak gatal untuk mengusir rasa canggung yang mendadak mencekik. Apa dia kesinggung, ya? Atau ngerasa keganggu?

Sementara itu, Raja masih terpaku. Ia sama sekali tidak menyangka, dari sekian banyak murid di kelas ini, ada seorang gadis mungil yang bersedia menghampirinya lebih dulu. Butuh beberapa detik bagi Raja hanya untuk menguasai rasa terkejutnya.

Namun bagi Ratu, jeda hening yang merayap itu sudah cukup untuk menyimpulkan bahwa ia baru saja ditolak mentah-mentah.

“Nggak mau, ya? Oke, nggak apa-apa,” ucap Ratu pasrah, mencoba memunguti sisa harga dirinya yang berceceran. Ia berbalik, membelakangi pemuda itu hendak kembali ke bangkunya.

“Mau.”

Satu kata itu terlontar singkat, namun cukup untuk membuat langkah Ratu seketika terkunci. Matanya membelalak kaget. Suara pemuda itu berat, dalam, dan terdengar teramat tegas untuk ukuran anak yang baru saja menginjakkan kaki di seragam SMA.

Gadis itu lantas berbalik dengan mata berbinar dan senyum yang merekah lebar.

“Oke! Kita pasangan sekarang. Kenalin, nama gue Ratu Elena Alexandria. Elo?” tanya Ratu sambil mengangsurkan tangan mungilnya. Sebagai sosok yang peka, Ratu paham betul kalau tipe lelaki pendiam seperti ini harus dipancing lebih dulu.

“Raja Ethan Alexander,” jawab Raja singkat. Tangan besarnya bergerak menyambut uluran tangan Ratu.

Lihat selengkapnya