Pagi datang setelah malam yang penuh keributan.
Kota Arwana kembali terlihat normal.
Orang-orang pergi bekerja. Anak-anak berangkat sekolah. Pedagang membuka toko.
Tidak seorang pun tahu bahwa beberapa kilometer dari pusat kota, dua geng besar hampir memulai perang terbuka.
Namun bagi Raka, pagi itu terasa berbeda.
Ia duduk di teras rumah sederhana milik ibunya sambil memetik gitar.
Alunan musik pelan memenuhi halaman.
Ibunya, Bu Sari, keluar membawa dua cangkir teh."Sejak kapan kamu pulang?"
"Subuh, Bu."
Bu Sari menghela napas.
"Kamu berkelahi lagi?"
Raka tersenyum.
"Sedikit."
"Raka..."
Senyumnya menghilang.
Bu Sari duduk di sampingnya.
"Ibu tidak takut kamu pulang membawa luka. Ibu lebih takut suatu hari kamu tidak pulang sama sekali."Raka menundukkan kepala.
"Aku akan baik-baik saja."
"Janji?"
Raka menatap ibunya.
"Janji."
Bu Sari mengusap rambut anaknya.
"Kalau begitu, jangan lupa satu hal."
"Apa?"
"Sejahat apa pun dunia di luar sana, jangan biarkan dunia membuat hatimu ikut jahat."
Raka terdiam.Kalimat itu terus terngiang di kepalanya.
SEBUAH TOKO BUKU
Siang harinya, Raka datang ke sebuah toko buku kecil.
Tempat itu milik sahabat lamanya, Dimas.
Dimas sedang menyusun buku ketika Raka masuk.
"Orang penting datang!"Kalimat itu terus terngiang di kepalanya.
SEBUAH TOKO BUKU
Siang harinya, Raka datang ke sebuah toko buku kecil.
Tempat itu milik sahabat lamanya, Dimas.
Dimas sedang menyusun buku ketika Raka masuk.
"Orang penting datang!"Raka tertawa.
"Berisik."
Dimas melihat wajah Raka.
"Semalam kamu terlibat perang lagi?"
"Kenapa semua orang tahu?"
"Karena wajahmu seperti habis menabrak tembok."
Raka duduk.
"Aku bertemu seseorang."
Dimas berhenti bekerja.
"Perempuan?"
Raka diam.
Dimas langsung tertawa.
"Astaga! Raka jatuh cinta!""Jangan ngawur."
"Namanya?"
Raka mengambil sebuah buku puisi.
"Alya."
Dimas tersenyum.
"Jadi selama ini yang bisa membuat Raka diam bukan ketua geng, bukan polisi, tapi perempuan?"
Raka melempar bantal kecil ke arahnya.
PERTEMUAN KEDUA
Sore itu Raka pergi ke sebuah taman.
Ia tidak menyangka akan melihat Alya duduk di bangku.
Alya sedang membaca.
Raka mendekat.
"Kamu mengikuti aku?"Alya menutup bukunya.
"Justru aku yang mau bertanya."
"Apa?"
"Kamu yang mengikuti aku?"
Raka tertawa.
"Berarti kita impas."
Alya tersenyum.
Mereka duduk bersama.
"Aku mau mengembalikan jaketmu."