Kelas X, semester 1.
“Kita makan nasi goreng aja gimana?” tanya Ratu kepada Raja yang sejak keluar kelas berjalan bersisian dengannya.
Gadis itu mengetuk-ngetuk dagunya bingung. “Tapi gue juga pengen mi goreng,” gerutu Ratu galau, menimbang-nimbang menu makan siang mereka.
Namun, Ratu mendadak heran karena Raja sama sekali tidak merespons celotehannya. “Eh?”
Langkah kaki gadis itu seketika terhenti begitu menyadari bahwa Raja sudah tidak ada di sampingnya. Rupanya pemuda itu tertinggal di belakang, berdiri terpaku tepat di sisi lapangan basket outdoor.
Pemuda itu tampak fokus menatap beberapa siswa yang tengah berlarian memperebutkan bola orange yang memantul keras di atas lantai lapangan.
Ratu ikut terdiam, memperhatikan lekat-lekat sepasang mata Raja yang berbinar terang mengikuti arah bola yang dilempar ke sana kemari.
Ada binar bahagia yang terpancar tulus dari sorot mata di balik kacamatanya ketika bola orange itu meluncur masuk ke dalam ring dengan mulus.
Pemuda bongsor di depannya itu bahkan ikut tertawa senang melihat para siswa saling berpelukan melakukan selebrasi di tengah lapangan.
Girang banget lo, cuma liat orang main basket doang. Keliatan lebih ganteng lagi pas ketawa gitu, batin Ratu, mendadak terpesona menatap Raja yang masih terkekeh pelan.
Namun sedetik kemudian, Ratu melotot kaget pada dirinya sendiri. Dih, malah terpesona lagi! gerutunya dalam hati, berusaha menepis debaran aneh yang tiba-tiba menyergap.
Ratu akhirnya melangkah menghampiri Raja yang masih asyik melemparkan tawa senang. Ia bahkan tidak menyadari bahwa Ratu kini sudah berdiri tepat di depannya sambil melipat kedua tangan di dada.
Gadis itu dengan sabar menunggu sampai fokus Raja kembali padanya, tepat saat beberapa siswa mulai berhamburan keluar dari area lapangan karena permainan telah usai.
Raja tersentak, baru tersadar bahwa tujuan awalnya adalah pergi ke kantin bersama Ratu. Namun, begitu ia hendak melangkahkan kaki, jalurnya langsung dihadang oleh sosok gadis mungil di depannya yang tengah memasang senyum hangat.
“Loh?” Raja mengerjap terkejut.
“Suka basket?” tanya Ratu dengan senyum lembutnya, ikut merasa senang melihat tawa lepas Raja yang jarang terlihat.
Raja seketika menghentikan senyumannya. Ia menunduk kaku, lalu mengangguk pelan ia dengan raut ragu sebelum akhirnya mengusap tengkuknya dengan kikuk.
“Kenapa nggak nyoba ikut basket?” tanya Ratu masih mempertahankan senyum lembutnya.
Pertanyaan itu rupanya membuat wajah Raja seketika berubah sendu. Pemuda itu sempat melotot terkejut menatap Ratu dalam, namun ia kembali menundukkan kepala, mengembuskan napas berat, lalu menatap Ratu dengan senyuman tipis yang hanya bertahan sedetik sebelum akhirnya menghilang.