RAJA JALANAN DAN GADIS BERHATI CAHAYA

Jordi leko
Chapter #3

BAB 3: JEBAKAN DI BALIK SENYUM ALYA

Malam telah berganti pagi.

Raka berdiri di depan cermin sambil merapikan kemejanya.Di atas meja terdapat selembar kertas.Sebuah puisi yang ia tulis semalam.

"Aku pernah berjalan tanpa arah,berteman dengan gelap dan amarah.Lalu kau datang tanpa banyak bicara,membuatku ingin pulang kepada cahaya."Raka tersenyum membaca tulisannya sendiri.

Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia merasa mempunyai alasan untuk berubah.

Namun di luar rumah, sebuah mobil hitam sudah menunggunya.

PERINTAH DARI MARKAS

Raka tiba di markas Naga Hitam.Lima ketua divisi sudah berkumpul.

Pemimpin mereka berdiri di depan meja besar.

"Kita mendapat informasi tentang gudang Serigala Merah."

Raka bertanya,

"Lokasinya?"

"Pelabuhan tua."

Raka mengerutkan kening.

"Berapa orang?"

"Belum diketahui."

Ketua Divisi Empat, Bayu, langsung berkata,

"Kalau begitu kita kirim semua divisi."

Raka menggeleng."Jangan."

Semua menoleh.

"Kenapa?"

"Karena seseorang sedang sengaja membuat kita bertarung."

Reno mencibir.

"Kau terlalu banyak berpikir sejak mengenal perempuan itu."

Raka menatapnya.

"Jangan bawa Alya ke sini."Reno tersenyum.

"Kenapa? Takut?"

Raka maju selangkah.

"Aku hanya tidak ingin urusan pribadi menjadi urusan geng."

Pemimpin mereka akhirnya memutuskan.

"Raka memimpin Divisi Dua. Cari informasi. Jangan memulai perang."

Raka mengangguk.

"Baik."

DI TEMPAT LAINAlya duduk sendirian di sebuah kafe.

Ponselnya bergetar.

Satu pesan masuk.

"Jangan terlalu dekat dengan Raka."

Alya menatap pesan itu lama.

Kemudian menghapusnya.

Beberapa detik kemudian pesan kedua masuk.

"Kau tahu apa yang akan terjadi jika kau gagal."Wajah Alya berubah pucat.

Tangannya gemetar.

Seorang pelayan datang.

"Mbak, pesanannya."

Alya segera menyimpan ponselnya.

"Terima kasih."

Ia berusaha tersenyum.

Namun matanya menyimpan ketakutan.Ternyata ada sesuatu yang tidak pernah ia ceritakan kepada Raka.

RAHASIA ALYA

Sore hari, Raka menemui Alya di taman.Alya tersenyum seperti biasa.

"Kamu datang."

Raka menyerahkan selembar kertas.

"Apa ini?" tanya Alya.

"Puisi."

Alya membacanya.

Kemudian tersenyum.

"Bagus."

Raka duduk di sampingnya.

"Alya."

"Hmm?"

"Aku ingin bertanya sesuatu."

Alya menatapnya."Apakah kamu benar-benar baik-baik saja?"

Senyum Alya perlahan menghilang.

"Kenapa bertanya begitu?"

"Entahlah. Aku merasa ada sesuatu yangAlya menundukkan kepala.

"Aku hanya punya masalah keluarga."

Raka tidak memaksa.

"Kalau suatu hari kamu butuh bantuan..."

Ia berhenti.

"...telepon aku."

Lihat selengkapnya