Ratusan tahun setelah kerajaan-kerajaan besar kehilangan tembok, panji, dan batas wilayahnya, orang-orang masih mengingat satu cerita.
Mereka mungkin tidak lagi tahu di mana letak Pengging.
Mereka tidak dapat menunjukkan jalur yang dahulu menghubungkan Baka dengan Mandaraka. Nama Kendalisada hanya bertahan dalam nyanyian para pandai besi, sedangkan Watu Ireng bahkan tidak tercantum di sebagian besar peta kerajaan lama.
Namun, hampir semua orang mengenal nama Bandung Bondowoso.
Penakluk yang memerintah bangsa jin.
Lelaki yang membangun seribu candi dalam satu malam.
Dan putri cantik bernama Roro Jonggrang yang berubah menjadi batu karena menolak cintanya.
Cerita itu disampaikan berulang kali, dari mulut para pendongeng, dari daun lontar yang disalin para juru tulis, hingga dari panggung-panggung kecil di pasar malam. Bagian-bagiannya mungkin berubah. Akhirnya tetap sama.
Bandung membangun candi. Roro menipunya.
Bandung murka. Roro menjadi arca.
Pada malam peringatan berdirinya kerajaan baru di sebelah timur lembah, kisah itu kembali diceritakan di hadapan ratusan orang.
Balairung istana penuh sesak. Para bangsawan duduk di bagian depan dengan pakaian terbaik mereka. Saudagar, prajurit, petani, dan anak-anak memenuhi tempat yang disediakan di belakang tiang-tiang besar. Mereka datang bukan hanya untuk mendengar legenda, tetapi juga untuk melihat seorang pencerita kerajaan yang terkenal karena mampu membuat orang merasa seolah sedang menyaksikan peristiwa masa lalu.
Pencerita itu berdiri di tengah balairung dengan tongkat kayu berukir di tangan.
Di belakangnya tergantung kain besar bergambar deretan candi yang diselimuti kabut.
Ia menghentakkan ujung tongkat ke lantai.
“Pada malam ketika bulan bersembunyi,” katanya, “Bandung Bondowoso memanggil para jin dari gunung, sungai, dan tanah yang tidak pernah disentuh manusia.”
Anak-anak di belakang langsung merapat kepada orang tua mereka.
Suara sang pencerita menurun menjadi bisikan.
“Batu-batu bergerak tanpa disentuh. Tanah terbelah. Bangunan menjulang satu demi satu. Sebelum tengah malam, ratusan candi telah berdiri.”
Tangannya terangkat, seolah sedang memerintahkan pasukan yang tak terlihat.
“Roro Jonggrang ketakutan. Ia tahu Bandung akan menyelesaikan syarat yang diberikannya. Maka ia memerintahkan para perempuan menumbuk lesung, membakar jerami, dan membangunkan ayam sebelum waktunya.”
Beberapa penonton tersenyum. Bagian itu sudah mereka hafal.
“Saat suara lesung memenuhi lembah dan cahaya merah muncul di langit timur, para jin mengira fajar telah tiba. Mereka meninggalkan pekerjaan. Satu candi belum selesai.”
Tongkat kayu kembali menghantam lantai.
“Bandung menyadari bahwa dirinya telah ditipu.”
Kain di belakangnya ditarik. Gambar deretan candi berubah menjadi bayangan seorang perempuan yang berdiri sendirian.
“Dalam kemarahannya, Bandung mengutuk Roro Jonggrang menjadi batu. Sang putri menjadi arca terakhir yang menyempurnakan jumlah candi.”
Balairung hening.
Pencerita menundukkan kepala, kemudian mengangkat wajah dengan ekspresi sedih yang telah dilatihnya selama bertahun-tahun.
“Begitulah cinta seorang penakluk berubah menjadi kutukan. Begitulah seribu candi berdiri sebagai peringatan bahwa janji tidak boleh dipermainkan.”
Tepuk tangan memenuhi ruangan.
Anak-anak bersorak. Para bangsawan mengangguk puas. Seorang pejabat bahkan berdiri untuk memuji ketepatan sang pencerita dalam menyampaikan kisah yang tercatat di arsip kerajaan.
Di antara kerumunan, hanya satu orang yang tidak bertepuk tangan.
Seorang lelaki tua duduk di dekat pintu, mengenakan kain kasar berwarna gelap. Rambutnya memutih seluruhnya. Punggungnya sedikit membungkuk, tetapi matanya masih tajam.
Di tangannya terdapat tongkat batu hitam yang permukaannya telah aus.
Seorang prajurit penjaga memperhatikannya.
“Orang tua,” tegurnya, “kau tidak menyukai pertunjukannya?”
Lelaki tua itu diam sesaat.
Ia memandangi gambar Roro Jonggrang yang masih tergantung di belakang pencerita. Setelah itu, pandangannya berpindah ke ukiran kecil Bandung Bondowoso pada salah satu tiang balairung.
“Aku lebih suka cerita yang lengkap,” katanya.
Prajurit itu menyipitkan mata. “Kisah tadi diambil dari catatan resmi.”
“Nah, itu masalahnya.”
Beberapa orang yang duduk di sekitar mereka menoleh.
Prajurit itu melangkah mendekat. “Jaga ucapanmu. Kau sedang berada di dalam istana.”
Lelaki tua tersebut mengetukkan tongkatnya sekali ke lantai.
Suara yang dihasilkan tidak keras, tetapi cukup membuat orang-orang terdekat diam.