Bab 1
Malam turun di Kota Arwana.
Lampu-lampu gedung pencakar langit menyala seperti bintang yang jatuh ke bumi. Namun di balik gemerlap kota, ada dunia lain yang tidak pernah masuk berita.
Dunia yang dikuasai geng.Di kota itu terdapat beberapa organisasi besar. Masing-masing mempunyai wilayah, markas, ratusan anggota, dan sistem kepemimpinan sendiri.
Setiap geng memiliki lima sampai tujuh divisi.Setiap divisi mempunyai seorang ketua.
Namun semua ketua divisi hanya tunduk kepada satu orang:
pemimpin geng.
Di antara semua nama yang ditakuti di Kota Arwana, ada satu pemuda yang paling sering dibicarakan.
Namanya...
RAKA ADITYA.Usianya dua puluh tiga tahun.
Raka dikenal sebagai salah satu tangan kanan organisasi NAGA HITAM, geng yang memiliki hampir lima ratus anggota.
Namun ada sesuatu yang aneh tentang Raka.luar dunia geng, ia bukan pemuda yang kasar.
Ia sering membantu tetangga lanjut usia.
Ia membelikan obat untuk orang tua yang tidak mampu.
Ia bahkan sering memperbaiki atap rumah tetangganya tanpa meminta bayaran.
Dan ada satu hal yang hampir tidak diketahui anggota geng lain.Raka pandai bermain gitar.
Ia juga suka menulis puisi.
Tetapi malam itu, gitar kesayangannya tergeletak begitu saja di kamar.
Karena malam itu...
perang antar-geng akan dimulai.
MARKAS NAGA HITAM
Suara langkah kaki terdengar di lorong panjang.
BRAK!Pintu ruangan utama terbuka.
Seorang pria besar masuk dengan wajah penuh amarah.
"Ketua Divisi Tiga sudah diserang!"
Semua orang langsung berdiri.
Di ujung ruangan, Raka duduk dengan tenang.
Ia mengenakan jaket hitam.
"Siapa?" tanyanya.
"Geng Serigala Merah."
Ruangan mendadak sunyi.
Raka berdiri.
"Berapa orang?"
"Lebih dari seratus."Raka mengambil jaketnya.
"Suruh Divisi Satu dan Dua bersiap."
Seorang anggota terkejut.
"Raka, kalau kita turun semua, perang besar bisa terjadi."
Raka menatapnya.
"Perang sudah dimulai sejak mereka menyerang orang kita."
Ia berjalan menuju pintu.
Namun sebelum keluar, pemimpin Naga Hitam berkata,"Raka."
Raka berhenti.
"Jangan sampai ada warga sipil yang menjadi korban."
Raka mengangguk.
"Kalau bisa, aku ingin masalah ini selesai tanpa ada yang mati."
MARKAS SERIGALA MERAH
Di tempat lain, puluhan kendaraan berhenti di depan sebuah gudang tua.
Para anggota Serigala Merah turun.
Di dalam gudang, pemimpin mereka, DION, sedang berbicara dengan beberapa ketua divisi."Raka pasti datang."
Salah satu ketua divisi tertawa.
"Bagus. Sudah lama aku ingin menghadapinya."
Dion hanya tersenyum.
Namun seseorang berdiri di belakangnya.
Pria itu mengenakan pakaian mahal.
Namanya Bram.Ia bukan anggota biasa.
Bram mempunyai hubungan dengan beberapa orang berpengaruh di dunia politik kota.
Ia menatap Dion.