Langkah kaki Ratu yang menghentak keras di sepanjang koridor menuju ruang OSIS seolah menjadi bukti nyata dari kejengkelannya yang memuncak.
Setiap langkah itu diiringi oleh kilasan ingatan tentang bagaimana kelakuan nekat Raja akhir-akhir ini semakin berani dan berhasil mengunci ruang geraknya dengan rapat.
Pikiran Ratu berputar kembali pada kejadian di jam istirahat beberapa minggu yang lalu. Saat itu, Ratu melihat sekilas sosok Raja yang sudah tidak lagi aktif di ekskul basket sejak ujian kenaikan kelas, tiba-tiba saja turun ke lapangan untuk bermain basket, sepertinya pemuda itu ingin melepas kejenuhannya.
Kedatangannya tentu saja membuat area lapangan basket mendadak jauh lebih ramai dari biasanya. Bagaimana tidak, salah satu mantan tim inti klub basket yang tampan kembali bermain basket dan terlihat lebih mencolok dari yang lain.
Pemandangan di pinggir lapangan dipenuhi oleh barisan siswi yang berjejer rapi, memegang berbagai macam minuman dingin atau isotonik untuk sang Ketua OSIS yang tiba-tiba keluar dari "semedinya" di ruang OSIS.
Saat Raja mulai kehausan di tengah permainan, pandangannya langsung menyisir setiap sudut lapangan, mencari seseorang yang sebenarnya paling ia harapkan kehadirannya.
Gotcha!
Elo emang terbaik El, selalu ada pas gue lagi butuh. batin Raja senang melihat Ratu sedang melintas di pinggir lapangan dengan mata yang fokus menatap ponsel di tangan kiri, dan sebuah botol minum baru di tangan kanannya.
Pemuda jangkung itu buru-buru berlari dan menghadang langkah Ratu. Tanpa menyapa terlebih dahulu, Raja dengan santai merebut botol minum bersuhu normal milik Ratu.
Aksi kilat itu sukses membuat Ratu melotot kaget, menyaksikan Raja dengan santainya membuka tutup botol dan meminum isinya hingga tandas setengah botol tanpa izinnya lebih dulu, seolah-olah mereka masih sedekat dulu. Tapi kondisi sekarang berbeda, mereka tidak pernah terlihat dekat lagi seperti di kelas X.
Raja dengan tenangnya menuntaskan dahaga, membiarkan Ratu yang masih terkejut menatapnya horor dengan mulut setengah menganga karena syok.
Setelah puas minum, dengan wajah tanpa dosa Raja mengembalikan botol itu langsung ke tangan Ratu, ia sama sekali tidak memedulikan tatapan horor tadi sudah berubah menjadi setajam silet dari gadis mungil di depannya yang sudah bersiap menyemburkan lahar panas dari mulutnya.
Raja seolah tahu Ratu akan meledak jika ia terlalu lama berdiri di sana. Pemuda itu hanya melemparkan senyum manisnya, lalu kembali berlalu ke tengah lapangan sambil berteriak nyaring, "Entar gue ganti baru, El!" teriakan itu jelas membuat Ratu semakin melotot kesal karena belum sempat melayangkan protes sama sekali.