Hari kedua MPLS berjalan terasa lebih cepat. Hubungan Raja dan Ratu yang baru terjalin sejak kemarin mulai terasa makin akrab.
Siang itu, Raja diperintah oleh Kak Bian untuk mengambil buku dari perpustakaan. Buku-buku paket pelajaran yang tidak terlalu tebal tersebut nantinya akan dibagikan kepada seluruh peserta di Gugus 3 yang berjumlah empat puluh orang siswa.
Berhubung perpustakaan berada di lantai dasar sedangkan kelas mereka ada di lantai dua, tugas itu tentu membutuhkan tenaga ekstra. Namun anehnya, anak lelaki lain di kelas tidak ada yang mau mengajukan diri untuk menemani Raja.
Saat Kak Dera meminta salah satu cowok untuk mengajukan diri menemani Raja, mereka malah memberikan alasan dengan nada yang meremehkan.
“Badannya paling gede, Kak. Pasti kuat dia bawa buku segitu sendirian,” celetuk santai salah satu peserta gugus, mengungkit masalah bentuk fisik.
Raja yang sudah berjalan ke arah pintu hanya bisa menunduk kikuk. Teman lelakinya itu benar. Tubuhnya memang jauh lebih besar dibanding teman-teman lelaki lainnya di gugus tersebut, termasuk jika dibandingkan dengan para kakak OSIS pembimbing gugusnya sendiri.
Ratu mendadak meradang mendengar celetukan tidak menyenangkan itu. Tanpa ragu, ia langsung mengangkat tangannya tinggi-tinggi lalu berdiri tegak dari kursi tempat duduknya.
”Kak, saya yang temenin. Fisik saya emang kecil, tapi lebih kuat dari cowok di sini,” jawab Ratu lantang.
Sepasang mata bulatnya menatap tajam ke arah siswa lelaki yang tadi melontarkan celetukan. Tatapan sinis yang menusuk itu seketika membuat si pelaku langsung terdiam, menunduk dalam tanpa berani berkutik lagi.
Sementara itu, Raja yang sudah berada di ambang pintu langsung menatap takjub. Ia memandangi sosok gadis mungil yang ternyata memiliki nyali jauh lebih besar dari ukuran tubuhnya sendiri. Raja sampai mematung di tempatnya berdiri.
Ia tidak menyangka, gadis mungil yang baru saja dikenalnya kemarin sudah berani menantang satu gugus demi membelanya. Untuk pertama kalinya di dalam hidup, ada seseorang yang memilih berdiri tegak di sampingnya, bukan orang yang mendorongnya dari belakang.
Tanpa menunggu persetujuan lebih lanjut dari kakak OSIS, Ratu dengan langkah mungilnya segera menghampiri Raja. Ia menarik pelan lengan pemuda bongsor itu agar bisa secepatnya keluar dari ruang kelas yang dirasanya menyesakkan itu.
“Ayo,” ajak Ratu riang.
Posisi ruang kelas mereka memang terbilang sangat strategis, tepat berada di samping koridor tangga utama. Begitu keluar pintu, mereka langsung berhadapan dengan anak tangga menuju lantai dasar, tempat perpustakaan sekolah berada.
“Kenapa nggak dilawan?” tanya Ratu saat mereka mulai menuruni tangga pertama.