Kelas XI, semester 2.
Tok, Tok, Tok.
Pintu ruang guru diketuk pelan. Ketukan itu sukses membuat beberapa guru yang masih berada di dalam ruangan serempak menoleh ke arah ambang pintu.
“Permisi, saya dipanggil Pak Angga,” jawab Ratu dengan sopan.
Pak Angga, guru pembina ekskul Jurnalistik yang merasa namanya dipanggil, langsung mendongak dari tumpukan berkasnya. Begitu melihat siapa yang datang, beliau melambaikan tangan hangat.
“Oh, Ratu! Ayo, sini masuk,” panggil Pak Angga.
Ratu melangkah masuk, menghampiri meja Pak Angga yang terletak di sudut ruangan. Gadis itu melangkah dengan aura dingin, tenang, dan tegas yang mendominasi di sekitarnya.
“Ada apa ya, Pak?” tanya Ratu to the point setelah berdiri di depan meja kerja pak Angga.
Ia memang paling tidak pandai berbasa-basi, terutama di lingkungan sekolah yang terkadang terasa sangat melelahkan ini.
Pak Angga berdehem sebentar, lalu merapikan draf majalah sekolah di atas mejanya. “Gini, Tu. Pak Kepala Sekolah minta narasumber utama buat majalah sekolah edisi bulan depan diganti jadi... Raja Ethan,” Pak Angga memberi jeda sejenak, membuat kerutan di dahi Ratu semakin dalam.
“Kok bisa diganti gitu aja sih, Pak? Kan udah ada jadwalnya?” Ratu menaikkan sebelah alisnya bingung, menunggu kelanjutan kalimat sang guru.
Kontras terlihat bahwa gadis itu bingung sekaligus tidak suka dengan kabar mendadak ini.
“Dia lagi hangat-hangatnya dibicarakan karena kemarin baru menang olimpiade sains, padahal statusnya baru aja menjabat sebagai Ketua OSIS,” jelas Pak Angga hati-hati berharap Ratu akan mengerti situasi dan kondisinya.
“Kepala Sekolah sendiri yang minta khusus. Lagian, kalian juga dekat, kan?” tanya Pak Angga, menatap Ratu dengan pandangan berbinar penuh harap.
“Maksudnya?” Ratu mengernyitkan dahi dalam-dalam. Ia benar-benar tidak paham ke mana arah pembicaraan ini. Dekat? Itu kan dulu, saat mereka masih berada di kelas X. Sekarang jangankan dekat, mereka bahkan sudah berbeda kelas. Raja di kelas XI IPA 1, sedangkan Ratu di kelas XI IPA 2, meskipun kelasnya bersebelahan.