Mereka berjalan beriringan dengan Raja yang secara tidak sadar memangkas langkah lebarnya demi menyamakan ritme langkah mungil Ratu agar gadis itu tidak merasa tertinggal olehnya.
Namun, saat sudah di depan tangga Ratu buru-buru menaiki dua anak tangga pertama mendahului Raja, gadis itu tiba-tiba membalikkan badan, menahan langkah Raja yang hendak menapakkan kaki naik ke tangga pertama.
“Tunggu…” pinta Ratu menghadang Raja.
Gerakan mendadak Ratu sempat membuat Raja menghentikan kaki panjangnya yang sudah siap menaiki undakan tangga pertama, tapi pemuda itu membatalkan niatnya dan kembali menurunkan kakinya ke bawah.
Pemuda itu menatap bingung ke arah gadis mungil yang kini berdiri sejajar dengannya, akibat perbedaan dua anak tangga yang setiap undakannya memiliki ukuran tinggi sekitar dua puluh sentimeter.
Mendengar suara riuh di belakang tubuhnya, Pemuda itu terpaksa bergeser mepet ke dinding tangga, menyerasikan posisinya dengan Ratu agar tidak menghalangi jalan sekelompok siswa lain yang sedang heboh berlarian naik ke lantai atas.
Ratu mulai menatap lekat kedua netra Raja ketika pemuda itu sudah berdiri tepat di depannya. Gadis itu mengunci pandangannya lurus pada mata Raja yang terbingkai kacamata minus. Di balik lensa itu, terpancar sorot mata yang sebenarnya sangat jernih dan tegas.
Meskipun sempat bingung, Raja juga ikut menatap lekat sepasang netra bulat milik Ratu, pemuda bongsor itu mulai menikmati tatapan teduh yang menenangkan dari binar hangat milik gadis mungil itu yang entah sejak kapan menciptakan rasa hangat yang menjalar di lubuk hatinya.
Namun, efek yang dihasilkan justru berbeda bagi Raja. Ditatap seintens itu dalam jarak sedekat ini membuat debaran jantungnya juga ikut berdegup kencang, bahkan semburat merah mulai muncul di pipinya yang putih.
Sementara Ratu yang terlalu sibuk mengagumi mata jernih milik Raja sama sekali tidak menyadari rona merah yang mulai membakar wajah sampai telinga milik pemuda jangkung di depannya. Gadis itu benar-benar tidak sadar bahwa tindakannya telah sukses membuat Raja tersipu malu.
Raja sampai harus menahan napasnya sendiri demi mengendalikan rasa salah tingkah yang luar biasa, meskipun dirinya juga tidak kuasa melepaskan pandangannya.
“Elo punya sorot mata yang tajam dan bisa mengintimidasi orang lain, sadar nggak?” celetuk Ratu tiba-tiba, masih fokus menatap retina cokelat gelap milik Raja.
Pemuda itu melongo dengan mulut setengah menganga, terkejut dengan hasil pengamatan gadis mungil di depannya, yang rela menaiki dua anak tangga hanya untuk bisa menatap matanya secara sejajar tanpa harus mendongak.
Gue kira apaan. Gue udah baper sendiri, El, diliatin gitu, batin Raja nelangsa.
Raja hanya bisa mengembuskan napasnya lelah. Pemuda itu mendelik tajam menutupi rasa kecewa pada dirinya sendiri. “Sok tau,” jawab Raja singkat demi menutupi rasa salah tingkahnya.