Raja Batu Vs Ratu Es

Laela Almaidah
Chapter #2

Nama Kesayangan Kerajaan

Dengan gerakan cepat, gadis itu menuliskan jawaban ketiga di lembar kertas tugas mereka. Di ujung kanan atas kertas tersebut, nama mereka berdua kini tertulis bersisian rapi: Raja Ethan Alexander & Ratu Elena Alexandria.

Ratu menatap tulisan namanya sendiri selama beberapa detik. Guratan senyum ceria yang sejak tadi menghiasi wajahnya perlahan memudar, digantikan oleh sepasang tatapan kosong yang mendadak sayu.

“Sebenarnya… gue nggak suka dipanggil Ratu,” gumam Ratu tiba-tiba. Suaranya merendah, nyaris berbisik.

Raja yang sedang merapikan letak kacamatanya seketika menoleh dengan dahi berkerut bingung. “Kenapa?”

“Karena... itu tandanya gue cewek.”

Alis Raja bertaut makin dalam mendengar alasan tersebut. Tatapannya dipenuhi tanda tanya besar. “Ya... memang. Terus?”

Ratu menghela napas pendek. Matanya masih tertuju pada permukaan meja, enggan menatap lawan bicaranya. “Iya, tapi orang tua gue nggak mau anak cewek.”

Suasana di sekitar meja mereka mendadak hening. Sorak-sorai anak-anak lain di dalam kelas seolah teredam begitu saja oleh dinding tak kasat mata.

Raja membeku di tempatnya. Pemuda itu sama sekali tidak menyangka bahwa dibalik sifat ceria, berisik, dan ceplas-ceplos gadis di sebelahnya, ada luka tersembunyi yang sewaktu-waktu bisa menganga begitu saja.

Raja ingin merespons, namun lidahnya mendadak kelu. Ia tidak tahu harus merangkai kata seperti apa untuk menanggapi luka sedalam itu.

Menyadari keheningan yang merayap canggung, Ratu mendadak tersentak. Kesadarannya seperti ditarik paksa kembali ke realitas.

Eh, kenapa gue jadi malah oversharing sih?! jeritnya panik dalam hati. Fix, gue kayaknya dihipnotis Raja nih!

Demi menyelamatkan harga diri dan mencairkan suasana yang terlanjur beku, Ratu buru-buru tertawa renyah. Ia mencoba mengalihkan topik pembicaraan sekenanya.

“Eh, tapi lagian ya... kalau nama 'Ratu' dipotong tuh nggak estetik tau! Dipanggil 'Rat' kayak tikus, dipanggil 'Ra' atau 'Tu' juga kureng gitu kedengarannya,” oceh Ratu asal, berusaha keras mengembalikan citra dirinya yang santai dan humoris.

Raja meringis tipis, merasa takjub sekaligus heran melihat perubahan ekspresi Ratu yang terjadi secepat kilat. “Tapi yang lain manggil gitu dari tadi, lo tetep noleh?”

“Ya kan nama gue. Kalau dipanggil ya noleh lah, masa gue pura-pura budeg!” Ratu tertawa terbahak-bahak, merasa geli sendiri melihat kepolosan pertanyaan Raja.

Raja menghela napas pasrah sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Nggak jelas lo!”

Pemuda itu terdiam sejenak. Matanya melirik kembali ke arah kertas soal kelompok yang masih dipegang Ratu, mengeja deretan nama panjang Ratu dalam hati.

“Kalau Gue panggil Elena aja, gimana?” tawar Raja ragu-ragu.

Ratu seketika menghentikan tawa renyahnya, lalu menoleh dengan dahi berkerut. “Heh?”

“Nama belakang lo, Elena. Kalau dipotong jadi estetik. Bisa dipanggil El, bisa juga Lena. Gimana?” Raja menjabarkan alasannya, berusaha bersikap logis walau sebenarnya jantungnya mulai berdegup tidak karuan karena nekat meminta izin panggilan khusus.

Ratu tampak menimbang-nimbang sejenak. Detik berikutnya, sepasang matanya kembali berbinar cerah. “Boleh! Kalau gitu, biar adil. Gue manggil elo Ethan.”

Raja tertegun mendengar nama tengahnya diucapkan oleh Ratu dengan begitu fasih. Sudut bibirnya perlahan terangkat, membentuk sebuah senyuman tulus yang teramat jarang ia tunjukkan pada orang lain.

“Deal,” ucap Raja sambil mengulurkan tangan besarnya.

”Deal!” Ratu menyambut uluran tangan itu, lalu menjabatnya dengan mantap.


***


Lihat selengkapnya